ALUS DIY

15 Januari 2021

SENDIRI


Oleh: Mirza Anisa

Kami bermain dengan gejolak perasaan sendiri

Masing-masing memendam sendiri

Berpolah semau diri

 

Air mata jatuh dalam bisu

Kemelut seakan tak punya titik temu

 

Tak ada kata untuk bicara

Karena yang dirasa selalu hanya itu saja

Latar dan tokoh yang sama

 

Paling sebentar lagi kayangan jatuh

Kerajaan bidadari runtuh

 

 

 

 

 

 

10 Januari 2021

Pustakawan Plus: "Double Skill: A Professional Librarian and Quality Writer"

 


Pada hari Sabtu, 09 Januari 2020, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan melaksanakan salah satu program kerja dari Devisi Pengembangan Profesi, yaitu Pustakawan Plus. Pustakaaan Plus pada tahun ini, diselenggarakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting dan live youtube, mengingat adanya pandemi Covid-19 di Indonesia. Pustakawan Plus kali ini mengadakan kegiatan Webinar mengenai kepenulisan. Dengan mengangkat tema "Double Skill: A Professional Librarian and Quality Writer". Acara Webinar dipandu oleh Husna Amalia dari devisi Pengembangan Profesi selaku MC, dan dibuka dengan sambutan-sambutan oleh Ketua Panitia yakni Elisa Nurul, dan Ketua Umum Alus DIY periode 2020/2021 Ulfatun Madya.

Webinar Kepenulisan ini menghadirkan Bapak Dr. Mukhlis S.IP,MI.P selaku pemateri pada kegiatan Webinar ini. Bapak Dr. Mukhlis S.IP,M.IP sendiri merupakan Dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Brawijaya. Pada kesempatan ini beliau memaparkan penjelasan mengenai "Karya Tulis Ilmiah: Identitas, Tuntutan, dan Simbol Keilmuan". Dimana penjelasan yang diberikan oleh Bapak Dr. Mukhlus S.IP,M.IP tentunya sangat bermanfaat dalam dunia kepenulisan bagi para peserta yang mengikuti Webinar.


Para peserta Webinar kali ini juga tampak antusias menyimak dan mengikuti penjelasan pemateri dari awal hingga akhir acara dengan baik dan tertib. Pada akhir acara Webinar kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta Webinar dan pemateri via zoom meeting maupun youtube. Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kegiatan Webinar ini diharapkan dapat menjadi bekal peserta di dunia kepenulisan kedepannya.

 

Permainan Angka


Angka yang terus berfluktuasi

Bergoyang

Berirama

Selaras dengan alunan suara riuh dangdutan tetangga

Angka apa ini? Pikirku

Hingga kini pun  aku belum memahaminya

Apalah itu perencanaa anggaran

Apalah itu laporan kegiatan

Apalah itu rapat babibu yang tak kenal waktu

Kata mereka ini adalah simbiosis mutualisme dalam birokrasi

Lantas kucoba terjun kedalam birokrasi antah berantah

Yah, rupanya ruwet dan rumit rupanya alur birokrasi

Mengatur lakon yang tak mau diatur

Memikirkan yang enggan dipikir

Memperjuangkan yang tak menganggap dirinya diperjuangkan

Ah, jauh melebihi patah hati berkali-kali dalam romantisme anak muda rupanya

Namun, masih saja aku tergoda terjun di dalamnya

Mencari fluktuasi angka yang selama ini kucari

Lalu apa yang kudapati?

Hah, sudahlah

Aku belum tahu apa-apa

Aku belum memahami angka-angka unik

Yang kata orang sudah diatur dengan cantik

Diatur katanya?

Kalau bisa diatur, tentu keteraturanlah yang dipilih

Bukan keruwetan dan ketidakpastian seperti yang terjadi selama ini

Lalu?

Sedang apa aku ini?

Hahaha, Aku?

Tentu saja sedang bermain peran dalam sandiwara permainan angka

Tanpa kutahu kapan akan berakhir

Seperti kata orang-orang, hidup sekedar sandiwara bukan?

Bila bukan sandiwara dari Sang Alam, maka biarkanla Sang Sutradara mengatur sandiwaraku

Persetan dengan angka-angka yang kupusingkan itu

Toh, ia berfluktuasi atau tidak, tugasku adalah untuk terus bersandiwara dalam hidup

Sampai waktuku untul bermain berakhir

 

Muhamad Salim. Kebumen, 2020.

