Cerpen "Topeng"

Alus DIY
By -
0


 Topeng

Oleh: Ulva Maqfiroh


“Tahanlah sebentar lagi itu tak akan sulit!” kalimat itu terus berdengung di telinganya, satu-satunya kalimat yang bisa ia sampaikan pada dirinya sendiri.

Riuh dan bisingnya sekolah itu mulai terdengar, beberapa siswa berseragam  pramuka tertawa, berlari membawa tongkat dan bendera kecil lambang regu mereka. Waktu yang sangat berharga dan hanya sesaat kau bisa menikmatinya, tak lain dan tak bukan adalah masa sekolah menengah saat kau bisa bertemu teman yang memiliki beragam keunikan. 

“Haisshhh, benar-benar menyebalkan!” keluh siswi berambut cepak setelah melihat ke arah siswi yang terlihat sedang berdiri dengan wajah pucatnya

“Dev, Kau tak ambil bukumu? Sebentar lagi pembacaan materi.” ujar salah seorang anak

“Ahhh yaa” siswi pucat itu menjawab, wajahnya terlihat murung. Ia mencoba memaksakan senyuman di bibir keringnya.

Tahanlah sebentar lagi kumohon, 3 tahun lagi!

Siswi bernama Deva itu berlari memasuki kelasnya berniat mengambil buku tulis untuk catatan kepramukaan, nafasnya terengah-engah seakan mau putus saat itu juga. Bukan karena jarak kelas dan lapangan tempat berkumpul tadi yang jauh, melainkan kondisi psikisnya yang begitu buruk. Ia merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis usang,  Deva meraih buku itu dan mendekapnya bersiap untuk berlari lagi agar tak tertinggal jauh untuk menulis materi, tapi tiba-tiba nafasnya tersendat dan pemandangan di depannya menjadi kabur.

Deva mendapati sebuah ruangan yang langsung ia kenali, beberapa kotak P3K tersusun di sebuah meja panjang di samping ranjang tempat dirinya terbaring sekarang.

“Bagaimana kondisimu?” sebuah suara muncul dari seorang wanita berwajah tenang, wanita itu tampak begitu khawatir. “Kau tak sadarkan diri tadi, aku menemukanmu di kelas. Minumlah ini!” katanya menyodorkan sebotol air mineral. Deva berusaha duduk dan menerima botol itu, ia merasa begitu nyaman sekarang, entah karena apa tapi ia menyadari bahwa mungkin ia pingsan sampai acara kepramukaan hari itu  usai. Jam dinding  tergantung di sisi kiri poster bertema langkah-langkah mencuci tangan yang baik, menunjukkan pukul 5 lebih sepuluh dan ia melewatkan semuanya dengan pingsan? Terdengar seperti pecundang.

“Aku bisa mengantarmu, sudah cukup gelap untuk pulang sendirian.” kata wanita itu mencoba merapikan rambut Deva.

“Tidak perlu, Kak, aku bisa pulang sendiri.” Deva tersenyum menatap botol minumannya, ia merasa begitu nyaman di ruangan UKS, Kakak Dewan Ambalan itu salah satu alasannya.

 15 menit kemudian Kakak itu membantunya memakai sepatu.

“Terima kasih banyak, Kak.” ujar Deva tersenyum berjalan menuju parkiran sekolah yang mulai lenggang. Ia melewati laboratorium kimia yang biasa digunakan siswa jurusan IPA, dan Deva sering melihat mereka bermain dengan mikroskop atau alat-alat lain yang menurutnya rumit.

“Kakiku lemas banget, aku akan istirahat sebentar.” katanya pada diri sendiri sambil duduk di bangku panjang samping lab itu. Ia memandang jalan raya lewat gerbang sekolah dan dadanya mulai terasa menyakitkan hingga Deva tak bisa menahan dirinya untuk menangis.

“Aku capek, tapi bukankah ini memang salahku? Aku yang tak bisa bergaul lebih cepat dengan mereka, aku yang seperti orang aneh di mata mereka, aku memang sulit beradaptasi, mungkin mereka membenciku karena ini, aku memang pantas dikucilkan. Tak ada yang bisa kuperbaiki lagi. Kuatkanlah dirimu! 3 tahun lagi jangan jadi pecundang … kumohon!” Deva menangis sambil mengutuki dirinya sendiri dalam hati.

***

“Mengheningkan cipta wkwkwk” 

“Hahaha ... cukup dong perutku keram banget.” seorang  siswi yang bertubuh lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang lain tertawa terbahak-bahak.

Deva terus menundukkan kepalanya, berusaha mencerna buku  tebal Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di pangkuannya sekarang. Ia tahu anak-anak lain sedang menjadikannya topik lelucon. Namun, lagi-lagi ia hanya bisa menahan diri dengan menghembuskan nafas penuh kelelahan miliknya.

