Senin, 30 April 2012

Software Perpustakaan

Penerbitan di Indonesia Part I

KHAZANAH PENERBITAN BUKU DI INDONESIA
BAGIAN I
Oleh : Siti Nurkamila*

Penerbit atau penerbitan adalah industri yang berkonsentrasi memperbanyak sebuah literature dan informasi atau sebuah aktivitas membuat informasi yang dapat dinikmati oleh publik.[1] Dalam perkembangannya penerbit buku memiliki segmen pasar tersendiri. ada buku umum, buku-buku pelajaran, maupun buku-buku agama. Misalnya buku islami, bersifat rohani, dan sebagainya.
Saat ini penerbit buku islami sedang booming di tengah masyarakat, dalam arti kata banyak yang mendirikan penerbit buku islami karena pangsa pasar yang masih sangat terbuka lebar. Hal ini terbukti dengan boomingnya buku-buku islami yang dapat dilihat pada pameran “Islamic Book Fair” yang begitu padat dan tentunya banyak penerbit yang menangguk untung. Beberapa penerbit buku Islami di Indonesia yang sudah cukup besar di antaranya: Mizan, Gema Insani Press (GIP), Pustaka Al-Kautsar.
Yang perlu dipahami saat ini adalah, sebenarnya apa itu penerbit islam? Penerbit Islam adalah penerbit yang memang benar-benar punya visi dan misi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam lewat buku, bukan sekedar menerbitkan buku Islam karena alasan bisnis.[2] Melihat pengertian tersebut dapat dipahami bahwa alasan mereka dapat dikatakan syiar atau dakwah islam yang didaulatkan melalui buku-buku Islami tersebut. Akan tetapi apakah benar yang ada di masyarakat saat ini mereka benar-benar pure berpegang teguh pada prinsip dan visi misi mereka? Menurut penulis, dalam realitanya tidak demikian. Sempat sesekali penulis berkeinginan mencari buku-buku umum, akan tetapi yang ada pada waktu itu Islamic book fair, yang tentunya dalam mainset kita bahwa itu adalah pameran buku-buku yang semuanya bernuansa Islami. Ternyata di lapangan tidak demikian, penulis cukup aktif mengunjungi setiap ada pameran buku umum maupun Islami. Dari pameran tersebut justru sekarang menjadi tumpang tindih, banyak penerbit-penerbit Islam yang ternyata menerbitkan buku-buku umum. Lalu, apa bedanya dengan penerbit-penerbit umum? Yang selama ini kita ketahui bahwa penerbit-penerbit umum mungkin jauh lebih dikenal masyarakat terlebih dahulu. Akan tetapi konsep demikian tidak berlaku untuk saat ini. Terlihat bahwa boomingnya penerbit-penerbit Islam yang karya-karya nya pun tidak kalah bagusnya dengan terbitan umum, penerbit Islam pun kini merambah karya-karya umum yang ditarik ke dalam dunia Islam. Tetapi semakin banyak diminati masyarakat, semakin booming di masyarakat, label penerbit “Islam” pun kini menjadi “the big question is?
Dari pemaparan tersebut akan terjadi kerancuan label. Terkesan aneh dan lucu, yang mana penerbit-penerbit yang tidak dikenal “Islam” terhalang etika untuk menjual buku-buku umum, sementara penerbit-penerbit yang selama ini mempunyai nuansa Islam bebas menjual buku-buku umum yang nantinya ketika pameran buku-buku umum pun juga dijual kembali. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga dilakukan oleh penerbit umum. Saat ini, penerbit umum juga didapati menerbitkan buku bernuansa Islam. Melihat kondisi demikian menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara penerbitan Islam dan penerbit umum. Untuk itu perlu kiranya kita kaji lebih lanjut bagaimana sejatinya perjalanan para penerbit bergerilya dalam kancah perbukuan di Indonesia.


*Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
[1] Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penerbit diakses pada tanggal 20 Januari pukul2:53 WIB.