2 Januari 2021

Kata Siapa?


Oleh Agvika Naralia

 

Sebilah kata tertancap di mata

Punya siapa?

Katamu tak tahu

“Aku menghujanmu dengan Rasa, bukan Kata”

 

Aku tertunduk menanti pemiliknya,

lama hingga menghitam jua.

Lara ini membekas di mata

Kata masih tertancap di mata.

 

Engkau berlalu,

Setelah itu,

Kau mati,

Bukan terhantam bijih senapan,

Kau terlalu banyak menenggak lara,

Bersama kata yang tertancap

di mata..

 

Lantas, kata ini punya siapa?


Resensi Buku " Tan Malaka Putra Bangsa yang Terlupakan"

 


Judul buku      : Tan Malaka Putra Bangsa yang Terlupakan

Penulis            : Novi Fuji

Penerbit           : Sociality

Tahun Terbit   : 2017

Kota Terbit      : Yogyakarta

ISBN               : 978-602-6673-31-4

 

            Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, atau lebih kita kenal dengan nama Tan Malaka. Seorang pahlawan nasional kelahiran Desa Nagari Pandan Gadang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limo Puluh Koto, Payakumbuh, Sumatera Barat tahun 1896. Sejak kecil Tan Malaka sudah di didik dengan ajaran Islam dengan secara ketat karena itu juga merupakan  tradisi masyarakat dari Minangkabau yang religious. Pada tahun 1913, Tan Malaka berhasil menyelesaikan sekolah keguruannya di Kweekschool Bukit Tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, Tan Malaka melanjutkan pendidikannya di Belanda. Selama di Belanda, pengetahuan tentang Revolusi mulai berkembang, dan semakin dalam setelah membaca buku de Fransche Revolutie yang membuka pikiran kritisnya. Pada bulan November 1919, Tan Malaka berhasil menyelesaikan sekolah keguruannya di Belanda. Selama 6 tahun berada di Belanda, Tan Malaka merasakan perubahan pada dirinya, kemudian ia tulis dalam buku autobiografi “Dari Penjara ke Penjara”. Karena memiliki pemikiran yang revolusioner, Tan Malaka mengalami pengasingan, hidup berpindah-pindah dalam pelarian.Banyak negara-negara selain Belanda yang pernah ia singgahi dan tinggali, diantaranya Rusia,Filipina, Cina, Singapura.

            Revolusi menurut Tan Malaka yang dimana revolusi tidak lahir dari sebuah gagasan manusia, revolusi lahir atas perubahan sosial ketika terjadi pertentangan kelas yang tajam yang disebakan oleh faktor ekonomi, sosial, politik, dan psikologis. Konsep revolusi Tan Malaka terinpirasi dari Karl Marx dan hanya berbeda pandangan dalam apa yang dihasilkannya. Konsep pendidikan menurut Tan Malaka adalah usaha sadar dan terenacana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengembangan diri, kepribadian, kecerdasan, dll. Tan Malaka juga menjadi guru untuk mendidik para siswanya.

            Menjelang kemerdekaan Tan Malaka menyembunyikan dirinya dari publik dan tetap memilih bersembunyi dengan identitas Ilyas Hussein, karena harus waspada karena tercatat sebagai orang buangan dan pelarian. Dengan nama samarannya, Tan Malaka masuk dunia politik saat sebelum kemerdekaan. Menjelang kemerdekaan, Tan Malaka yang sedang menyamar sebagai Hussein tidak tahu soal rencana tentang menculik soekarno ke rengasdengklok. Saat proklamaasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, Tan Malaka pun tidak mengetahuinya, hal itu menyebabkan kekecewaan baginya. Pasca kemerdekaan, Tan Malaka pernah bertemu dengan Soekarno secara privasi untuk membahas gagasannya tentang republik tetapi soekarno masih baru dengan hal tersebut. Tan Malaka pernah ditawari kursi jabatan tetapi beliau menolak karena ingin menyongkong dari belakang dan mengerahkan rakyat dari belakang untuk mendukung negara. Karya- karya Tan Malaka yaitu berjudul Merdeka 100 persen, Naar De Rebupliek Indonesia, dan Madilog

Resensi Novel LOVE IS FRIENDSHIP

 


Ketika cinta bertepuk sebelah tangan,

persahabatan adalah sandaran yang paling setia

( Witri Prasetyo Aji )

            Salsa, Shila dan Tora mereka bertiga saling bersahabat. Memiliki perbedaan karakter, membuat persahabatan mereka nampak begitu sempurna. Salsa sang primadona sekolah yang selalu menjadi magnet kaum adam, Shila yang biasa saja, dan Tora sang kutu buku yang kerap disebut ‘banci’.

