Senin, 30 November 2015

ALUS Goes to School Java Tour 2015




Telah kita ketahui bahwa, pada dasarnya pendidikan tidak bisa lepas dari perpustakaan dimana perpustakaan sebagai jantung pendidikan dan tempat belajar sepanjang hayat (long life education). Dari banyak negara maju, perpustakaan sangat ambil peran dalam meningkatkan kecerdasan masyarakatnya dengan minat baca rata-rata mereka yang tinggi. Negara maju sangat menaruh perhatian akan pentingnya perpustakaan sehingga pemerintah pun sedemikian efektif dalam mengatur jam belajar siswa di sekolah dan memberikan anggaran dana yang tak sedikit jumlahnya untuk perpustakaan. Tentu hal ini akan berdampak baik bagi perpustakaan maupun pustakawan itu sendiri.
Di Indonesia yang masih dalam kategori negara berkembang, perpustakaan belum semaju di negara-negara maju dimana masih banyak perpustakaan yang harus dibenahi agar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Perpustakaan (SNIP)  dan Standar Nasional Perpustakaan yang menjadi pedoman perpustakaan di Indonesia. Berangkat dari lal ini, para penggiat di bidang perpustakaan dituntut untuk lebih gencar lagi dalam mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat. 

Salah satu penggiat di bidang perpustakaan adalah organisasi ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan DIY dimana pada 28 November 2015 serentak mengadakan kegiatan ALUS Goes to School. Kegiatan ALUS Goes to School (AGTS) ini sendiri merupakan kegiatan rutin tahunan ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Pada tahun 2015 ini mengambil tema ALUS Goes to School Java Tour 2015 dimana sasarannya adalah beberapa perpustakaan sekolah dari tingkat SD, SMP (MTs), SMA (MA) yang berada di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY yakni MAN Buntet Pesantren Cirebon, MTs Kepanjenkidul Blitar, SDIT Salsabilah Baiturrahman Klaten, SMP N 2 Banguntapan Bantul, SDN Brosot Kulon Progo, SMP N 4 Pakem Sleman, SD Muhammadiyah Bogor Gunung Kidul, SMK N 2 Cirebon, dan SD Muhamadiyah Sleman. ALUS Goes to School Java Tour 2015 ini diisi dengan berbagai  kegiatan yang ditujukan kepada siswa maupun perpustakaan (pustakawan) yakni pendidikan pemakai (user education), mendongeng (story telling),  game perpustakaan, pengenalan dan pelatihan aplikasi software perpustakaan kepada pustakawan serta konsultasi tentang perpustakaan oleh pustakawan.

Dari kegiatan ALUS Goes to School Java Tour 2015 ini dapat diketahui salah satu faktor yang menghalangi majunya minat baca masyarakat di Indonesia. Berdasarkan diskusi dan pemaparan dari salah satu pihak sekolah menjelaskan beberapa faktor yang menghambat tumbuhnya minat baca di sekolah. Pertama, ‘waktu’ menjadi sangat penting agar minat baca itu bisa tumbuh dengan baik. Sebagai salah satu pihak sekolah yang diajak berdiskusi, beliau mengemukakan bahwa waktu yang terlalu banyak diisi dengan belajar di kelas dan waktu istirahat yang sedikit menyebabkan siswa tidak sempat untuk membaca. Seperti sekolah beliau sendiri, saat jam istirahat banyak siswa yang lebih memilih pergi ke kantin serta ke masjid. Hal ini karena, dengan jam belajar yang panjang menyebabkan siswa mudah lapar. Dari hal ini saja, tentu dapat diketahui bahwa pada dasarnya pemerintah memiliki peran besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat utamanya dilingkungan sekolah dengan mengatur jam belajar agar lebih efektif. Kedua, para guru tidak bisa selalu mengadakan pembelajaran dengan mengkorelasikan antara belajar di kelas dengan perpustakaan karena tidak semua pelajaran bisa dilakukan pembelajarannya di perpustakaan seperti matematika.  Selain itu siswa juga belum siap jika menggunakan sistem belajar berbasis perpustakaan. Ketiga, anggaran dana yang disediakan oleh pemerintah khususnya untuk perpustakaan masih minim. Dengan anggaran yang hanya 5% ini pihak sekolah tidak mudah untuk mendapatkannya. Seperti dari pihak sekolah yang diajak berdiskusi, mereka sudah sering mengajukan proposal kepada pemerintah untuk perbaikan perpustakaan namun dana itu sendiri tidak turun juga. Melihat realita di lapangan seperti ini, pihak sekolah memutuskan untuk tidak berharap lagi dari dana pemeritah. Pihak sekolah memilih membangun perpustakaan secara mandiri dan tanpa merepotkan pihak siswa terkait anggaran dana perpustakaan. 

Dari berbagai faktor penghambat tumbuh kembangnya minat baca di Indonesia yang diketahui dari adanya kegiatan ALUS Goes to School Java Tour 2015, hal ini bisa menjadi evaluasi untuk semua stage holder agar bersinergi dalam menumbuhkan minat baca di Indonesia. 

AGTS Java Tour Blitar

PEKAN INOVASI DAN TEKNOLOGI LIPI 2015




Memasuki era digital, informasi dan teknologi semakin berkembang pesat. Kemajuan informasi yang ditandai dengan ledakan informasi (information explosion) dan teknologi ini sudah seperti dua hal yang tidak bisa dipisahkan lagi serta kedua hal ini juga sangat berpengaruh pada masyarakat. Masyarakat di era digital yang sudah cenderung menjadi information society (masyarakat informasi) ingin mendapatkan akses informasi secara cepat dan tepat; instant. Maka atas dasar ini pengelola informasi dituntut untuk lebih kreatif dan bisa mengikuti perkembangan informasi dan teknologi agar kebutuhan masyarakat akan informasi terpenuhi dengan cepat dan tepat pula.

Solo, 19-21 November 2015, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan menghadiri undangan dalam rangka Pekan Inovasi dan Teknologi LIPI 2015 di Mall Paragon, Surakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI). 

Acara ini merupakan kegiatan tahunan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI). Tahun pertama diadakan di Surabaya (2014) dan pada tahun kedua dilaksanakan di Solo (2015). Kedepannya, pada tahun ketiga (2016) mendatang Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI) sudah memiliki rencana untuk melaksanakan kegiatan ini diluar Jawa yakni Balikpapan atau Makassar.
Wahid Nashihuddin selaku Demisioner ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan merupakan pihak LIPI menjelaskan bahwa Pekan Inovasi dan Teknologi LIPI ini bertujuan untuk mendekatkan LIPI kepada masyarakat. Acara yang diadakan di Mall ini agar LIPI tidak dianggap sebagai lembaga yang terlalu birokrat yakni jauh dari masyarakat sehingga jika diadakan di Mall  masyarakat menjadi lebih kenal LIPI dan masyarakat tidak segan-segan untuk berkunjung ke stand-stand pameran. Sebaliknya, jika diadakan di Akademisi seperti di Badan Perpustakaan Daerah atau lainnya masyarakat umum tidak akan mengetahui produk-produk hasil penelitian LIPI padahal produk-produk hasil penelitian LIPI bertujuan untuk kehidupan masyarakat lebih baik bukan untuk kalangan tertentu. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Ilmiah (PDII LIPI) peran sertanya dalam pameran adalah untuk mempromosikan produk-produk dan jasa layanan informasi ilmiah seperti kemasan informasi, layanan ISSN, kegiatan pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya (19/11).

Dalam rangka Pekan Inovasi dan Teknologi LIPI 2015 (19/11), PDII-LIPI melakukan Sosialisasi ISSN (International Standart Serial Number) Online dan Literasi Akses Informasi yang dilaksanakan di Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Peserta yang hadir pun tidak sedikit, yakni dari berbagai kalangan dosen, peneliti, pustakawan, mahasiswa, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan lembaga akademik lainnya.