Sabtu, 28 April 2012

Perpustakaan Digital ALUS


Dalam rangka memajukan dan mengembangkan ALUS, TIM Divisi Pers dan Informasi berusaha untuk selalu mengupdate dan menyebarkan Informasai-informasi yang sekiranya dibutuhkan oleh pengguna khususnya Anggota ALUS itu sendiri, selain itu karena kemudahan akses dan berbagi informasi TIM Divisi Pers dan Informasi telah membuat semacam Perpustakaan Digital/DIGILIB atau Digital Library yang menggunakan Software GDL Versi 4.2. karena baru dibuat Digilib tersebut tentu saja masih banyak kekurangan-kekurangannya. untuk itu kedepannya masih akan terus kami kembangkan dan kami perbaiki agar bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Kamis, 19 April 2012

Lowongan Di Perpustakaan ICBC

LOWONGAN PUSTAKAWAN..... :)

Perpustakaan Interaktif ICBC adalah bagian dari Lembaga ICBC (Institute for Community Behavioral Change) sebuah NGO Lokal di Yogyakarta yang fokus kegiatannya pada promosi perubahan perilaku sehat dan ramah lingkungan. Perpustakaan ICBC melayani peminjaman koleksi buku, jurnal dan artikel psikologi. Sebagian besar pengunjungnya adalah mahasiswa dari Fakultas Psikologi dari berbagai Universitas di Jogja dan sekitarnya. Koleksinya berupa lebih dari 2055 exp buku dan 1508 eks artikel publikasi ilmiah (jurnal) baik skala nasional maupun internasional.

membutuhkan PUSTAKAWAN
SYARAT:
- Minimal Lulusan Pendidikan D3 Informasi dan Perpustakaan
- Teliti
- Mampu Berkomunikasi Aktif
- Kemauan Belajar Tinggi
- Bersedia bekerja penuh waktu 40 jam/minggu dengan jam kerja Senin-Jumat pukul 9.00 s.d 17.00 WIB

JIKA BERMINAT:
Kirim surat lamaran dilengkapi dengan
CV, transkrib nilai, foto berwarna
Ke alamat email:
icbc_jogja@yahoo.com
Atau
Datang ke Perpustakaan ICBC
Jl. Ki Mangunsarkoro 27 Yogyakarta 55111
Setiap jam kerja 9.00-17.00 WIB
info: Nisak (0274) 562 990/HP.0812 269 9139

Rabu, 18 April 2012

Penelitian Literasi Informasi

Salam sejahtera,
Salam literasi informasi,

Dalam rangka Penelitian Literasi Informasi Tingkat Internasional yang
berlangsung pada bulan 1 April-30 Juni 2012, Prof. Sulistyo-Basuki, P.hD. (Guru
Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi) mewakili Indonesia sebagai Peneliti
Literasi Informasi di Indonesia. Untuk memperoleh data dan gambaran Literasi
Informasi di Indonesia maka dimohon keikutsertaannya ya, khususnya bagi para mahasiswa Indonesia
yang sedang menempuh Pendidikan Starata 1 (S-1), Diploma III (D-III), dan
Diploma IV (D-IV) untuk menjadi responden penelitian ini dengan mengisi
kuesioner yang telah disediakan online. untuk Form Kuesioner dapat diakses melalui link di
bawah ini :

http://
www.sulistyo-basuki.com/web/?q=node%2F8
atau
https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dFFtNTlnVlI0Wk11ZzJIcUJ5aVB3VEE6MA

NB : Jangan lupa sebarkan informasi ini dan ajak teman-teman Anda untuk
berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. Partisipasi Anda untuk
mengisi kuesioner penelitian ini, sangat bermanfaat untuk mengetahui tingkat
perkembangan Literasi Informasi Indonesia di Kancah Internasional.

Pesan dari :
Prof. Sulistyo-Basuki, Ph.D
Guru Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi

Rabu, 11 April 2012

HOME LIBRARY : Perlu nggak sich…?