            Meskipun Salsa selalu dikejar banyak cowok, ternyata Salsa selalu menolak mereka semua. Alasannya karena satu yakni Evan yang berhati batu yang cuek atas cinta yang diberikan Salsa, membuat Shila dan Tora tak menyukai Evan. Bagi Shila mantan sahabat kecil Evan dan Tora, Evan selalu jual mahal.

            Salsa sadar, kedua sahabatnya tak menyukai sikapnya yang terlalu agresig mengejar cintanya Evan. Tapi apa boleh dikata, salsa cinta mati pada Evan dan tak peduli dengan nasehat-nasehat sahabatnya.

            Salsa merasa sahabat-sahabatnya tak pernah mengertinya. Hingga di sekolahnya ada siswa baru yang bernama Faya. Bagi Salsa, faya yang pendiam itu mengertinya karena mau mendengarkan isi hatinya dan menyetujui hubungannya dengan Evan. Bahkan Faya bersedia mencomblangkan Salsa dengan Evan.

            Salsa sangat percaya pada Faya yang baru dikenalnya. Hingga Salsa menjauhi kedua sahabatnya, Shila dan Tora.

            Besar harapan Salsa bahwa Faya akan berhasil mencomblangkan dengannya. Bahkan, begitu kuat kepercayaan yang Salsa berikan kepada Faya. Salsa yang gampang cemburu pun begitu santai melihat Evan jalan berdua bersama Faya. Karena Salsa yakin, kedekatan Evan dan Faya adalah salah satu trik Faya untuk mempersatukan Salsa dan Evan.

            Tapi yang namanya cinta, siapa yang mampu menolaknya. Dekat dengan Evan dan sering jalan berdua bersama Evan telah menumbuhkan benih-benih cinta di hati Faya. Apalagi Evan dan Faya mempunyai cerita keluarga yang hampir sama, tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.

 

            Shila dan Tora tau tentang kedekatan Evan dan Faya yang tak wajar, meski sebenarnya Evan hanya kasian pada Faya karena mempunyai kisah yang hampir sama. Tapi Tora dan Shila tak peduli itu, mereka tetap bicara pada salsa bahwa evan dan faya mengkhianati kepercayaan salsa. Salsa tak percaya.

            Hingga suatu ketika, salsa membaca buku diary Faya yang ternyata berkisah tentang isi hati Faya pada Evan. Salsa merasa dikhianati. Dia memutuskan pertemanannya dengan Faya dan membuang jauh-jauh rasa cinta nya pada Evan. Tak peduli dengan Evan dan Faya yang berusaha menjelaskannya.

            Dan ditengah lukanya itu, Salsa akhirnya kembali pada Tora dan Shila, sahabatnya yang sesungguhnya.

            Hari pun terus berlalu. Tak terasa masa SMA mereka akan berakhir. Salsa masih belum bisa memaafkan Evan dan Faya. Tapi Evan tak peduli itu. Di malam perpisahan sekolah, Evan mengungkapkan perasaanya selama ini pada Salsa. Tapi, Salsa menolaknya.

            Dan paginya, Salsa meninggalkan Jakarta menuju Sidney. Tora yang sebenarnya selama ini menyimpan rasa pada Salsa, memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya pada Salsa. Tapi sayang Salsa hanya menganggap Tora sebatas sahabat saja. Sementara Shila yang sedang jatuh hati pada Tora, menyimpan lukanya dalam-dalam ketika melihat Tora mengungkapkan perasaanya pada Salsa. Sementara itu, Evan yang berniat bertemu dengan Salsa di hari kepergian Salsa, justru mengalami kecelakaan hebat dan mengalami kelumpuhan.

            Lima tahun berlalu..

            Salsa kembali ke indonesia. Hatinya masih tetap samaa, mencintai Evan. Begitu juga dengan Tora, meskipun kini dia telah menjelma menjadi pengusaha kaya yang selalu dikejar-kejar para gadis, tapi ternyata hatinya tetap memilih Salsa yang selalu menganggapnya sahabat.

            Tora memang kecewa karena Salsa kembali hanya untuk mencari Evan yang entah dimana. Hingga suatu hari, Salsa datang ke pesta pernikahan bawahannya. Dan betapa terkejutnya Salsa ketika dilihatnya sang mepelai laki-laki tak lain adalah Evan. Tapi ternyata dugaan Salsa salah. Mempelai lelaki yang mirip sekali dengan Evan itu adalah Irfan, saudara kembar Evan.

            Lantas dimana Evan ?

            Damar, sahabat terdekat Evan sewaktu SMA akhirnya mengungkapkan dimana Evan selama ini. Ternyata Evan gila. Dia frustasi dan berulang mencoba bunuh diri setelah mengalami kecelakaan itu dan seketika lumpuh. Tapi Salsa tak peduli itu, hatinya masih kokoh untuk Evan seorang.

Resensi Buku "Bukan Untuk di Baca"


 

Judul                           : Bukan Untuk Dibaca

Pengarang                   : Deassy M. Destiana

Editor                          : Lina Tri Permatasari ; Rachmi N. Hamidawati

Penerbit                       : Era Adicita Intermedia

Kota, TahunTerbit       : Solo, 2013

ISBN                           : 978-979-8340-17-8

Buku Bukan Untuk Dibaca ini adalah kumpulan kisah inspirasi yang mengambil cerita-cerita website, email, maupun note dari teman-teman si penulis. Buku ini memiliki duabelas bab dengan segala kisah inspirasinya. Bab pertama berjudul “Ibu” yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ibu dengan kasih sayangnya yang tak terhitung banyaknya. Ibu adalah segalanya, baik dari nilai cintanya, ketangguhannya, kebohongannya demi kebahagiaan anaknya, dan masih banyak lagi hal yang ibu berikan kepada kita dan semua itu takkan pernah sebanding dengan apa yang bisa kita berikan. Selanjutnya bab kedua berjudul “Ayah” yang berisi mengenai beban seorang ayah, kasih sayangnya, dan segalanya tentang ayah. Lalu bab ketiga berjudul “Belajar Dari Anak” yang bercerita tentang perjuangan seorang anak yang berjuang melawan rasa sakitnya, seorang anak adalah persepsi orangtuanya, kasih sayang kakak kepada adiknya, dan lain-lain. Bab keempat berjudul “Suami Istri” mengisahkan tentang ikatan pernikahan yang pastilah banyak jalan terjal yang hatus dihadapi. Ketulusan cinta, doa, dan kasih sayang adalah kekuatannya. Dikatakan juga di balik pria hebat ada perempuan hebat.

Kemudian bab yang kelima berjudul “Cinta & Harapan”, dimana salah satu subjudulnya berjudul Kuatnya Sebongkah Harapan yang mengisahkan seorang pengusaha sukses, namun harus gulung tikar karena suaminya sakit, dan membuat mereka hidup serba kekurangan. Namun pengusaha tersebut tetap sabar dan kuat mengahadapinya, dan mengatakan bahwa jika harapan sudah hilang, maka seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia juga akan hilang. Bab keenam adalah “Kerja”, yang menceritakan bagaimana proses membentuk diri kita, walau terkadang proses yang kita hadapi tidaklah mudah bahkan menyakitkan. Semua bisa karena adanya proses yang dibekali dengan niat, sabar, kerja keras, dan pantang menyerah. Lalu bab ketujuh berjudul “Kebaikan”, dengan beberapa subjudul, diantaranya yaitu Rantai Kebaikan, Daftar Kebaikan, Belas Kasih, dan Berbuat Kebajikan. Bab kedelapan berjudul “Kebahagiaan” yang membahas tentang dimana letak kebahagiaan seseorang, kebahagian adalah sebuah pilihan bukan paksaan.

