Membaca dan Menulis adalah Tuntutan Hidup

Posted by ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan on 17.53 with 1 comment


Bukan isu atau kabar angin, bila kegiatan membaca dan menulis merupakan sebuah beban berat dan kerap dianggap sebagai kegiatan yang tidak menyenagkan bagi sebagian besar orang, hal tersebut nampaknya menjadi sebuah permasalahan yang timbul dikalangan kita. Pada hal kegiatan tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam aspek kehidupan kita serta dapat menjadi penunjang atas kesuksesan kita dimasa depan.

Menulis dan membaca merupakan cara berkomunikasi tidak langsung sedangkan berbicara merupakan komunikasi secara langsung. Kedua kegiatan tersebut seringkali kita anggap sepele serta membuat kita malas, namun pada akhirnya menimbulkan penyakit mental akibat ketidak pecayaan diri (PD) yang sering datang menghantui kita. Rasa malas untuk menulis (dan juga membaca) memang merupakan masalah mental yang menjadi penyaklit akut yang dimiliki hampir oleh semua orang, namun karena mental yang kurang bagus tersebut akhirnya keinginan tersebut hanya tinggal angan-angan saja. 

Rasa malas biasanya lebih banyak disebabkan karena kurangnya motifasi dalam diri seseorang. Untuk itu, perlu diberikan motivasi kepada mereka agar tergugah untuk membuat tulisan yang juga dapat menuntut mereka untuk membaca. Selain itu, bagi para dosen salah satu usaha mengatasi kemalasan dikalangan mahasiswa dalam menulis adalah dengan memberi mereka tugas menulis, baik menulis makalah, membuat paper, resensi buku, menulis laporan dan tidak menuntut kemungkinan kegiatan tersebut jua berawal dari membaca. Seorang penulis terkenal pernah menuturkan bahwa tidak mungkin seorang dapat menjadi penulis atau pengarang kalau tidak suka membaca. 

Memang benar, bahwa membaca seperti kalau kita sedang mengumpulkan memori, dengan semakin banyak membaca berarti kita memiliki memori yang kolektif. Dan pada akhirnya wawasan kita menjadi betambah sebagai modal yang dapat menuntut kita untuk mengekspresikannya dalam bentuk tulisan. Begitu pula sebaliknya Jika proses menulis tidak ditunjang dengan aktivitas membaca, maka informasi yang diterima sangat terbatas. Kondisi tersebut akan mempengaruhi proses transmisi informasi dari otak ke tangan ketika menulis, akibatnya sering kita jumpai ketidaklancaran dalam menuangkan gagasan/ ide kedalam tulisan dan berakibat pada pengembangan bahasa ketika kita menulis dapat terhambat, tulisan tidak mengalir dengan lancar, tidak sedap dibaca dan susah untuk dicerna ketika dibaca. 

Untuk mengatasi berbagai kesulitan yang ditemui, maka sebaiknya seorang mahasiswa disarankan untuk lebih banyak membaca dan membaca. Karena dengan membaca dapat memcahkan persoalan, dengan demikian kegiatan menulis memang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan membaca. Untuk dapat menulis dengan baik, maka seseorang harus dituntut untuk banyak membaca sebagai penunjang dalam proses penuangan gagasan cemerlang dalam bentuk tulisan. 

Oleh sebab itu, antara aktivitas membaca dan menulis keduanya sangat penting dan tidak dapat kita pisahkan. Karena gaya tulisan pada kreatifitas pengarang, syarat utamanya yaitu aktivitas membaca. Itulah sebabnya, Stephen Krashen (dalam Hernowo 2003) mengatakan bahwa menulis yang baik hanya dapat diwujudkan dari dari orang yang banyak membaca. Lebih lanjut dikatakan bahwa kekhasan dalam menulis bukan dibentuk dari aktivitas menulis, tapi oleh aktivitas membaca. Bagi orang yang senang membaca, pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat. Karena ilmu pengetahuan terbaru pun banyak yang dijabarkan dalam bentuk tulisan, dengan membaca pula, rasa ingin tahu seseorang akan meningkat pesat. Dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi, secara tidak langsung akan menimbulkan keinginan bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuan diri. Peningkatan kemampuan diri sama halnya dengan peningkatan taraf hidup dan pola pikir. Jika seluruh masyarakat dalam sebuah bangsa dapat mengalami fase ini, bangsa itu pasti akan cepat mengalami kemajuan dari berbagai bidang keilmuan dalam kehidupannya. 

So.., untuk menyikapi hal tersebut, perlu diadakan sebuah gerakan minat baca. Gerakan ini dapat kita upayakan meski minat baca dikalangan kita, khususnya sebagian mahasiswa masih memprihatinkan. Karena kegiatan membaca dan menulis pada dasarnya adalah pekerjaan hati, kemauan hati. Hal yang akan dibaca lalu ditulis bergantung sepenuhnya pada kemauan individu tersebut, jadi intinya hanyalah masalah kemauan saja, karena dimana ada kemauan, maka disana terdapat jalan untuk memulai suatu perubahan hidup, tiada kata terlambat untuk memulai.

Oleh: Mukhlis
*Mukhlis adalah Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat