Pojok Digital - Hikmah Gejolak Media Sosial

Posted by ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan on 00.54 with No comments

RENTANG tahun 2017 – 2018, media sosial ramai polemik. Selain memang karena developer aplikasi media sosial harus rutin mengeluarkan update fitur secara berkala, beberapa waktu lalu ada sekumpulan berita ‘hangat’. Facebook, sasalh satu media sosial terbesar berencana mengeluarkan ‘project space’. Layanan ini, memungkinkan pengguna berinteraksi ‘lebih nyata’di Facebook melalui perangkat VR. Namun, naasnya Facebook juga tengah diterjang isu mengenai bocornya data pribadi via insiden Cambridge Analytica. Instagram, yang juga anak perusahaan facebook, tengah diuji militansi usernya. Algoritma Instagram yang baru (based on engagement) dinilai ‘merugikan’ dan banyak user mengajukan kembali pada algoritme lama (based on time). Di saat yang sama, muncullah Vero, aplikasi pesaing instagram (dan Facebook) yang memiliki slogan ‘lebih realistis’.
Jagad maya Indonesia juga tidak lepas dari hiruk pikuk pemblokiran situs atau aplikasi yang disinyalir menghadirkan konten yang ‘tidak layak’. Sebut saja Telegram sebagai contoh, atau WhatsApp dan Tumblr. Meski pada akhirnya memang ada mediasi terhadap situs-aplikasi di atas dan akhirnya ada pencabutan atau pending (terus dimediasikan agar pemblokirannya dihapus). Dari sekian banyak pemblokiran tersebut, rasanya ada beberapa hal yang bisa kita jadikan renungan bersama.
Pertama, tingkat kepedulian masyarakat atas konten negative. Beberapa tindakan pemblokiran yang dilakukan pemerintah (Kominfo) juga berdasarkan laporan dari masyarakat. Semakin hari masyarakat kita sudah semakin paham dan peduli untuk melakukan pengawasan terhadap situs atau aplikasi yang dinilai memuat konten negatif.
Kedua, terus menjaga sikap hati-hati dalam berinternet khususnya dalam bermedia sosial. Para pengembang aplikasi dan penyedia informasi cenderung menghadirkan fitur dan hal baru yang sesuai dengan minat masyarakat. Untuk sekian persen, dapat diasumsikan bahwa media sosial dan internet mencerminkan seperti apa masyarakat secara umum.
Epilog. Kita patut terus bertanya apakah internet dan media sosial itu bebas nilai atau bebas ‘diisi’ nilai? Arus informasi yang sangat pesat terus mengikis batas dunia maya dan dunia nyata, menguatkan term ‘world citizens’. Informasi pribadi adalah informasi publik, pun sebaliknya. Pada akhirnya, segala perubahan tersebut selalu bergantung pada bagaimana kita merespons dan bersikap sesuai pemahaman masing-masing.

(Akmal Faradise, pemerhati TI di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)-g