Bincang-Bincang Seni

Alus DIY
By -
0
BBY (Bentara Budaya Yogyakarta)

Merayap Waktu
lagu puisi Untung Basuki

Merayap waktu menelan bumi
Merobek mulut dikejar janji
Merentang tangan yang tak pasti
Menjadi lambat menuju mati
Waktu begitu segeralah Beranjak pergi, segeralah
Beranjak pergi
Bendera alam kehidupan
Berkibar siang malam
=1978=

Yogya (16/12/2011) acara malam bincang-bincang di Bentara Budaya “KOMPAS” Yogyakarta ini yang mengambil tema salah satu karya lagu puisi berjudul “Merayap Waktu” milik Untung Basuki.

Untung Basuki merupakan seniman senior yang bias dikatakan legendaris jug bagi kalangan seniman, baik jogja maupun sekitar jawa. Lelaki paruh baya yang lahir pada tahun 1949 ini sungguh memang melekatkan dirinya pada duni seni, dulu dia merupakan kawakan bidang seni rupa, lalu beralih ke seni teater,, dan akhirnya kandas pada seni music berupa lagu puisi. Lagu puisi ini merupakan suatu puisi yang dibuat lagu olehnya, diaransemen sebaik mungkin dengan penuh penghayatan. Performanya yang mampu membawa diri para penontonnya serta diiringi indahnya suara hujan yang membuat suasana semakin syahdu…

Lagu puisi adalah lagu yang dicipta berdasar puisi. Puisi yang digubah menjadi lagu. Dengan aturan tidak mengubah, baik mengurangi, menambah, ataupun mengganti kata. Dan tidak mengenal genre musik –apakah  musik rock, pop, dangdut, jazz, balada, country, ataupun blues. Karena lagu puisi tercipta atas dasar kemauan puisi bukan kemauan musik.”
Untung Basuki - Yogyakarta, Jumat 16 Desember 2011

Pada bincang-bincang malam itu, lagu-lagu yang dilantunkan antara lain Merayap Waktu sekaligus sebagai tema dan pembuka acara ini, lepas-lepas, ingin ku gambar, jiwa yang resah, bunga-bunga,

Pak Dhe Untung (panggilan akrabnya) selain sebagai seniman juga telah mengikuti sanggar bambu sejak dia muda hingga saat ini, Menjadi Anggota Sanggar Bambu (sejak era tahun 1970-an), Menjadi anggota Bengkel Teater (sejak tahun 1970-sekarang) dan ikut di sebagian besar pentas-pentasnya, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri. .Selain itu dia Melatih teater dan mengkursus seni lukis dan musik di Samarinda (tahun 1980-an), Kuala Lumpur atas undangan Gapena (Gabungan Penulis Nasional) Malaysia, mengubah dan menyanyikan puisi Merapi dan Kuda Kasongan  Karya Prof. Dr. Siti Zaenon Ismail (2004).  Sekarang, aktif melatih teater, di SMA St. Michael, Warak-Sleman, SMA Santa Maria, Yogyakarta, dan Universitas Duta Wacana, Yogyakarta. Juga aktif mencipta lagu-lagu puisi.

Dari sekian tahun Pak Dhe Untung sapaan akrapnya, telah menghasilkan banyak karya-karya spektakuler. Karya-karya lagu puisi yang berhasil diciptakannya adalah Lepas-Lepas (1972), Gadis Manis (1972), bayi Mati (1973), Bunga-Bunga (1973), Kususuri Sungai (1973), Kuterjun dan Melayang (1973), Ingin ku Gambar (1973), Hutan Pinus (1974), harimau II (1975), Langkahku Menuju Ke mana (1976), Merayap Waktu (1975), Sinila (1983), Mahakam I (1980), Bulan Tua (1980), Saudara-Saudaraku (1980), Maju Perang (1980), Lagu untuk Helga (1981), Elegi (1982), Malingkar (1986), Iqro’ (1986), Sajak Sebatang Lisong (1970), On The Hill (1990), Nyanyian Subur (1990), Lagu untuk Prajurit (1990), Jiwa yang Resah (1990), Samudera Puisi (1990). Wanagama (1993), Terapi Kasih (1993), Tanah (1994), Telatah Jogja (1995), Tepian Berantas (2000), Kemerdekaan Aqua dan Coca Cola (2000), Merapi (2004), Kuda Kasongan (2004), Tinta Terakhir (2006), Bila di langit Kelam Terdengar Suara Berdentang (2006), Apa (2006), Sorobayan (2006), Kerinduan (2006), Pagi Hari (2006), Rembulan dan Matahari (2006), Berkalung Angan (2008), Yin yang (2010), Ramalane Pasar Kembang (2011), serta masih banyak lagu puisi yang belum atau tidak didokumentasikan oleh Untung Basuki.

Kegiatan Negative Itu Akan  Menuju Irama Kematian
Dan
Kegiatan Positif Itu Akan Menuju Irama Kehipan”

* Misbahul Munir adalah Ketua Umum ALUS periode 2011-2012 
          Afif Nur Aziz 
*Afif adalah anggota Divisi Pers

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)