Segala hal kecil yang menjadi karakter seseorang, umumnya dimulai dari rumah. Jika ditelusuri, segala kebiasaan aneh, gokil, lebay/alay, atau ajaib sekalipun umumnya berakar dari rumah, begitu juga dengan kebiasaan atau minat akan membaca pada tiap manusia. Kegemaran membaca sendiri sebagai bagian dari proses menambah intelektualitas dan sudah terbukti kebenarannya. Berkaca dari pengalaman berbagai tokoh ahli maupun cendekiawan yang terkenal akan prestasi dan kemampuan akademik mereka, sebagian besar pengetahuan yang mereka dapatkan dari buku yang mereka koleksi atau sumber bacaan lain yang telah mereka baca.
Sebagai makhluk tuhan yang berkecimpung dalam dunia akademik, tentu memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, termasuk kecintaan terhadap buku sebagai wadah khasanah pemikiran anak bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya. Tentu saja dari berbagai tuntutan-tuntutan akademik tersebut yang mengharuskannya untuk memiliki berbagai koleksi buku sebagai bahan referensi kuliah. Wajar saja jika Cicero, seorang orator dan penulis prosa terkenal di abad 43 SM. Mengemukakan bahwa “A room without books is like a body without a soul”. Rumah seseorang yang gemar membaca buku setidaknya pasti memiliki suatu tempat yang dikhususkan untuk menyimpan buku, entah itu lemari, meja belajar, meja kecil atau bahkan ruangan yang memang diperuntuhkan sebagai perpustakaan rumah alias home library.
Sebagain besar dari kita sendiri pun bertanya-tanya, home library itu penting tidak dan mengapa harus disertakan dalam hidup kita, menurut Jatinegara (2009:8) bahwa beberapa alasan perlunya memiliki home library  adalah sebagai bearikut :
1.    sebagai ruang penyimpanan (storage) agar koleksi tersebut dapat tertata rapi
2.    memperindah ruangan dari sisi interior
3.    menumbuhkan minat baca bagi penghuni/pemiliknya
4.    sumber referensi bagi keluarga
5.    menjadi tempat alternatif untuk menunjang pekerjaan
6.    sebagai tempat/pusat informasi jangka panjang
7.    sebagai media pembelajaran yang praktis
    Oleh sebab itu, menciptakan home library, tidak hanya membuat koleksi tersimpan dengan baik dan rapi, tapi lebih dari itu dapat meningkatkan minat baca. Begitu juga dengan adanya home library, diharapkan dapat membuat kita semakin menghargai buku dan menunaikan hak-haknya, serta keberadaanya (home library ) dapat memperindah ruangan (rumah) dengan cara yang elegan dan masih banyak lagi kelebihan yang lainnya.
    Merasa tertarik untuk mengetahui lebih lanjut seputar home library lebih lanjut? Jangan khawatir, masih ada part-part berikutnya yang akan kami bahas, tunggu tanggal mainnya  ya..

Oleh: Mukhlis
        *Demisioner ALUS.

Senin, 09 April 2012

Long Life Education

Perpustakaan Sebagai Tempat Belajar Seumur Hidup
( Long Life Education)

Oleh : Setyo Budi S*)

