Rabu, 30 November 2011

“Adil” Untuk Semua Dalam Mencerdaskan Umat (Artikel Perpustakaan)

“Bapak kalau saya pinjam buku tentang motivasi ini boleh ndak?”, Tanya seorang pengamen yang datang untuk mengamen di sebuah rumah sederhana itu kepada Pak Agung. Pada awalnya si lelaki setengah baya itu datang untuk menyumbangkan suaranya tetapi tanpa diduga tertarik dengan adanya buku- buku yang terpajang rapi pada rak ruang tamu bapak Agung Nugroho. Beliau adalah pemilik Taman Bacaan Masyarakat Pustaka Keliling “Adil”.

Pustaka Keliling “Adil” merupakan salah satu Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Ledok Tukangan DN II/177 RT 05 RW 01 Yogyakarta kecamatan Danurejan. Pada awalnya berdiri sebagai perpustakaan pribadi dengan koleksi 200 eksemplar buku dan 50 eksemplar majalah . Atas rekomendasi Bapak Douzan Al Farouq alm., beliau adalah Pejuang Literasi Indonesia dan kehendak pemiliknya yang mempunyai cita- cita mencerdaskan umat setiap saat menuju masyarakat yang bermartabat maka pada tahun 2003 diubah menjadi sebuah Taman Bacaan Masyarakat yang dibuka untuk umum.

Semakin hari pengunjungpun semakin bertambah dari berbagai lapisan masyarakat disekitar Danurejan yaitu anak- anak, remaja, dan orang tua. Bahkan sampai sekarang banyak pengunjung yang berasal dari luar Danurejan. Mereka dapat menjadi anggota dengan mengisi kartu anggota yang telah disediakan. Bagi masyarakat wilayah Danurejan pesanan buku dapat diantar seperti memesan pizza, yaitu menghubungi lewat sms atau telepon. Seiring dengan bertambahnya pengunjung maka kebutuhan akan buku bacaanpun semakin banyak. Pada tahun 2009 “Adil” mendapat sumbangan sebesar 7 juta rupiah dari Pemda Yogyakarta. Dana tersebut digunakan untuk membeli 4 rak buku, 1 almari, dan koleksi yang sebagian besar berupa koleksi islam. “Adil” telah menjadi anggota forum Taman Bacaan Masyarakat Yogyakarta, sehingga memudahkan dalam publikasi. Pada bulan juli 2010 “Adil” mendapatkan dana pengembangan TBM dari Perpustakaan Kota Yogyakarta sebesar 3 juta rupiah. Kini TBM tersebut telah mempunyai koleksi sekitar 1000 judul buku dan lebih dari 350 eksemplar majalah. 

Beberapa hal yang menjadikan “Adil” selalu ramai oleh pengunjung yaitu adanya kegiatan pendamping yang dilaksanakan secara rutin dan berkala. Kegiatan tersebut meliputi: pembinaan Orang tua, anak- anak, dan kelompok Usaha Kecil, pelatihan Kerajinan, berbagai perlombaan anak, majalah dinding, dan menonton film bersama. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki sehingga masyarakat menjadi lebih baik. Selain kegiatan pendamping, “Adil” menarik pengunjung dengan cara meminjamkan buku- buku secara gratis Sehingga mereka bisa kapan saja datang meminjam atau pesan buku untuk diantar ke tempat tujuan tanpa mengganti uang bensin atau uang capek bahkan mulai bulan April 2011 kegiatan pustaka keliling semakin berkembang dengan adanya bantuan 2 motor keliling baru. Kegiatan yang dilaksanakan semakin beragam dan kerjasama dalam bidang pengelolaan koleksi dilakukan dengan Himpunan Mahasiswa Perpustakaan (ALUS-red). Begitulah kegiatan yang telah lama dilakukan untuk mencerdaskan umat. Yang menjadi prinsip hanyalah “banyak memberi daripada menerima”

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012 

Pentingnya Revitalisasi Pustakawan Provinsi DIY

Perpustakaan mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai tempat belajar bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi mereka sehingga menjadi masyarakat berilmu dan mempunyai kecakapan untuk memberikan masukan- masukan dalam pengambilan kebijakan. Untuk dapat melaksanakan peran dan fungsinya diperlukan dukungan- dukungan dari berbagai pihak, hal ini sesuai undang- undang perpustakaan Nomor 43 tahun 2007 dalam pasal 8 poin a disebutkan bahwa Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/ kota berkewajiban untuk menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah.

