Kirab Gunungan Buku

Posted by ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan on 06.56 with No comments


Pada hari minggu, 15 November 2015 ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan turut berpartisipasi dalam peresmian TBM Kerai (Taman Baca Masyarakat) yang terletak di dusun Kwadungan, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. 

Peresmian TBM Kerai ini dihadiri oleh pejabat pemerintah terkait, lembaga pendidikan, tokmas, komunitas literasi, mahasiswa arsitektur UTY, 150 TBM, komunitas reptil Jogja, anak-anak TK, SD Ngemplak 3 Jogja, anak-anak dusun Kwadungan, dan komunitas-komunitas yang bergerak dibidang literasi lainnya. 

Peresmian TBM Kerai ini diisi dengan berbagai kegiatan yakni: Prosesi peresmian dengan pembukaan papan nama TBM, lomba sketsa yang diikuti mahasiswa arsitektur UTY dengan objek Rencana Pembangunan TBM dan Lingkungan Penduduknya, lomba mewarnai untuk peserta anak TK dilingkungan sekitar TBM, gelar reptil untuk mengenalkan jenis-jenis reptil pada anak-anak, pentas/panggung seni, dan kirab gunungan buku yang diikuti oleh drumband/kelompok acustic, bergodo, gunungan buku, kelompok dolanan bocah, forum TBM Sleman, GPMB/GWK DIY, Motor Pustaka Keliling, Perpusda Widodomartani, Mobil Perpustakaan Keliling, Gerobak Sapi, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, dan komunitas literasi lainnya. Namun yang menjadi ikon dalam peresmian ini adalah Kirab Gunungan Buku. Filosofi dari Kirab Gunungan Buku adalah untuk nguri-nguri budaya Jawi. 

Tema yang diangkat dalam peresmian TBM Kerai ini adalah Gerakan Membaca untuk Masyarakat yang lebih baik, dimana ini adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menggalakkan gerakan membaca. Gerakan membaca  ini bertujuan agar masyarakat kampung pada khususnya dengan mudah bisa akses informasi karena tidak sedikit masyarakat kampung yang kesulitan dalam mengakses buku yang juga merupakan sumber informasi dan pengetahuan. Jika masyarakat sudah mudah dalam akses informasi maka masyarakat akan semakin cinta dan gemar membaca.

Hal diatas tampak jelas bahwa penanaman minat baca itu dimulai sejak dini dan dimulai dari lingkup yang paling kecil yakni keluarga. Hal ini juga dilakukan pak Nanang Sujatmiko selaku pendiri TBM Kerai. Beliau sekeluarga memiliki minat baca yang tinggi sehingga banyak koleksi buku di rumah. Atas dasar ini pula pak Nanang Sujatmiko mendirikan TBM Kerai agar masyarakat sekitar rumah juga gemar membaca dan bisa memnafaatkan TBM Kerai sebaik mungkin. 

Asal mula nama TBM Kerai sendiri itu adalah dari kata “Kerai” yang berarti penutup. Namun selain atas dasar  pengertian itu, penamaan “Kerai” itu diambil dari nama anak pak Nanang Sujatmiko yakni Kevin dan Raihan. Sedangkan bentuk bangunan TBM Kerai yang menyerupai buku terbuka itu memiliki filosofi agar masyarakat selalu membaca buku. Pak Nanang Sujatmiko tidak sendiri dalam mendirikan TBM Kerai. Beliau merangkul warga Kwadungan untuk membangun TBM Kerai bersama dan pada akhirnya akan bermanfaat untuk semua masyarakat.
Peresmian TBM Kirab yang melibatkan banyak pihak ini mendapatkan respon baik oleh salah satu pihak media masa nasional pun juga sebagai praktisi penyiaran, yakni pak Sudaryono. Beliau mengungkapkan bahwa indikator dari negara maju adalah tradisi baca yang tinggi dan ini dimulai dari kampung. Hal ini senada dengan gerakan membaca dengan mendirikan TBM Kerai dimana harus ada tindak lanjut bahwa TBM bukan hanya untuk perpustakaan tetapi juga merupakan tempat untuk berkreatifitas dan merupakan suatu action yang perlu diapresiasi. Pak Sudaryono berharap Indonesia semakin maju melalui budaya membaca bukan budaya menonton. Sebagai praktisi penyiaran beliau melihat yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya yakni masyarakat yang masih kental dengan budaya menonton.