Kamis, 19 Desember 2013

Ucapan Selamat Kepada KPAD Gunung Kidul


Lama ngak berjumpa, itu yang kami rasakan. Kalo di ibaratkan kaya kemarau yang baru saja dibasahi oleh air hujan, seperti itu perasaan yang kami alami. Kami kembali ke KPAD (Kantor Perpustakaan Arsip Daerah)  Gunung Kidul lokasinya di wonosari. Kami datang memenuhi undangan acara bedah buku. Sedikit informasi KPAD wonosari merupakan perpustakaan daerah yang letaknya di Wonosari kota, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta.


Rasa kagen ingin kembali ke KPAD. Kami kembali seperti kami pulang ke rumah. Di sana kami di sambut. KPAD Wonosari pemenang lomba perpustakaan tingkat nasional. Mereka maju untuk mewakili daerah Jogjakarta. Secara langsung kami terlibat dalam penilaian perpustakaan. Dahulu kami belajar mengenal koleksi yang bersifat umum, preservasi, kami belajar mengenai layanan sirkulasi dan layanan refrensi. Kami bersyukur dapat terlibat di dalamnya. Apa yang telah kami dapatkan pengalaman sangat luar biasa. Dimana ada kenangan, rasa emosi bercampur antara haru dan bangga. KPAD Wonosari pemenang juara II kami memberikan kenang-kenangan sebagai ucapan selamat dan terimakasih.

Sabtu, 14 Desember 2013

Dongeng Untuk Sang Generasi Digital

Dongeng merupakan salah satu tradisi yang sampai sekarang masih banyak dijumpai dalam masyarakat dunia.  Dongeng sendiri merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Cerita prosa rakyat pun penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan dan biasanya dengan media tercetak terbatas.
Generasi digital sudah tiba dan mereka pun bertebaran dengan rasa ingin tahu besar yang dibarengi dengan sikap akrab mereka menggunakan teknologi. Hal ini yang berusaha direspon oleh International Children Digital Library Foundation (ICDL Foundation) yaitu untuk melakukan preservasi pengetahuan dengan memberikan akses bagi seluruh anak-anak di seluruh dunia dari beragam etnis dan budaya dengan membangun repositori terbesar multikultural di dunia online khusus untuk bacaan anak-anak yang berupa dongeng atau cerita anak.
The International Children's Digital Library Foundation (ICDL Foundation) atau lebih dikenal dengan ICDL pada awalnya dibentuk oleh tim peneliti interdisipliner di University of Maryland bekerjasama dengan Internet Archive, didanai oleh National Science Foundation (NSF) dan Institute of Museum and Library Services (IMLS) untuk menciptakan perpustakaan digital khusus untuk literatur anak-anak berskala internasional.
Anggota tim tersebut termasuk ilmuwan komputer, pustakawan, ahli teknologi pendidikan, guru, desainer grafis, dan mahasiswa pascasarjana studi informasi dan Human Computer Interaction Lab (HCIL) University of Maryland.
Kontributor penting lainnya untuk proyek ini adalah anggota dari College Park Kidsteam, yang merupakan sekelompok enam anak berusia 7-11 tahun, yang bekerja secara periodik dengan tim ICDL Foundation. Kemitraan (partnership) yang unik tersebut dibentuk dengan tujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi teknologi antarmuka komputer yang mendukung pencarian, browsing, membaca, dan berbagi buku dalam bentuk elektronik yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.
Pada kebanyakan kasus, individu dari negara atau budaya yang menjadi anggota maupun relawan (volunteer) diberikan tanggung jawab untuk mengidentifikasi bahan yang akan dimasukkan ke dalam koleksi. Bahan-bahan di ICDL yang dimaksudkan harus :
  1. Mendukung pemahaman persamaan serta perbedaan antarnegara, masyarakat, dan budaya.
  2. Mempromosikan toleransi dan penerimaan budaya satu dengan yang lainnya.
  3. Memiliki kontribusi untuk pemahaman anak terhadap keragaman masyarakat global.
  4. Memiliki daya tarik tingkat tinggi bagi anak-anak usia antara 3 dan 13 tahun.
  5. Memenuhi standar kualitas profesional yang dapat diterima dari segi isi, bentuk, dan penyajian.
  6. Masih dianggap relevan untuk anak-anak dunia saat ini.
  7. Memiliki kesesuaian untuk tingkat usia audience dan disajikan secara efektif dalam format digital.
  8. Disajikan secara keseluruhan bukan ringkasan dari bentuk asli yang diterbitkan.
  9. Memiliki cakupan dan ragam budaya serta signifikansi historis yang terwakili dalam koleksi.
  10. Mewakili kualitas artistik, sejarah, dan sastra, seperti pemenang penghargaan, atau berkontribusi untuk penelitian.
Semua bahan koleksi yang sekiranya memiliki kontribusi akan dievaluasi menggunakan berbagai kriteria di atas. Sementara semua bahan yang dimasukkan ke dalam koleksi harus memenuhi banyak kriteria yang tercantum di atas. Antisipasi dilakukan bahwa tidak setiap item dalam koleksi akan memenuhi semua kriteria, karena ICDL merupakan sebuah sarana preservasi pengetahuan koleksinya tetap mencerminkan beragam budaya, perspektif, dan periode sejarah.
Penasaran?  Sila kunjungi :
Semoga bermanfaat :)
Muhammad Rosyihan Hendrawan
>Peneliti Independen Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi
>Anggota Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia 
>Ka.Div Pers ALUS 2009-2010

Pendidikan Profesi Pustakawan

     Selama ini, jika mendengar tentang perpustakaan pastilah yang ada dalam pikiran kita adalah sebuah ruangan persegi panjang yang sedikit luas, penuh dengan rak-rak dan buku berdebu, pengap dan kurang cahaya. Bahkan di beberapa judul film bergenre horor negeri ini yang menjadikan perpustakaan adalah tempat mengubur mayat di dinding atau lantainya, semakin menambah kesan minus perpustakaan. Dan ada fungsi baru dari perpustakaan yang saya ketahui barusan: untuk diskusi—atau pacaran? entah. 
      Perpustakaan tidak bisa dipisahkan keberadaannya dalam dunia pendidikan. Apa jadinya jika perpustakaan itu tidak ada di sekolah? Pasti para orang tua harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli buku yang dibutuhkan anaknya, tapi karena ada perpustakaan maka murid sekolah cukup meminjam dan mengambil ilmu seperlunya untuk kemudian dikembalikan lagi.
      Pandangan masyarakat selama ini mengenai perpustakaan seperti di atas bisa muncul karena faktor tingkat pendidikan. Perpustakaan di sekolah-sekolah dari jenjang SD, SMP, sampai SMA pasti berbeda. Apalagi untuk perpustakaan di tingkat universitas. Perpustakaan di SD, SMP, dan SMA kebanyakan masih konvensional yaitu perpustakaan yang bahan pustakanya berupa buku dan dilayani oleh pustakawan—yang biasanya dikenal galak—secara langsung. Coba saja bandingkan antara perpustakaan SMA dengan universitas, pasti akan sangat berbeda karena perpustakaan SMA pemustakanya hanya siswa sekolah itu, sedangkan perpustakaan universitas pemustakanya berasal dari berbagai universitas bahkan untuk kalangan umum. 
     Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari seorang pustakawan atau yang lebih dikenal sebagai penjaga perpustakaan. Paradigma masyarakat tentang tugas pustakawan selama ini hanya menjaga buku, melayani sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku oleh pemustaka, dan menatanya kembali dalam rak. Benar memang tugas seorang pustakawan adalah seperti yang tersebut di atas, tapi tidak sesederhana itu. 
       Sebagian masyarakat beranggapan perpustakaan itu tidak begitu penting sehingga keberadaan pustakawan juga tidak dianggap penting. Tugas mereka hanya menjaga arus sirkulasi perpustakaan dan menatanya kembali di rak sesuai semula, siapa yang tidak bisa? Bahkan anak SMP pun bisa melakukannya. Profesi pustakwan itu belum diakui karena tidak adanya pendidikan profesi pustakawan, berbeda jauh dengan dokter. Sarjana-sarjana kedokteran itu harus menempuh pendidikan profesi dokter dulu sebelum secara langsung bekerja sebagai dokter. Lalu, mengapa pustakawan tidak ada pendidikan profesi?
     Ironisnya, perpustakaan yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan di Negara kita tidak dikelola oleh orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Di sekolah, perpustakaan dikelola bukan oleh seorang alumni ilmu perpustakaan, tapi hanya dikelola oleh guru atau pegawai TU sekolah. Kenapa bisa seperti itu? Karena di sekolahpun yang notabenenya lembaga pendidikan beranggapan bahwa perpustakaan tidak penting sehingga tidak perlulah menarik seorang pustakawan hanya untuk menjaga perpustakaan. Kabar terbaru terkait perpustakaan yang saya dengar adalah dimutasikannya walikota Jakarta Utara oleh Gubernur DKI sebagai kepala sebuah perpustakaan karena kinerjanya buruk. Apakah hanya sebagai tempat pembuangankah institusi ini? 
      Padahal perpustakaan adalah gudangnya ilmu karena disana banyak terdapat buku yang ‘katanya’ merupakan jendela dunia. Yang memperlakukan perpustakaan dan menganggap perpustakaan seperti itu justru orang-orang yang bisa dikatakan ‘pernah menempuh pendidikan tinggi’ dimana pasti ia pernah menggunakan jasa perpustakaan untuk mengerjakan skripsi, tesis, atau disertasinya. 

Isnaeni Setyaningsih 
Mahasiswi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga