ALUS Goes to School Java Tour 2015

Posted by ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan on 07.08 with No comments



Telah kita ketahui bahwa, pada dasarnya pendidikan tidak bisa lepas dari perpustakaan dimana perpustakaan sebagai jantung pendidikan dan tempat belajar sepanjang hayat (long life education). Dari banyak negara maju, perpustakaan sangat ambil peran dalam meningkatkan kecerdasan masyarakatnya dengan minat baca rata-rata mereka yang tinggi. Negara maju sangat menaruh perhatian akan pentingnya perpustakaan sehingga pemerintah pun sedemikian efektif dalam mengatur jam belajar siswa di sekolah dan memberikan anggaran dana yang tak sedikit jumlahnya untuk perpustakaan. Tentu hal ini akan berdampak baik bagi perpustakaan maupun pustakawan itu sendiri.
Di Indonesia yang masih dalam kategori negara berkembang, perpustakaan belum semaju di negara-negara maju dimana masih banyak perpustakaan yang harus dibenahi agar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Perpustakaan (SNIP)  dan Standar Nasional Perpustakaan yang menjadi pedoman perpustakaan di Indonesia. Berangkat dari lal ini, para penggiat di bidang perpustakaan dituntut untuk lebih gencar lagi dalam mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat. 

Salah satu penggiat di bidang perpustakaan adalah organisasi ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan DIY dimana pada 28 November 2015 serentak mengadakan kegiatan ALUS Goes to School. Kegiatan ALUS Goes to School (AGTS) ini sendiri merupakan kegiatan rutin tahunan ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Pada tahun 2015 ini mengambil tema ALUS Goes to School Java Tour 2015 dimana sasarannya adalah beberapa perpustakaan sekolah dari tingkat SD, SMP (MTs), SMA (MA) yang berada di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY yakni MAN Buntet Pesantren Cirebon, MTs Kepanjenkidul Blitar, SDIT Salsabilah Baiturrahman Klaten, SMP N 2 Banguntapan Bantul, SDN Brosot Kulon Progo, SMP N 4 Pakem Sleman, SD Muhammadiyah Bogor Gunung Kidul, SMK N 2 Cirebon, dan SD Muhamadiyah Sleman. ALUS Goes to School Java Tour 2015 ini diisi dengan berbagai  kegiatan yang ditujukan kepada siswa maupun perpustakaan (pustakawan) yakni pendidikan pemakai (user education), mendongeng (story telling),  game perpustakaan, pengenalan dan pelatihan aplikasi software perpustakaan kepada pustakawan serta konsultasi tentang perpustakaan oleh pustakawan.

Dari kegiatan ALUS Goes to School Java Tour 2015 ini dapat diketahui salah satu faktor yang menghalangi majunya minat baca masyarakat di Indonesia. Berdasarkan diskusi dan pemaparan dari salah satu pihak sekolah menjelaskan beberapa faktor yang menghambat tumbuhnya minat baca di sekolah. Pertama, ‘waktu’ menjadi sangat penting agar minat baca itu bisa tumbuh dengan baik. Sebagai salah satu pihak sekolah yang diajak berdiskusi, beliau mengemukakan bahwa waktu yang terlalu banyak diisi dengan belajar di kelas dan waktu istirahat yang sedikit menyebabkan siswa tidak sempat untuk membaca. Seperti sekolah beliau sendiri, saat jam istirahat banyak siswa yang lebih memilih pergi ke kantin serta ke masjid. Hal ini karena, dengan jam belajar yang panjang menyebabkan siswa mudah lapar. Dari hal ini saja, tentu dapat diketahui bahwa pada dasarnya pemerintah memiliki peran besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat utamanya dilingkungan sekolah dengan mengatur jam belajar agar lebih efektif. Kedua, para guru tidak bisa selalu mengadakan pembelajaran dengan mengkorelasikan antara belajar di kelas dengan perpustakaan karena tidak semua pelajaran bisa dilakukan pembelajarannya di perpustakaan seperti matematika.  Selain itu siswa juga belum siap jika menggunakan sistem belajar berbasis perpustakaan. Ketiga, anggaran dana yang disediakan oleh pemerintah khususnya untuk perpustakaan masih minim. Dengan anggaran yang hanya 5% ini pihak sekolah tidak mudah untuk mendapatkannya. Seperti dari pihak sekolah yang diajak berdiskusi, mereka sudah sering mengajukan proposal kepada pemerintah untuk perbaikan perpustakaan namun dana itu sendiri tidak turun juga. Melihat realita di lapangan seperti ini, pihak sekolah memutuskan untuk tidak berharap lagi dari dana pemeritah. Pihak sekolah memilih membangun perpustakaan secara mandiri dan tanpa merepotkan pihak siswa terkait anggaran dana perpustakaan. 

Dari berbagai faktor penghambat tumbuh kembangnya minat baca di Indonesia yang diketahui dari adanya kegiatan ALUS Goes to School Java Tour 2015, hal ini bisa menjadi evaluasi untuk semua stage holder agar bersinergi dalam menumbuhkan minat baca di Indonesia. 

AGTS Java Tour Blitar