Siksaan yang diperolehnya setiap hari sampai tak ada sesuatu yang cukup ampuh untuk membuatnya bernafas lega, itu semua semacam teror meskipun selama ini dirinya terlihat begitu tenang dan tak peduli. Jam pulang sekolah yang selalu dinantikannya, tapi yang ada dipikirannya saat itu hanyalah bersiap untuk esok harinya lagi. Esok hari yang harus dihadapi dan ia sangat benci mengakui bahwa ia takut dan ingin kabur dari hal itu. Tapi tak ada yang tahu bukan bahwa waktu cepat berlalu, keadaan pun bisa berbalik kapan saja.

Di dunia ini tak ada orang baik juga orang jahat, semua punya sisi baik dan buruknya sendiri. Terkadang satu di antara banyak individu terlihat begitu baik seolah dia malaikat yang rendah hati dan suka menolong, ada juga yang terlihat sombong dan tak berempati  tapi  salah jika kau mengartikan dan langsung mengidentifikasinya dengan sebutan orang baik atau orang jahat karena pada dasarnya setiap orang baik pun masih punya insting jahat dan orang jahat pun masih memiliki nurani mereka. Deva sudah masuk di tahun ketiganya di sekolah itu, masih sama seperti Deva yang dulu, Deva yang sering tersenyum bahkan di saat yang terburuk sekalipun. Di kelas itu dirinya duduk di bangku kedua sebelah utara bersama beberapa orang, mereka terlihat begitu dekat saling mengobrol satu sama lain.

“Hari ini tak ada jam tambahan, aku bersyukur, aku ingin pulang lebih cepat.”, seseorang dari gerombolan itu tersenyum penuh kemenangan.

“A yee.. aku setuju.” timpal teman di sebelahnya.

“Aku pergi dulu, aku harus menemui Ibu Jane.” sahut Deva sambil merogoh isi tasnya.

Setibanya di perpustakaan ...

“Halo, Ibu Jane!” seru Deva tersenyum

“Aaa Hai, Deva, aku sudah menunggumu sejak tadi.”

“Maaf, Bu. Tapi tenang, sudah selesai tadi malam.” Deva meletakkan buku besar itu di meja tempat Ibu Jane sibuk mengguntingi kertas.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Ibu Jane

“Tidak ada.” jawab Deva tersenyum

“Pasti ada sesuatu lagi, aku yakin.”

“Entahlah, aku hanya merasa aku terlalu jahat pada diriku sendiri, aku selalu menyiksanya, aku tak pernah memihaknya, bahkan saat tersulit pun aku tak pernah menghargai diriku sendiri.” Deva menghembuskan nafas beratnya sambil melihat keluar jendela.

“Hahhh ... masalah itu lagi.” Ibu Jane berhenti mengguntingi kertas dan menyilangkan kedua tangannya

“Yaaa.. aku senang sekarang aku bisa berteman, aku senang akhirnya mereka menerimaku bahkan aku bisa melihat cara mereka menyayangiku, kuakui mereka jauh lebih baik dari pandanganku dulu tapi entahlah berteman dengan mereka semakin membuatku merasa bersalah terhadap diriku sendiri.”

“Kurasa kau tak perlu nasihat dariku lagi, kau bisa memutuskannya sendiri. Kau menganggap seseorang sebagai sahabatmu, tapi percayalah tak ada definisi persahabatan jika kau masih bermimpi dan ketakutan akan apa yang dia perbuat padamu di masa lalu. Kau masih memiliki rasa trauma itu, aku bisa melihatnya dari matamu.”

“Hmmm lucu sekali bukan, jauh dari lubuk hatiku aku masih menganggapnya monster.”

***

1 tahun kemudian.

Cahaya matahari telah bersinar dari arah timur, Deva masih bersiap di dalam kamarnya yang penuh dengan kertas hasil desainnya semalaman. Hari ini ia begitu senang untuk bertemu temannya semasa sekolah menengah walau hanya untuk sarapan bersama.

Di kafe kecil bergaya minimalis itu,

“Akhirnya, aku benar benar merindukanmu, Dev!” seorang dengan rambut cepak menyambut kedatangan Deva. 

Deva tersenyum dan duduk di kursi itu, mereka saling bertatapan sekarang, ”Kau mau pesan apa? Aaa pasti kue pisang, aku hafal sekali itu memang kesukaanmu.” kata gadis itu beranjak dari kursinya, berjalan menuju meja pemesanan. Deva menatap gadis itu berjalan, masih sama seperti dulu dan tentu saja ia masih jadi gadis tertinggi di antara yang lainnya.

“Makasih kau masih mengingat semua tentangku, Anna.” kata Deva saat Anna kembali ke meja mereka dengan nampan di tangannya.