Pemerintah provinsi DIY melalui Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah telah menyelenggarakan perpustakaan khusus dan perpustakaan umum untuk memenuhi kewajiban yang telah diamanatkan dalam undang- undang perpustakaan tersebut di atas. Tetapi dalam pelaksanaannya, perpustakaan yang mempunyai sub sistem di dalamnya yaitu pustakawan belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban tersebut. Setiap perpustakaan seharusnya mempunyai pustakawan dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan tetapi pada kenyataannya hal itu belum terwujud. 

Permasalahan yang sebenarnya yaitu terletak pada formasi pustakawan yang belum memenuhi formasi yang telah ditentukan di provinsi DIY. Kalau dilihat dari para pustakawan yang ada di provinsi DIY, maka mereka hanya terdapat di BPAD. Kemungkinan besar perpustakaan di lembaga dan perpustakaan umum lain masih banyak kekurangan pustakawan. Kemudian bahwa untuk menjalankan fungsinya suatu perpustakaan harus dikelola oleh tenaga perpustakaan yang ahli dalam bidangnya. Kenyataan yang ada adalah berbanding terbalik dengan pernyataan tersebut. Di perpustakaan- perpustakaan provinsi DIY kebanyakan pengelola perpustakaan adalah bukan seorang lulusan D2/ S1 ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi, atau mereka yang mendapat pendidikan formal tentang pengelolaan perpustakaan seperti pendidikan kilat pengelolaan perpustakaan. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai mutasi yang tidak mempunyai keahlian dibidangnya. Sebagai contoh, di perpustakaan- perpustakaan sekolah pengelola perpustakaan biasanya adalah seorang guru yang diperbantukan untuk mengelola perpustakaan. Kadang pula adalah seorang pegawai administrasi atau TU ( Tata Usaha ). Selain di perpustakaan sekolah adalah di perpustakaan instansi seperti perpustakaan Rumah Sakit, perpustakaan Ban, dan sebagainya. 

Dengan melihat kondisi di atas yang menunjukkan adanya pustakawan atau pengelola perpustakaan di provinsi DIY yang masih terbatas, serta jumlah yang ada masih kurang memenuhi kualifikasi pendidikan yang disyaratkan dalam bidang perpustakaan maka akan mempengaruhi kualitas layanan perpustakaan. 

Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya revitalisasi pustakawan di provinsi DIY. Revitalisasi pustakawan dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu perencanaan formasi pegawai dan pengadaan pegawai. Perencanaan formasi untuk pustakawan dengan memperhatikan adanya peluang para calon pustakawan yang nantinya akan menggantikan posisi/ jabatan para pustakawan yang memasuki masa pensiun. Perencanaan formasi untuk pustakawan di setiap perpustakaan, baik perpustakaan instansi maupun perpustakaan umum. Kedua adalah tahap pengadaan pustakawan atau pengelola perpustakaan. Pengadaan pegawai dimaksudkan untuk mengisi lowongan. Posisi lowong tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kematian pegawai, pemecatan, pengunduran diri, dan pensiun. Meskipun demikian penyelenggara pengadaan pegawai juga harus memperhatikan aspek- aspek seperti aspek kebutuhan. Penyelenggara tidak boleh secara cuma- cuma menempatkan pegawai untuk mengisi posisi yang lowong tetapi tetap harus menguji kompetensi yang dimilikinya. 

Dengan diterapkannya kedua langkah tersebut diharapkan di perpustakaan provinsi DIY dapat terpenuhinya pegawai pada formasi perpustakaan serta dapat mennjaring kompetensi pustakawan sehingga akan menigkatkan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat pengguna.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012  

Menjadi Generasi Muda Ideal

Suatu keberuntungan bagi kita yang lahir pada zaman modern saat ini. Semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia secara cepat dan mudah. Kita ingin menguasai bahasa asing, lembaga bahasa dan kursus bahasa asing ada dimana- mana, ingin pintar komputer lembaga kursus tersedia diberbagai tempat. Dengan modal kemauan kita bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi apapun yang diingikan.

Sayangnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkadang tidak diimbangi dengan pemahaman ilmu agama secara benar. Banyak kaum muda yang jenius dibidang teknologi menjadi takabur atas kemampuan yang dimilikinya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga hidup mereka menjadi tidak terarah dan mengalami kehampaan spiritual. Apabila telah demikian maka pelariannya adalah minuman keras dan obat- obatan terlarang.

Ada dua anggapan tentang ilmu agama dan ilmu pengetahuan teknologi. Ada yang beranggapan bahwa ilmu agama lebih penting daripada ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka tenang- tenang saja walaupun ketinggalan pengetahuan umum dalam bidang teknologi karena ilmu seperti itu tidak akan menolong di akhirat nanti. Mereka tidak pernah memikirkan tentang teknologi, yang penting sholat, ngaji, dan tidak berbuat macam- macam. Anggapan kedua yaitu bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi lebih penting daripada ilmu agama. Buktinya banyak para orang tua yang bangga bila anaknya menjadi juara dalam bidang fisika, matematika, atau komputer daripada juara qiraah. Sepertinya lebih keren begitu.

Baik pandangan pertama maupun kedua tersebut adalah salah. Menjadi orang saleh yang paham agama itu perlu, sehingga hidup kita lebih terarah tetapi kalau kemudian kita tidak tahu apa- apa tentang iptek maka akan menjadi orang yang gaptek( gagap teknologi ) dan tidak tahu tentang perkembangan zaman. Begitu juga dengan orang- orang yang mahir dalam bidang teknologi tetapi buta agama, maka hidupnya tidak tenang dan cenderung menghalalkan segala cara untuk berinovasi. Maka sebaiknya kita menjadi kaum muda yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam bidang teknologi tetapi juga senantiasa belajar ilmu agama kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan kita untuk mengimbanginya sehingga iptek ok, imtak (ilmu, iman, taqwa) yes.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012

[berita acara] Peran Perpustakaan sebagai sarana pemberdayaan Masyarakat

Dalam fungsinya, perpustakaan bukan hanya sebagai sarana dalam sumber informasi, malainkan juga sebagai sarana dalam pemberdayaan masyarakat. Seperti yang telah kita ketahui, bahwasannya salah satu sifat dari perpustakaaan adalah universal. Dengan ke-universal-annya itu, seolah perpustakaan menjadi sosok pahlawan ditengah masyarakat. Dan karena masyarakatlah perpustakaan akan tetap hidup. Sebagai calon pustakawan, dalam hal ini adalah mahasiswa perpustakaan, harus mengetahui dan peka terhadap hal-hal tersebut. Dengan pengoptimalisasian peran perpustakaan kepada masyarakat umum akan menjadi satu tolak ukur dalam hal pemberdayaan atau mengembangkan masyarakat.

Berangkat dari wacana diatas, ALUS (Association of Library University Students) sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak dalam bidang kepustakawanan, selalu berupaya untuk mengajak seluruh mahasiswa Ilmu perpustakaan dan Informasi serta Perpustakaan dan Informasi Islam UIN sunan kalijaga, agar menjadi agent of change dalam upaya perwujudan cita-cita tersebut. Perpustakaan tidak harus bersifat komersial, akan tetapi perpustakaan juga harus mampu melaksanakan aspek-aspek sosial dalam masyarakat, demi mewujudkan cita-cita bangsa indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.

Sebagai wujud realisasinya, maka ALUS telah mengadakan Diskusi Publik yang bertemakan “Peran Perpustakaan sebagai sarana pemberdayaan Masyarakat” yang dilaksanakan pada tanggal 08 Oktober 2011 di gedung Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan pemateri bapak Sujarwo Putra, seorang presidium perpustakaan Mletik, Malioboro Yogyakarta.