Pertama, secara garis besar Sosialisasi ISSN Online perlu dilakukan agar pengelola informasi khususnya pengelola jurnal bisa segera melek informasi bahwa semua pengelolaan jurnal ilmiah pada 2016 mendatang akan dilakukan secara elektronik. Sri Hartinah selaku Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI) menjelaskan bahwa melek terhadap informasi itu bukan hanya pada buku-buku saja karena era sekarang adalah era digital sehingga informasi pun harus bisa dikemas dengan sedemikian rupa. Beliau juga menjelaskan bahwa pengelolaan jurnal ilmiah berbasis elektronik ini sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) nomor 1 tahun 2014 mengenai Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah. Peraturan ini berlaku untuk semua perguruan tinggi maupun lembaga penelitian.

Sosialisasi ISSN Online ini bertujuan agar perguruan tinggi maupun lembaga penelitian mengetahui bahwa LIPI memiliki server dan SDM pengelola jurnal yang bisa digunakan atau dimanfaatkan. Jurnal yang dikelola pun memiliki standar akreditasi dan reviewer sehingga produk jurnal ilmiah yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan serta terjamin kevalidan konteksnya. Terkait akreditasi juga tercakup dalam Pedoman Akreditasi LIPI Perka LIPI No.3 Tahun 2014 Tentang Akreditasi Pedoman Terbitan Berkala Ilmiah. Untuk pengajuan Sistem Akreditasi Jurnal Ilmiah tersebut, harus memenuhi persyaratan pengajuan akreditasi yang sudah ditetapkan oleh PDII-LIPI.

Sistem ISSN dalam jurnal secara elektronik ini mendapat respon baik dari sivitas akademika perguruan tinggi dan lembaga pelitian. Salah satunya adalah Rektor Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, yakni Prof. Ongko Cahyono, beliau menargetkan bahwa Jurnal Ilmiah Online telah digunakan oleh sepuluh program studi di UTP pada tahun 2016 mendatang. Melihat berbagai respon baik tersebut bahkan menjangkau perguruan tinggi di berbagai daerah, ini merupakan pertanda baik bahwa adanya sistem elektronik jurnal online secara berkala sangat membantu para sivitas akademika khususnya dalam meningkatkan kualitas output dan mencegah plagiat. Hal ini dijelaskan oleh Sri Hartinah. 

Layanan ISSN Online PDII-LIPI ini terdiri dari perkembangan ICT (informasi, komunikasi, dan teknologi), pecepatan penyebaran informasi, sistem layanan publik secara online, pusat nasional ISSN, dan penigkatan layanan publik.

Mengenai pusat terbitan ISSN, pusatnya berada di Paris sedangkan di Indonesia dikelola oleh pihak PDII-LIPI.  Berdasarkan data dari PDII-LIPI, akhir tahun 2014 PDII kehabisan stok ISSN. Hal ini menyebabkan PDII menerbitkan ISSN dalam jumlah sedikit pada bulan januari.

Kedua, Literasi Akses Informasi. Ini adalah pembahasan yang menarik, utamanya dikalangan mahasiswa. Literasi bukan lagi melek informasi, Krisch dan Jungeblut mengemukakan bahwa literasi berarti melek teknologi, politik, berikir kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Mahmudin (Bidang Diseminasi Pusat Informasi dan Informasi Ilmiah LIPI) menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan penyumbang terbesar kultur literasi di Indonesia. Seiring waktu, tradisi literasi mahasiswa beralih pada tradisi lisan dan lebih senang mencari informasi melalui elektronik dan pada akhirnya kebanyakan mahasiswa lebih senang jika informasi yang mereka butuhkan itu dibacakan oleh orang lain. Selain tradisi literasi yang semakin terpinggir, budaya nongkrong di cafe, mall, dan nonton film juga sangat berpengaruh terhadap menurunkan tradisi literasi dikalangan mahasiswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu diciptakan generasi literat dengan adanya upaya peningkatan literat yang dilakukan. Mahmudin menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni: peningkatan sarana dan fasilitas informasi, sosialisasi mengenai literasi informasi pelatihan khusus literasi informasi (penelusuran dan akses informasi), penambahan dana untuk keperluan informasi, pelatihan teknologi informasi (komputer dan internet), tingkatkan minat terhadap pentingnya informasi, dan tingkatkan kerjasama yang baik antara pustakawan dan peneliti.

Senin, 16 November 2015

Kirab Gunungan Buku



Pada hari minggu, 15 November 2015 ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan turut berpartisipasi dalam peresmian TBM Kerai (Taman Baca Masyarakat) yang terletak di dusun Kwadungan, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. 