Bab kesembilan berjudul “Ikhlas dan Bersyukur” yang menceritakan banyak sekali hikmah dibalik nilai keikhlasan. Manusia kebanyakan tidak pernah merasa puas dan selalu merasa kekurangan. Bab selanjutnya berjudul “Bijaksana” yang berisi tentang kebijaksanaan yang harus dilakukan kapapun, dalam situasi apapun, dan dimanapun manusia berada. Misalnya, pada subjudul Warisan Orang Terkaya di Dunia Kepada Anaknya yang mengisahkan seorang ayah yang merupakan orang terkaya didunia mewariskan hampir seluruh hartanya untuk disumbangkan ke yayasan sosial dan hanya mewariskan secukupnya saja kepada anaknya. Nilai bijaksana pada beliau adalah bahwa kekayaan bukanlah segalanya dan hartanya akan lebih bermanfaat ketika diberikan kepada yang membutuhkan. Selanjutnya bab kesebelas dengan judul “Hikmah” yang mengisahkan hikmah di balik setiap peristiwa, baik itu peristiwa yang menyenangkan maupun menyakitkan. Dan bab yang terakhir berjudul “Motivasi” yang menceritakan tentang kisah inspirasi kehidupan dengan kata-kata yang lebih membangun daripada bab-bab sebelumnya.

            Buku ini banyak sekali kisah-kisah inspirasi yang dapat memotivasi para pembacanya. Banyak banget makna, hikmah, dan pelajaran yang bisa diambil. Buku ini juga cocok untuk semua kalangan. Kekurangan pada buku ini adalah memakai kertas berwarna buram/kekuningan dan juga terdapat gambar pada setiap awal bab yang hanya berwarna hitam putih saja. Karena menurut saya, alangkah baiknya memakai kertas putih agar terlihat jelas saat membacanya dan juga pada gambarnya akan lebih bagus jika berwarna, karena kalau hanya melihat hitam putih saja, pembaca akan menjadi mudah mengantuk.

 

26 Desember 2020

BERADU RAGU

Aris Rasyid Setiadi

 

Hina, derita dalam wajah dialektika cerita

Tergores pesan monokrom kehidupan

Pilihan bijak walau ragu

Majulah pionir menuju titik hitam papanmu

Memupus rencana menjadi ambigu

Ragu rasa rindu melebur menyatu

Terjatuh membeku

Dalam detak jantung jam dinding kehidupan

Tak sempat memberi kalam-Mu

Yang bersemayam dalam polos sajadahku

Titik fana daku Tepat bertempat terpatri

Menepi mengerat media mimpi

Angin sejuk pagi hari

Untuk

Berdamai menangis tak berkoalisi

 

Banjarnegara, 15 Mei 2020


19 Desember 2020

Review Novel Musim Dingin di Osaka


Nama     : Denyut Nadi Rivew 

Novel     : Musim Dingin di Osaka 

Penulis   : Rin Akizakura 

 