Antusiasme para peserta sudah terlihat sejak panitia menggelar stan pendaftaran diskusi publik. Dan Alhamdulillah, peserta yang terdaftar mencapai angka 128 orang. Yang lebih luar biasanya acara ini bukan hanya dihadiri oleh mahasiswa ilmu perpustakaan saja, akan tetapi dihadiri pula oleh mahasiswa diprodi lain, bahkan Fakultas lain, seperti SKI, Sastra Inggris, dan PAI (Fak. Tarbiyah). Hal ini menunjukkan, bahwa perpustakaan bukan hanya garapan seseorang yang mengambil prodi ilmu perpustakaan saja, tetapi perpustakaan merupakan milik semua orang.

Secara global, acara diskusi publik yang di ketuai oleh Ridwan Nur Arifin (IPI 2010 Div. Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat) dan dibantu oleh seluruh Anggota ALUS yang dibawah kendali ketua umum, Mishbahul Munir (IPI 2008) ini berjalan dengan lancar dan mendapatkan apresiasi tinggi dari para peserta. Bagaimana tidak, dengan kontribusi sebesar Rp 5000,00 peserta sudah mendapatkan fasilitas yang lengkap, mulai dari sertifikat, konsumsi, blocknote, doorprize, ruangan nyaman, dan narasumber yang sangat luarbiasa. Beliau adalah Bapak Sujarwo Putra, Presidium perpustakaan Mletik, Malioboro.

Dalam pembahasannya, narasumber memberikan deskripsi beserta contoh nyata, bahwa perpustakaan dijadikan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat. Dalam kajiannya, pak Jarwo menceritakaan kepada peserta tentang salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan Mletik, Malioboro, yaitu Perpustakaan Troli. Dikatakan perpustakaan troli karena perpustakaan ini menjajakan bahan pustakanya dengan menggunakan troli. Perpustakaan keliling ini berlokasi dikawasan Malioboro. Tentu saja yang menjadi target sasaran pengguna perpustakaan ini adalah para pedagang dan pembeli diarea tersebut. Dan hal yang membuat para peserta diskusi public berdecak kagum adalah penjaja bahan perpustakaan tersebut ialah para pedagang asongan. 

Mereka rela mengorbankan waktu mereka dalam berjualan hanya untuk menjajakan koleksi kepada para pedagang dan pembeli disana. “Walaupun mereka mengorbankan waktu untuk melakukan aksi sosial tersebut, mereka tidak sama sekali menuntut untuk dibayar”, (ujar Pak jarwo). Sungguh sangat luarbiasa, dengan adanya kegiatan tersebut para pedagang di malioboro seakan mempunyai kegiatan baru yang sangat bermanfaat. Perpustakaan Troli ini bekerja pada hari-hari tertentu saja, yaitu senin, selasa, dan rabu. Dikarenakan pada hari Kamis sampai dengan minggu, malioboro dipadati banyak pembeli, dan pihak perpustakaan tidak mau mengganggu aktivitas dari para pedagang tersebut. Antusiasme para pengguna Layanan Perpustakaan ini sangatlah tinggi, disamping diiming-imingi oleh hadiah tahunan yang besar bagi para pengguna yang aktif, perpustakaan ini pun dalam administrasinya tidak memberatkan para anggota pemakai. Walaupun dalam perjalanannya ditemukan banyak sekali problematika yang menerjang, layanan perpustakaan ini sudah eksis selama delapan tahun. Hal ini memberi inspirasi kepada seluruh peserta untuk terus mengabdikan diri kepada masyarakat. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang dikemukakan oleh narasumber dalam upaya memotivasi para peserta dalam hal pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.

Kami sangatlah berbangga sekali dan sangat termotivasi untuk mengembangkan hal-hal tersebut secara lebih luas dan lebih terkordinir. Sebagai wujud perhatian ALUS terhadap kegiatan tersebut, maka ALUS pun merencanakan untuk bekerjasama bersama dengan narasumber dalam hal peningkatan eksistensi perpustakaan troli di Malioboro.

ALUS sangat berbangga hati kepada Bapak Sujarwo, dan sebagai bentuk tanda terimaksih ALUS terhadap beliau, ALUS pun memberikan semacam cinderamata serta uang pembinaan kepada narasumber.
Mudah-mudahan dengan semangat yang dicontohkan oleh narasumber, kita semua termotivasi untuk mengikuti jejak langkah beliau dalam hal pengabdian kepada masyarakat.