Peresmian TBM Kerai ini dihadiri oleh pejabat pemerintah terkait, lembaga pendidikan, tokmas, komunitas literasi, mahasiswa arsitektur UTY, 150 TBM, komunitas reptil Jogja, anak-anak TK, SD Ngemplak 3 Jogja, anak-anak dusun Kwadungan, dan komunitas-komunitas yang bergerak dibidang literasi lainnya. 

Peresmian TBM Kerai ini diisi dengan berbagai kegiatan yakni: Prosesi peresmian dengan pembukaan papan nama TBM, lomba sketsa yang diikuti mahasiswa arsitektur UTY dengan objek Rencana Pembangunan TBM dan Lingkungan Penduduknya, lomba mewarnai untuk peserta anak TK dilingkungan sekitar TBM, gelar reptil untuk mengenalkan jenis-jenis reptil pada anak-anak, pentas/panggung seni, dan kirab gunungan buku yang diikuti oleh drumband/kelompok acustic, bergodo, gunungan buku, kelompok dolanan bocah, forum TBM Sleman, GPMB/GWK DIY, Motor Pustaka Keliling, Perpusda Widodomartani, Mobil Perpustakaan Keliling, Gerobak Sapi, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, dan komunitas literasi lainnya. Namun yang menjadi ikon dalam peresmian ini adalah Kirab Gunungan Buku. Filosofi dari Kirab Gunungan Buku adalah untuk nguri-nguri budaya Jawi. 

Tema yang diangkat dalam peresmian TBM Kerai ini adalah Gerakan Membaca untuk Masyarakat yang lebih baik, dimana ini adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menggalakkan gerakan membaca. Gerakan membaca  ini bertujuan agar masyarakat kampung pada khususnya dengan mudah bisa akses informasi karena tidak sedikit masyarakat kampung yang kesulitan dalam mengakses buku yang juga merupakan sumber informasi dan pengetahuan. Jika masyarakat sudah mudah dalam akses informasi maka masyarakat akan semakin cinta dan gemar membaca.

Hal diatas tampak jelas bahwa penanaman minat baca itu dimulai sejak dini dan dimulai dari lingkup yang paling kecil yakni keluarga. Hal ini juga dilakukan pak Nanang Sujatmiko selaku pendiri TBM Kerai. Beliau sekeluarga memiliki minat baca yang tinggi sehingga banyak koleksi buku di rumah. Atas dasar ini pula pak Nanang Sujatmiko mendirikan TBM Kerai agar masyarakat sekitar rumah juga gemar membaca dan bisa memnafaatkan TBM Kerai sebaik mungkin. 

Asal mula nama TBM Kerai sendiri itu adalah dari kata “Kerai” yang berarti penutup. Namun selain atas dasar  pengertian itu, penamaan “Kerai” itu diambil dari nama anak pak Nanang Sujatmiko yakni Kevin dan Raihan. Sedangkan bentuk bangunan TBM Kerai yang menyerupai buku terbuka itu memiliki filosofi agar masyarakat selalu membaca buku. Pak Nanang Sujatmiko tidak sendiri dalam mendirikan TBM Kerai. Beliau merangkul warga Kwadungan untuk membangun TBM Kerai bersama dan pada akhirnya akan bermanfaat untuk semua masyarakat.
Peresmian TBM Kirab yang melibatkan banyak pihak ini mendapatkan respon baik oleh salah satu pihak media masa nasional pun juga sebagai praktisi penyiaran, yakni pak Sudaryono. Beliau mengungkapkan bahwa indikator dari negara maju adalah tradisi baca yang tinggi dan ini dimulai dari kampung. Hal ini senada dengan gerakan membaca dengan mendirikan TBM Kerai dimana harus ada tindak lanjut bahwa TBM bukan hanya untuk perpustakaan tetapi juga merupakan tempat untuk berkreatifitas dan merupakan suatu action yang perlu diapresiasi. Pak Sudaryono berharap Indonesia semakin maju melalui budaya membaca bukan budaya menonton. Sebagai praktisi penyiaran beliau melihat yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya yakni masyarakat yang masih kental dengan budaya menonton.