Long Life Education

Posted by ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan on 06.37 with 1 comment
Perpustakaan Sebagai Tempat Belajar Seumur Hidup
( Long Life Education)

Oleh : Setyo Budi S*)

Kita harus menghapus pemikiran lama, bahwa negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah belum tentu kaya ataupun maju. Semua kekayaan sumber daya alam, semua potensi yang dimiliki negara tersebut akan menjadi percuma ketika tidak ada sumber daya manusia yang mampu untuk mengelolanya. Untuk tolok ukur kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat kita lihat dari tingkat pendidikan dan prestasinya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Apakah pendidikan di Indonesia sudah baik dan bisa di nikmati oleh semua kalangan? Ya, Tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan yang ada di Indonesia saat ini belum bisa dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana kenyataan yang ada di sekitar bahwa ternyata masih banyak anak – anak yang tidak bisa menikmati bangku sekolah. Banyak anak-anak yang putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi. 
Ekspresi demikian ini terekam dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Harian Kompas Edisi 17 Oktober 2003. Bahwa tidak kurang 42% Responden berpendapat, biaya sekolah di SD saat ini sangat mahal, kemudian 45% menganggap biaya SMP saat ini sangat mahal dan 51% mengatakan biaya SMU saat ini sangat Mahal. Dan jangan tanya bagaimana untuk biaya di Perguruan Tinggi apalagi di Universitas terkenal atau bahkan Swasta tentu jauh lebih mahal biayanya. Menurut Eko Prasetyo (2011: 12), Walaupun dasar hukum konstitusional menyatakan kalau Negara mengeluarkan anggarana 20% untuk biaya pendidikan, akan tetapi disisi lain ada desakan lain untuk pelaksanaan otonomi dan pengurangan subsidi. Kebijakan yang bertolak belakang ini ujung-ujungnya membawa korban masyarakat umum.
Untuk itu Perpustakaan ada sebagai salah satu usaha untuk menjawab masalah tersebut, tujuan perpustakaan sesuai dengan Undang-Undang No.43 Tahun 2007 ini adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peranan Perpustakaan dalam masyarakat menurut Sulistyo-Basuki (1993: 27-29), salah satunya adalah menjadi sarana pendidikan formal dan nonformal artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun juga tempat belajar dalam lingkungan pendidikan sekolah. Tempat belajar nonformal yaitu pada perpustakaan umum sedangkan tempat belajar formal bisa perpustakaan sekolah atau perpustakaan perguruan tinggi. Banyak Tokoh-tokoh terkenal dunia yang sering menghabiskan waktunya untuk belajar di tempat belajar nonformal ini seperti Abraham Lincoln (Presiden Amerika Serikat ke-16), Jawaharal Nehru (Perdana Mentri Pertama di India), Karl Marx (Penulis buku manifesto Komunis) dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu pendidikan merupakan terapi yang ampuh untuk meningkatkan sumber daya manusia. Hasil dari proses pendidikan yang benar akan dapat mengeluarkan seseorang dari kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan serta akan menumbuhkan budaya membaca dan kecintaan masyarakat akan perpustakaan. Dengan demikian sangat diperlukan dukungan dari pemerintah khususnya melalui kebijakan-kebijakannya dan juga dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan pendidikan yang memerdekakan. Salah satu bentuk pendidikan yang dapat dikembangkan adalah pendidikan seumur hidup (life long education) dengan menggunakan perpustakaan sebagai pusatnya, karena selain perpustakaan itu karena bersifat netral (tidak ada unsur politik), murah meriah, untuk seluruh kalangan/lapisan masyarakat, tidak terbatas pada waktu (seperti SD pendidikan 6 tahun, SMP/SMA 3 tahun), untuk semua umur baik anak-anak, remaja ataupun dewasa.

Melalui Perpustakaan umum dan perpustakaan keliling baik itu milik pemerintah maupun milik swasta rupanya sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada selain di disekolah (Pendidikan Formal) dengan cara menumbuhkan kebiasaan membaca khususnya pada anak-anak, Bahkan dengan adanya Perpustakaan keliling harusnya bisa meningkatkan layanan penyebaran informasi keseluruh daerah contohnya : mengunjungi desa-desa terpencil di pelosok pedalaman yang jauh dari kota dan minim infrastruktur seperti yang dilakukan oleh sebuah Perpustakaan keliling milik lembaga swasta ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan keliling. Dukungan dari masyarakat umum pastinya juga sangat dibutuhkan untuk mensukseskan program ini, misalnya ketika perpustakaan keliling datang Kepala Desa menyambut kedatangannya dengan baik, memberikan pengumuman kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Jadi intinya dengan perpustakaan kita bisa memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat yang tidak mampu menikmati pendidikan forma (Sekolah), namun untuk mewujudkan itu kita memerlukan dukungan dari Pemerintah baik itu berupa fasilitas dari perpustakaan umum atau juga melalui kebijakan-kebijakannya, selain itu calon-calon Pustakawan dan Pustakawan sebagai Sumber Daya Pengelola haruslah pintar dan kreatif dalam memilih metode-metode untuk membimbing pengguna bagaimana agar pengguna bisa memanfaatkan sarana dan prasarana di perpustakaan dengan semaksimal mungkin.

REFERENSI :
Kompas Edisi 17 Oktober 2003.
Prasetyo, Eko. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Resist Book: Yogyakarta, 2011.
Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1993.

*) Setyo Budi S, KaDiv Pers dan Informasi ALUS Yogyakarta.