Oleh: ALUS

Membaca dan Menulis adalah Tuntutan Hidup



Bukan isu atau kabar angin, bila kegiatan membaca dan menulis merupakan sebuah beban berat dan kerap dianggap sebagai kegiatan yang tidak menyenagkan bagi sebagian besar orang, hal tersebut nampaknya menjadi sebuah permasalahan yang timbul dikalangan kita. Pada hal kegiatan tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam aspek kehidupan kita serta dapat menjadi penunjang atas kesuksesan kita dimasa depan.

Menulis dan membaca merupakan cara berkomunikasi tidak langsung sedangkan berbicara merupakan komunikasi secara langsung. Kedua kegiatan tersebut seringkali kita anggap sepele serta membuat kita malas, namun pada akhirnya menimbulkan penyakit mental akibat ketidak pecayaan diri (PD) yang sering datang menghantui kita. Rasa malas untuk menulis (dan juga membaca) memang merupakan masalah mental yang menjadi penyaklit akut yang dimiliki hampir oleh semua orang, namun karena mental yang kurang bagus tersebut akhirnya keinginan tersebut hanya tinggal angan-angan saja. 

Rasa malas biasanya lebih banyak disebabkan karena kurangnya motifasi dalam diri seseorang. Untuk itu, perlu diberikan motivasi kepada mereka agar tergugah untuk membuat tulisan yang juga dapat menuntut mereka untuk membaca. Selain itu, bagi para dosen salah satu usaha mengatasi kemalasan dikalangan mahasiswa dalam menulis adalah dengan memberi mereka tugas menulis, baik menulis makalah, membuat paper, resensi buku, menulis laporan dan tidak menuntut kemungkinan kegiatan tersebut jua berawal dari membaca. Seorang penulis terkenal pernah menuturkan bahwa tidak mungkin seorang dapat menjadi penulis atau pengarang kalau tidak suka membaca. 

Memang benar, bahwa membaca seperti kalau kita sedang mengumpulkan memori, dengan semakin banyak membaca berarti kita memiliki memori yang kolektif. Dan pada akhirnya wawasan kita menjadi betambah sebagai modal yang dapat menuntut kita untuk mengekspresikannya dalam bentuk tulisan. Begitu pula sebaliknya Jika proses menulis tidak ditunjang dengan aktivitas membaca, maka informasi yang diterima sangat terbatas. Kondisi tersebut akan mempengaruhi proses transmisi informasi dari otak ke tangan ketika menulis, akibatnya sering kita jumpai ketidaklancaran dalam menuangkan gagasan/ ide kedalam tulisan dan berakibat pada pengembangan bahasa ketika kita menulis dapat terhambat, tulisan tidak mengalir dengan lancar, tidak sedap dibaca dan susah untuk dicerna ketika dibaca. 

Untuk mengatasi berbagai kesulitan yang ditemui, maka sebaiknya seorang mahasiswa disarankan untuk lebih banyak membaca dan membaca. Karena dengan membaca dapat memcahkan persoalan, dengan demikian kegiatan menulis memang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan membaca. Untuk dapat menulis dengan baik, maka seseorang harus dituntut untuk banyak membaca sebagai penunjang dalam proses penuangan gagasan cemerlang dalam bentuk tulisan. 

Oleh sebab itu, antara aktivitas membaca dan menulis keduanya sangat penting dan tidak dapat kita pisahkan. Karena gaya tulisan pada kreatifitas pengarang, syarat utamanya yaitu aktivitas membaca. Itulah sebabnya, Stephen Krashen (dalam Hernowo 2003) mengatakan bahwa menulis yang baik hanya dapat diwujudkan dari dari orang yang banyak membaca. Lebih lanjut dikatakan bahwa kekhasan dalam menulis bukan dibentuk dari aktivitas menulis, tapi oleh aktivitas membaca. Bagi orang yang senang membaca, pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat. Karena ilmu pengetahuan terbaru pun banyak yang dijabarkan dalam bentuk tulisan, dengan membaca pula, rasa ingin tahu seseorang akan meningkat pesat. Dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi, secara tidak langsung akan menimbulkan keinginan bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuan diri. Peningkatan kemampuan diri sama halnya dengan peningkatan taraf hidup dan pola pikir. Jika seluruh masyarakat dalam sebuah bangsa dapat mengalami fase ini, bangsa itu pasti akan cepat mengalami kemajuan dari berbagai bidang keilmuan dalam kehidupannya. 

