AKU PUSTAKAWAN NARSIS

Alus DIY
By -
2
Pustakawan.. oh.. Pustakawan..
Entahlah.. orang memandang seolah-olah engkau tiada, padahal engkau ada. Aku juga heran mengapa mereka memiliki paradigma seperti itu. Tapi ketika aku mengkaji ilmu yang berkaitan dengan perpustakaan, aku tahu apa penyebabnya. Ternyata mereka menganggap orang yang bekerja di perpustakaan itu bisa dari latar belakang apapun. Bahkan banyak juga yang hanya lulusan SMA langsung bisa menjadi seorang pustakawan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, banyak juga tuh pejabat-pejabat yang kinerjanya dirasa tidak berkualitas akan ditempatkan di perpustakaan, seperti kejadian di Jakarta waktu lalu. Seolah-olah perpustakaan itu hanya tempat buangan. Miris bukan?
Bagaimana perpustakaan mau maju? Bagaimana perpustakaan bisa beralih menjadi perpustakaan virtual (digital)? Lha wong latar belakang pengelola perpustakaannya saja bukan orang yang ahli dibidang perpustakaan. Jika perpustakaan pengelolaannya sudah ngawur bagaimana perpustakaan mau ramai dikunjungi pemustaka? Memang ada juga yang berkunjung ke perpustakaan tapi kalau ada keperluan saja, contohnya enggak jauh-jauh deh. Perpustakaan kampus saja. Pemustaka yang datang hanya ketika mencari bahan untuk memenuhi tugas kuliah dsb. bisa dibilang “kepepet” gitu. Ada juga yang datang karena memang ingin membaca buku, tapi ini minoritas sekali.
Sebenaranya banyak cara yang bisa dilakukan supaya citra pustakawan dan perpustakaan itu sendiri menjadi lebih baik. Salah satunya dengan menulis, kenapa? Coba bayangkan saja kalau pustakawan itu bisa menulis. Bisa jadi masyarakat akan memberi nilai lebih terhadap pustakawan. Iya tigak ragu membaca karya-karya kita para pustakawan, karena mereka beranggapan apa yang kita tuang dalam tulisan, kita ambil dari sumber-sumber yang terpercaya dengan pengetahuan kita mengenai banyaknya informasi karena rutinitas yang lebih cenderung dekat dengan dunia informasi, perpustakaan. Secara otomatis pula, paradigma mereka akan berubah. Yang awalnya berpikir bahwa pustakawan itu hanya menjaga buku beralih kepada bahwa pustakawan itu gudang ilmu. Keren bukan?
Nah, narsisnya pustakawan itu salah satunya dengan menulis. Jadi narsisnya berkelas hehe. Sadar enggak sih? Sebenarnya Guru Besar Ilmu Perpustakaan Prof. Dr. Sulistyo Basuki adalah seorang penulis? Kalau beliau tidak menulis mungkin kita tidak akan mengenal sosoknya yang sangat luar biasa. Jujur, kita semua para mahasiswa Ilmu Perpustakaan pasti mengenal beliau melelui tulisannya bukan? Yang bukunya itu menjadi kitab wajib untuk anak Ilmu Perpustakaan hehe
Ada lagi sosok yang tak kalah luar biasa menurutku. Yakni pak Fiqru Mafar alumni UIN Sunan Kalijaga yang sekarang menjadi Dosen di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, Riau. Beliau juga memiliki banyak tulisan yang pada akhirnya dengan tulisan-tulisannya  itu beliau bisa melanglangbuana ke Paris, Italia, Mesir dll. Subhanallah keren bukan? Pesan beliau yang selalu terngiang-ngiang,”Jika kamu menulis maka siap-siap terkenal.” Loh iya.. kalau kita menulis dunia akan mengenal kita tapi sebelumnya kita juga harus membaca agar kita mengenal dunia. Setuju sekali dengan perkataan pak Fiqru Mafar.
Menciptakan generasi pustakawan yang narsis tapi berkelas haruslah ditinjau dari kesadaran setiap individual para pustakawan. Kenapa? Karena seperti yang kita tahu, jika pemerintah tidak mencurahkan perhatiannya maka kita para pustakawan harus bangkit sendiri dan memiliki nilai lebih supaya pemerintah dengan sendiriya pula akan memperhatikan kita. Kita harus menjadi pustakawan yang berbeda degan dengan kenarsisan kita dalam dunia kepenulisan.
Ada percakapan kecil antara aku dan seorang senior dari jurusan BKI (Bimbingan Konseling Islam). Ketika aku berpendapat bahwa pemerintah kurang memperhatikan profesi pustakawan, salah satunya dengan menempatkan pustakawan di lembaga tak harus dari latar belakang yang ahli dibidang perpustakaan.