      Musim Dingin di Osaka Ungkapan hati yang kau ragukan…. Di mataku, ia tampak paling bersinar, karena selalu memberikan senyuman manis untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Entah sudah berapa kali aku mengambil gambar wajahnya menggunakan kameraku ini. Di bawah rimbun pohon sakura, ia bernyanyi sambil bertepuk tangan bersama beberapa anak lainnya. Dia bekerja sebagai seorang guru atau Sensei Taman Kanak-Kanak. Ternyata nama gadis itu adalah Yura-chan, gadis yang manis, periang, dan suka anak kecil. Kenji-kun dan Shiin Fujita mereka sudah berteman di komunitas pencinta alam. Hari ini mereka berdua sengaja datang ke Kastil Osaka, tempat diadakannya Festival Hanami (menonton bunga sakura pada musim semi). Musim semi selalu menjadi musim yang dinanti karena, hampir seluruh halaman Kastil ini akan dipenuhi oleh warna merah muda dari kelopak-kelopak bunga sakura yang sedang bermekaran ini. Hari demi hari Kenji-kun yang selalu menemani Yura-chan mengajar di sekolah, Kenji-kun yang tadinya tidak suka anak kecil sedikit perubahan sekarang beberapa anak sudah mau berbincang denganku. Seiring berjalannya waktu tak terasa aku dan Yura-chan bersama menghabiskan waktu. Kenji-kun dan Yura-chan pergi ketempat Sungai Okawa ia selalu mengikuti ke mana kakiku melangkah dan tak henti-henti melihat sesuatu yang dianggapnya menarik menggunakan kamera miliknya itu. “Kau tidak boleh menyimpannya lebih lama lagi. Sebentar lagi musim panas. Kalian tentu akan pulang ke tempat-tempat masing-masing. Kalian akan lama tidak bertemu. Kita tidak tahu kejadian apa yang terjadi saat kalian tidak saling betemu lagi”. Mendengar perkataan dari Nana-chanm, aku kembali memikirkannya lagi, Nana-chan adalah sahabat Yura-chan, memang sangat benar apa yang dikatakan oleh Nana-chan. Aku sangat menyukai Kenji-kun. Ia berdoa kepada Tuhan akan menjodohkannya dengan orang yang lain, Bagaimana dengan perasaanku yang sudah terlanjur tumbuh subur ini? dengan perasaan inipun kita masih ragu-ragu, Tak lama kemudian Yura-chan pergi kerumah Keji-kun untuk menginap karena, orang tua Yura-chan akan menjodohkannya dengan orang yang tidak ia suka, Sampai ia bingung harus bercerita lagi dengan siapa teman paling akrab dengan Yura-chan adalah Kenji-kun ia selalu bercerita dengan untuk keluar dari zona perjodohan ini. Beberapa bulan setelah memecahkan masalah Yura-chan. Aku kembali ke rutinitasku, bangun pagi, mandi, lalu membuat sarapan untuk diriku sendiri. Suatu hari Kenji-kun berkata kepada “Yura-chan, jika kamu memang mengingkan pria yang selalu mengucapka cinta padamu atau pria yang senang memberikan kejutan-kejutan manis untukmu, maka aku akan berusaha menjadi seperti yang kau inginkan. Meskipun begitu sulit untuk berubah dengan begitu cepatnya. Tapi, aku berjanji akan menjadi yang kau inginkan Yura-chan.” Mata Yura-chan mulai berkaca-kaca. Aku paling tidak bisa melihatnya menangis. “Aku baru menyadarinya. Kenji-kun yang seperti inilah yang telah membuatku mencintainya. Bukan Kenji-kun yang selalu mengumbar kata cinta atau Kenji-kun yang memberikan kejutan-kejutan manis. Bagiku, cukup Kenji-kun yang seperti ini.” Akupun kembali tersenyum. Udara musim dingin yang begitu menyejukkan tak mampu membekukan hati kami yang menghangat. Ya, cinta memang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Jika kita mencintai seseorang, tanpa kata-kata pun kita akan menyadari rasa cinta yang mereka miliki untuk kita.. Happy Ending merekapun hidup bahagia…… J

 


12 Desember 2020

AGTS (ALUS Goes to School) 2020

Pada hari Sabtu tanggal 12 Desember 2020, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan melaksanakan salah satu program kerja divisi PPM yaitu AGTS (ALUS Goes To Scohool). AGTS kali ini dilaksanakan berbeda dengan tahun sebelumnya, yang mana pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan ini diadakan dibeberapa SD atau SMP yang ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun, karena suasana pandemi, maka AGTS  dilakukan secara daring dengan kegiatan webinar bersama SMA N 1 Jetis dengan mengangkat tema “Memacu Literasi dengan Teknologi : Pemanfaaatan Media Digital sebagai Media Informasi”. Webinar ini diadakan via Zoom dan live Youtube yang diikuti oleh siswa- siswi SMA N 1 Jetis dan anggota internal ALUS.  Webinar dipandu oleh MC Daliah Mutiara, anggota divisi PPM ALUS DIY. Moderatornya ialah Amara Dwinda Asmarani. Amara juga merupakan anggota divisi PPM ALUS DIY.

Narasumber pertama dalam webinar ini ialah Kak Ermawati (Mell Shaliha) dengan nama pena Kak Mel merupakan novelis dan Runner Up Duta Baca DIY 2020. Pada kesempatan webinar ini beliau memaparkan tentang “Apa manfaat dan resiko penggunaan teknologi digital, dan infografik tentang literasi digital. Pembelajaran di era Industri 4.0, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh generasi milenial dan juga Tantangan Literasi Digital”.

Sedangkan narasumber kedua, Bapak Hendi Prasetyo, SIP., M. Par. Pak Hendi merupakan demisioner ALUS DIY, dan sekarang beliau menjadi dosen di STIPRAM. Pada kesempatan ini beliau memberi materi tentang  “Media Sosial; Media belajar, sumber belajar dan pemanfaatan media digital sebagai sumber pelajaran; Game based learning (Pembelajaran berbasis permainan)”.

Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab dari peserta, baik via zoom maupun via youtube. Kegiatan ini mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak. Peserta diharapkan mendapat bekal untuk menyesuaikan diri terhadap  peran perpustakaan di era dan pasca pandemi ini.