So.., untuk menyikapi hal tersebut, perlu diadakan sebuah gerakan minat baca. Gerakan ini dapat kita upayakan meski minat baca dikalangan kita, khususnya sebagian mahasiswa masih memprihatinkan. Karena kegiatan membaca dan menulis pada dasarnya adalah pekerjaan hati, kemauan hati. Hal yang akan dibaca lalu ditulis bergantung sepenuhnya pada kemauan individu tersebut, jadi intinya hanyalah masalah kemauan saja, karena dimana ada kemauan, maka disana terdapat jalan untuk memulai suatu perubahan hidup, tiada kata terlambat untuk memulai.

Oleh: Mukhlis
*Mukhlis adalah Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat 

Fasilitas Mewah di Perpustakaan

Fasilitas mewah di perpustakaan, adalah gagasan yang bagus dan tentu revolusioner bagi perkembangan dunia perpustakaan, dimana fasilitas mewah bisa menarik pengunjung untuk datang di perpustakaan. Memang akhir-akhir ini banyak perpustakaan yang berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan terbaik untuk pemustakanya, dengan cara memberikan pelayanan yang membuat para pemustaka merasa nyaman dan enjoy untuk berlama-lama di perpustakaan. Seperti ruang ber-AC, sofa empuk, karpet lesehan yang lembut, jaringan internet yang yahud plus bantal-bantal malas untuk semakin menyamankan pemustaka dan yang terbaru, sebuah kafe di perpustakaan. Apakah semua itu salah? Tentu saja tidak, justru hal tersebutlah yang menjadi faktor utama meningkatnya jumlah pemustaka di perpustakaan. Namun tentunya kita juga harus lebih arif dalam menyikapi hal tersebut. Jangan sampai hal-hal yang tersebut diatas tadi menjadikan perpustakaan beralih fungsi utamanya. 

Sekarang, mari kita coba lihat realita yang dimana perpustakaan menyediakan semua fasilitas mewah yang saya sebut diatas. Apakah perpustakaan tersebut selalu ramai pengunjung? Jawabannya tentu iya, namun mari kita lebih dalam bertanya, apakah pengunjung yang banyak tersebut benar-benar membutuhkan informasi? Dan yang paling penting apakah pemustaka yang benar-benar memerlukan informasi mendapatkan apa yang dicari? Tentu akan didapatkan jawaban yang beragam dan saya pikir tidak perlu membahas jawaban itu lebih lanjut disini, karena saya yakin pembaca sudah menerka apa jawabannya. Tentu itu menjadi sebuah ironi ditengah perjuangan memajukan perpustakaaan untuk supaya masyarakatnya juga maju dengan kondisi seperti diatas, yang dimana apa yang menjadi tujuan utama didirikan perpustakaan kalah dengan tujuan mendapatkan trafik pengunjung yang banyak. Tujuan utama perpustakaan adalah untuk memberikan informasi yang diperlukan masyarakat, dan tujuan untuk memberikan pelayanan lebih adalah tujuan setelah tujuan utama tersebut, namun bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Sungguh menjadi semacam ironi ditengah hegemoni.

Lantas apakah salah menyediakan fasilitas mewah untuk perpustakaan? Tentu saja tidak, tidak ada yang salah sama sekali jika memang apa yang sebenarnya diperlukan oleh pngunjung terpenuhi dengan baik, jangan sampai kita melupakan kebutuhan utama pengunjung hanya untuk menyamankan pengunjung. Kebutuhan pengunjung akan informasi yang diperlukan saya pikir lebih utama dibandingkan kebutuhan pengunjung yang ingin mencari tempat ber-AC yang nyaman, yang ada makanan dan ada koneksi internet cepat.

Fasilitas mewah memang tidak salah, memberikan kenyamanan juga tidak salah, namun tentu harus dilakukan secara bijak dan tepat. Memberikan fasilitas lebih memang dianjurkan namun itu terjadi jika fasilitas utama sebuah perpustakaan sudah terpenuhi. Terakhir dari saya, mari kita lebih arif dalam menyikapi keadaan ini, berpikir mana yang perlu dan tidak untuk kemajuan perpustakaan. Memang semua untuk pengunjung, namun tentu saja pengunjung yang bagaimana, oke kawan? 

Oleh: Fauzan Dwi Kurniawan 
*Fauzan Dwi Kurniawan adalah Mantan Ketua Umum ALUS Periode 2010-2011

Go ALUS! Go Indonesia! Go Internasional!

Mari kawan buat tulisan-tulisan dari mahasiswa ilmu perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya ALUS tuk menjelajah dunia. Sangat mudah! Caranya ikut bantu posting di Blog ini melalui email ke  

alusdiy@gmail.com

Admin akan menyeleksi konten apakah artikel, berita foto, cerita kegiatan, dan lain semacamnya layak untuk dipublish. Dan ingat WAJIB menyertakan foto diri sebagai pengenal bahwa kamulah yang mengirim postingan (dengan identitas diri tentunya). Salam #Admin.

Catatan: Attach foto di email WAJIB dan tidak boleh melebihi ukuran 100kb.

Putu Laxman Pendit

*Putu Laxman Pendit (paling kiri) dalam Seminar Regional - Bank Buku Ala Perpustakaan Kota Yogyakarta

PUTU LAXMAN PENDIT, lahir di Jakarta (1959), adalah staf pengajar Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia; memperoleh gelar master dalam bidang Library and Information dari Loborouh University of Technology (1998), Inggris.

Selasa, 29 November 2011

Menggagas Perpustakaan Digital Dalam Ranah Perguruan Tinggi (Public Discussion of ALUS)



Diskusi publik dengan judul Menggagas Perpustakaan Digital Dalam Ranah Perguruan Tinggi yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu (28/05) ialah salah satu agenda kegiatan Divisi Pengembangan Profesi dengan narasumber Siti Nurkamila, S.IP, mahasiswi S2 pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Diskusi berlangsung selama 2 jam dengan pembahasan mengenai konsep, koleksi, dan software perpustakaan digital dalam ranah perguruan tinggi. Adapun yang tercakup dalam konsep yaitu pengertian dan ciri- ciri perpustakaan digital, sedangkan cakupan koleksi adalah koleksi dalam bentuk digital, seperti e-book, local content/ Institusional Repository. Dalam perkembangan perpustakaan digital kini muncul berbagai software, antara lain: Dspace, GDL, GSDL, dan Eprint. 

Diskusi tersebut bertujuan untuk merpererat persaudaraan antar anggota khususnya para anggota muda yang baru menjadi bagian dari ALUS. Sedangkan tujuan yang lain ialah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang kepustakawanan. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan kita.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012 

Arti logo ALUS

ARTI LAMBANG/LOGO ALUS



1.      Bentuk
Buku terbuka, Matahari, nama Association Of Library University Students dibatasi dua bintang dalam lingkaran, dan segi lima
2.      Warna dasar             : Putih
Warna gambar
Buku                    : Putih dan setiap pinggiranya kuning emas
Matahari                   : Hijau, Hitam
Lingkaran bulat        : Hitam
Segi lima                  : Hitam
3.      Arti simbol
·         Buku berarti bertujuan untuk mencerdaskan bangsa melalui buku
·  Matahari sebagai sumber energi dan penerang bagi rakyat Indonesia, Berwarna Hijau dan hitam yang berarti keteguhan iman dan kedalaman ilmu
·  Ligkaran bulat adalah wujud dari kebulatan tekad organisasi untuk mencerdaskan bangsa dan negara
·     Segi lima berarti pembinaan pengembangan lima fungsi utama perpustakaan  yaitu : pendidikan, penelitian, informasi, rekreasi dan pelestarian.