“Tentu, kau sahabat terbaikku, kau datang di kondisi terburukku. Aku senang memiliki teman sebaik kau.” jawab Anna

“Haisssh... jangan begitu, aku tak suka disebut orang baik.”

“Terserah tapi kau memang begitu.” Anna menyeruput minumannya 

“Aku bodoh sekali kalau begitu, menyedihkan.” Deva tertawa kecil

“Maksudmu?” tanya Anna

“Emmm tidak, aku hanya ingin sekali aja bisa bersikap egois daripada terus memikirkan orang lain, aku terus mengorbankan diriku sendiri bahkan saat ini pun juga.” Deva berkata tenang. Anna mengalihkan pandangan dari kopinya yang sudah hampir setengah habis. Ia melihat temannya itu bangkit dari kursinya.

“Anna, bisakah kau tak usah menghubungiku lagi? Bisakah kau tak usah meminta tolong padaku lagi? Bisakah kau kembali pada teman-teman se-gengmu? Astaga aku heran sekali kenapa kau meninggalkan mereka dan memilih berteman denganku, dengan orang yang dulu kalian rundung bersama-sama. Sejauh ini aku tak pernah menganggapmu sahabatku, aku hanya melihat seberapa jauh menyedihkan orang sepertimu itu.” kata Deva.

“Sejak awal aku selalu menunggu kata maaf dari mulutmu itu,  tapi kau hanya bilang ‘astaga dulu aku kejam sekali padamu’. Kau tau selama ini akan lebih baik jika kau tak pernah mencoba berteman denganku, aku akan perlahan melupakannya. Aku akan melupakan caramu mengejekku dulu, caramu menguntitku sampai ke rumah untuk memastikan bagaimana lucunya penderitaanku dan setelah itu kau bisa menjadikannya bahan lelucon di kelas.”

“Dev-Devaa?” Anna ikut berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Deva, semua anggota tubuhnya seakan lenyap, ia sama sekali tak bisa berdiri dengan kokoh. Di hadapannya Deva terisak mengusap matanya yang mulai sembab, ia tahu bahwa orang di hadapannya itu sangat lemah tapi juga sangat kuat. “Kau sama sekali tak cocok, kau tak akan pernah direkrut jadi peran antagonis kurasa,” Anna tersenyum, “Mendengar kau mengatakan semua itu kurasa aku tahu bahwa sebenarnya kau amat tersiksa melihatku bukan? Tapi bolehkah aku bilang, aku memang tak pernah merasa bersalah dengan semua itu tapi aku sadar kok kalau itu jahat sampai-sampai orang yang aku sakiti ini ingin mengakhiri hidupnya. Tapi semua bantuanmu selama ini, semua support yang kaulontarkan untukku itu tulus, kan? Aku bisa merasakannya.”

“Pasti sulit sekali jadi seorang Deva.” lanjut Anna setelah hening beberapa saat.

“Salah satu cara agar aku bisa memaafkanmu hanya satu, menjauhlah dariku cobalah memperbaiki hubunganmu dengan teman-temanmu itu karena di sana kau tampak hebat dan tak menyedihkan seperti sekarang. Aku berharap tidak ada orang yang akan mengalami hal yang sama.” kata Deva sebelum berbalik dan meninggalkan kafe itu.

“Harapanmu itu tak terwujud, Dev. Kau tahu? Kurasa Tuhan sedang memperingatkanku sekarang, aku tahu apa yang kaurasakan dulu karena sekarang aku berada di posisi itu, aku terus ingin berteman denganmu tapi aku benar-benar orang yang tak tahu diri, bukan?” Anna terus menatap lobi kafe itu.

Sementara itu, Deva tengah berjalan di jalanan sepi, ia sengaja mengambil jalan itu sepulang dari kafe tadi. Ia merasa senang tapi rasa sesak di dadanya bertambah seiring dirinya memaksa untuk terus berjalan.

Untuk diriku sendiri ...

Maafkan aku, selama ini aku tak pernah memihakmu, aku tak pernah peduli betapa berat  untuk terus berbuat baik dengan orang yang selalu membuatmu sulit bernafas. Aku benar-benar menyesal, mulai sekarang aku tak peduli jika aku tak punya teman asalkan aku tak menyiksamu lagi. Aku tahu tak baik terus memiliki dendam, jadi mari kita lupakan hal sedih itu dan berbahagialah mulai sekarang. Monster itu tak akan kutemui lagi, aku berjanji tak akan menemuinya meskipun dia sudah berubah sekarang.

Deva menatap jalanan di depannya, jalan itu benar-benar sunyi atau mungkin keadaan sedang mengizinkannya untuk mengaksesnya secara pribadi kali ini. Sepatu bot yang dikenakannya terlihat cocok di kaki mungil itu. Deva mempererat jaketnya, menarik nafas panjang.

”Terima kasih sudah melewati hal sulit ini bersamaku.” ujar Deva dalam hati, tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)