 Ia berpendapat, ”mungkin pustakawan di Indonesia saja yang kurang, jadi latar belakang apapun ditempatkan di perpustakaan. Enggak jauh-jauh contohnya di kampus kita, banyak mahasiswa jurusan lain yang bekerja part time di perpustakaan, padahal mahasiswa Ilmu Perpustakaan juga seabrek di kampus. Jadi kemanakah para calon-calon pustakawan yang lain? Sampai-sampai harus menggunakan tenaga kerja yang bukan ahlinya (mungkin ^^). Tapi, apakah semua latar belakang bisa mempengaruhi kinerja? Apa semua pekerja harus sesuai dengan bidang yang ditempuhnya? Ada yang harus dipahami. Percayakah dengan yang namanya “SKILL”?.” Tuturnya panjang lebar.
Wow.. aku cerna dalam-dalam pendapatnya. Ada benarnya juga.
“Mbak, tahu enggak kenapa pustakawan sedikit di Indonesia? Salah satunya karena kurang diperhatikannya profesi pustakawan oleh pemerintah di Indonesia. Hmm coba kita tilik Jepang, Amerika, Kanada dll. Di negara mereka pustakawan sangat diperhatikan bahkan melebihi profesi lain. Jika dianalisis salah satunya adalah penyebab tingginya minat baca terhadap masyarakat mereka yang jelas terlihat kontras sekali perbedaannya dengan keadaan masyarakat Indonesia yang masih sangat minim sekali akan pentingnya membaca. Ini adalah tantangan untuk kami para pustakawan. Perihal bekerja part time di kampus diambil dari semua jurusan ada sisi positifnya masing-masing. Untuk mahasiswa non-Ilmu Perpustakaan ini akan menjadikan pola pikir mereka berubah bahwa mengelola perpustakaan itu butuh keahlian dan tidak mudah. Sedangkan untuk mahasiswa Ilmu Perpustakaan dengan  bekerja part time di perpustakaan kampus akan mengasah keahlian mereka disamping menambah uang saku mereka juga sebagai mahasiswa hehe I think it doesn’t matter.” Jelasku secara gamblang.
Ia menimpali, “Jauh tanpa melihat diperhatikan atau tidaknya pustakawan di Indonesia oleh pemerintah, semangat kepustakawanan orang-orang seperti dek Rima ini yang kurang saya rasa. Jadi, sebagai pustakawan sejati tidak harus menunggu pemerintah, namun ia harus membangun sendiri jati dirinya sehingga pemerintah memperhatikan dengan sendirinya pula. Coba suntik motivasi untuk pembaca dan teman-teman kamu sebagai pustakawan seajati. Agar tidak hanya menyalahkan pemerintah, namun bangkit untuk diakui akan jauh lebih baik.”
“Nah, itu dia mbak. Salah satunya dengan menciptakan pustakawan-pustakawan narsis, yakni pustakawan yang lebik kreatif dan inovatif dengan menulis. Dengan begini citra pustakawan akan naik sehingga perpustakaanpun menjadi tempat favorit yang dijadikan tempat yang sering dikunjungi masyaraakat dari semua latar belakang. Tidak pandang bulu gitu hehe.” Tegasku.
Mungkin ini hanya percakapan kecil, tapi ini benar-benar membuka mataku sebagai generasi pustakawan muda. Dan kuharap juga memberi pengaruh kepada para pustakawan muda yang lainnya. Kalau bukan kita (para pustakawan) siapa lagi yang peduli?
Aku Pustakawan Narsis dengan Menulis” aku rasa slogan ini cocok dijadikan tonggak untuk wajah baru para pustakawan di abad modern ini.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Sudah dengan jelasnya Allah memberitahu kepada kita, apa kita masih mencoba mengelak? Pustakawan muda sekarang saatnya kita tunjukkan jati diri kita pada dunia. GANBATTE !!! DON’T GIVE UP !!!


Rima Esni Nurdiana

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Semester I


Posting Komentar

2Komentar

  1. Tulisannya menarik dan inspiratif. Namun, ada kekelliruan di atas yang menyebutkan bahwa pak Fiqru Mafar adalah dosen Universitas Riau. Dalam kesehariannya pak Fiqru Mafar adalah dosen di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru. Beliau adalah dosen saya di Prodi Ilmu Perpustakaan FIB UNILAK. :)

    BalasHapus
  2. keren mbak rima tulisannya
    silahkan di kembangkan
    juga pengen narsis jadinya

    BalasHapus
Posting Komentar