Kita harus menghapus pemikiran lama, bahwa negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah belum tentu kaya ataupun maju. Semua kekayaan sumber daya alam, semua potensi yang dimiliki negara tersebut akan menjadi percuma ketika tidak ada sumber daya manusia yang mampu untuk mengelolanya. Untuk tolok ukur kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat kita lihat dari tingkat pendidikan dan prestasinya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Apakah pendidikan di Indonesia sudah baik dan bisa di nikmati oleh semua kalangan? Ya, Tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan yang ada di Indonesia saat ini belum bisa dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana kenyataan yang ada di sekitar bahwa ternyata masih banyak anak – anak yang tidak bisa menikmati bangku sekolah. Banyak anak-anak yang putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi. 
Ekspresi demikian ini terekam dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Harian Kompas Edisi 17 Oktober 2003. Bahwa tidak kurang 42% Responden berpendapat, biaya sekolah di SD saat ini sangat mahal, kemudian 45% menganggap biaya SMP saat ini sangat mahal dan 51% mengatakan biaya SMU saat ini sangat Mahal. Dan jangan tanya bagaimana untuk biaya di Perguruan Tinggi apalagi di Universitas terkenal atau bahkan Swasta tentu jauh lebih mahal biayanya. Menurut Eko Prasetyo (2011: 12), Walaupun dasar hukum konstitusional menyatakan kalau Negara mengeluarkan anggarana 20% untuk biaya pendidikan, akan tetapi disisi lain ada desakan lain untuk pelaksanaan otonomi dan pengurangan subsidi. Kebijakan yang bertolak belakang ini ujung-ujungnya membawa korban masyarakat umum.
Untuk itu Perpustakaan ada sebagai salah satu usaha untuk menjawab masalah tersebut, tujuan perpustakaan sesuai dengan Undang-Undang No.43 Tahun 2007 ini adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peranan Perpustakaan dalam masyarakat menurut Sulistyo-Basuki (1993: 27-29), salah satunya adalah menjadi sarana pendidikan formal dan nonformal artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun juga tempat belajar dalam lingkungan pendidikan sekolah. Tempat belajar nonformal yaitu pada perpustakaan umum sedangkan tempat belajar formal bisa perpustakaan sekolah atau perpustakaan perguruan tinggi. Banyak Tokoh-tokoh terkenal dunia yang sering menghabiskan waktunya untuk belajar di tempat belajar nonformal ini seperti Abraham Lincoln (Presiden Amerika Serikat ke-16), Jawaharal Nehru (Perdana Mentri Pertama di India), Karl Marx (Penulis buku manifesto Komunis) dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu pendidikan merupakan terapi yang ampuh untuk meningkatkan sumber daya manusia. Hasil dari proses pendidikan yang benar akan dapat mengeluarkan seseorang dari kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan serta akan menumbuhkan budaya membaca dan kecintaan masyarakat akan perpustakaan. Dengan demikian sangat diperlukan dukungan dari pemerintah khususnya melalui kebijakan-kebijakannya dan juga dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan pendidikan yang memerdekakan. Salah satu bentuk pendidikan yang dapat dikembangkan adalah pendidikan seumur hidup (life long education) dengan menggunakan perpustakaan sebagai pusatnya, karena selain perpustakaan itu karena bersifat netral (tidak ada unsur politik), murah meriah, untuk seluruh kalangan/lapisan masyarakat, tidak terbatas pada waktu (seperti SD pendidikan 6 tahun, SMP/SMA 3 tahun), untuk semua umur baik anak-anak, remaja ataupun dewasa.

Melalui Perpustakaan umum dan perpustakaan keliling baik itu milik pemerintah maupun milik swasta rupanya sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada selain di disekolah (Pendidikan Formal) dengan cara menumbuhkan kebiasaan membaca khususnya pada anak-anak, Bahkan dengan adanya Perpustakaan keliling harusnya bisa meningkatkan layanan penyebaran informasi keseluruh daerah contohnya : mengunjungi desa-desa terpencil di pelosok pedalaman yang jauh dari kota dan minim infrastruktur seperti yang dilakukan oleh sebuah Perpustakaan keliling milik lembaga swasta ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan keliling. Dukungan dari masyarakat umum pastinya juga sangat dibutuhkan untuk mensukseskan program ini, misalnya ketika perpustakaan keliling datang Kepala Desa menyambut kedatangannya dengan baik, memberikan pengumuman kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Jadi intinya dengan perpustakaan kita bisa memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat yang tidak mampu menikmati pendidikan forma (Sekolah), namun untuk mewujudkan itu kita memerlukan dukungan dari Pemerintah baik itu berupa fasilitas dari perpustakaan umum atau juga melalui kebijakan-kebijakannya, selain itu calon-calon Pustakawan dan Pustakawan sebagai Sumber Daya Pengelola haruslah pintar dan kreatif dalam memilih metode-metode untuk membimbing pengguna bagaimana agar pengguna bisa memanfaatkan sarana dan prasarana di perpustakaan dengan semaksimal mungkin.

REFERENSI :
Kompas Edisi 17 Oktober 2003.
Prasetyo, Eko. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Resist Book: Yogyakarta, 2011.
Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1993.

*) Setyo Budi S, KaDiv Pers dan Informasi ALUS Yogyakarta.