Kamis, 19 Desember 2013

Ucapan Selamat Kepada KPAD Gunung Kidul


Lama ngak berjumpa, itu yang kami rasakan. Kalo di ibaratkan kaya kemarau yang baru saja dibasahi oleh air hujan, seperti itu perasaan yang kami alami. Kami kembali ke KPAD (Kantor Perpustakaan Arsip Daerah)  Gunung Kidul lokasinya di wonosari. Kami datang memenuhi undangan acara bedah buku. Sedikit informasi KPAD wonosari merupakan perpustakaan daerah yang letaknya di Wonosari kota, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta.


Rasa kagen ingin kembali ke KPAD. Kami kembali seperti kami pulang ke rumah. Di sana kami di sambut. KPAD Wonosari pemenang lomba perpustakaan tingkat nasional. Mereka maju untuk mewakili daerah Jogjakarta. Secara langsung kami terlibat dalam penilaian perpustakaan. Dahulu kami belajar mengenal koleksi yang bersifat umum, preservasi, kami belajar mengenai layanan sirkulasi dan layanan refrensi. Kami bersyukur dapat terlibat di dalamnya. Apa yang telah kami dapatkan pengalaman sangat luar biasa. Dimana ada kenangan, rasa emosi bercampur antara haru dan bangga. KPAD Wonosari pemenang juara II kami memberikan kenang-kenangan sebagai ucapan selamat dan terimakasih.

Sabtu, 14 Desember 2013

Dongeng Untuk Sang Generasi Digital

Dongeng merupakan salah satu tradisi yang sampai sekarang masih banyak dijumpai dalam masyarakat dunia.  Dongeng sendiri merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Cerita prosa rakyat pun penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan dan biasanya dengan media tercetak terbatas.
Generasi digital sudah tiba dan mereka pun bertebaran dengan rasa ingin tahu besar yang dibarengi dengan sikap akrab mereka menggunakan teknologi. Hal ini yang berusaha direspon oleh International Children Digital Library Foundation (ICDL Foundation) yaitu untuk melakukan preservasi pengetahuan dengan memberikan akses bagi seluruh anak-anak di seluruh dunia dari beragam etnis dan budaya dengan membangun repositori terbesar multikultural di dunia online khusus untuk bacaan anak-anak yang berupa dongeng atau cerita anak.
The International Children's Digital Library Foundation (ICDL Foundation) atau lebih dikenal dengan ICDL pada awalnya dibentuk oleh tim peneliti interdisipliner di University of Maryland bekerjasama dengan Internet Archive, didanai oleh National Science Foundation (NSF) dan Institute of Museum and Library Services (IMLS) untuk menciptakan perpustakaan digital khusus untuk literatur anak-anak berskala internasional.
Anggota tim tersebut termasuk ilmuwan komputer, pustakawan, ahli teknologi pendidikan, guru, desainer grafis, dan mahasiswa pascasarjana studi informasi dan Human Computer Interaction Lab (HCIL) University of Maryland.
Kontributor penting lainnya untuk proyek ini adalah anggota dari College Park Kidsteam, yang merupakan sekelompok enam anak berusia 7-11 tahun, yang bekerja secara periodik dengan tim ICDL Foundation. Kemitraan (partnership) yang unik tersebut dibentuk dengan tujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi teknologi antarmuka komputer yang mendukung pencarian, browsing, membaca, dan berbagi buku dalam bentuk elektronik yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.
Pada kebanyakan kasus, individu dari negara atau budaya yang menjadi anggota maupun relawan (volunteer) diberikan tanggung jawab untuk mengidentifikasi bahan yang akan dimasukkan ke dalam koleksi. Bahan-bahan di ICDL yang dimaksudkan harus :
  1. Mendukung pemahaman persamaan serta perbedaan antarnegara, masyarakat, dan budaya.
  2. Mempromosikan toleransi dan penerimaan budaya satu dengan yang lainnya.
  3. Memiliki kontribusi untuk pemahaman anak terhadap keragaman masyarakat global.
  4. Memiliki daya tarik tingkat tinggi bagi anak-anak usia antara 3 dan 13 tahun.
  5. Memenuhi standar kualitas profesional yang dapat diterima dari segi isi, bentuk, dan penyajian.
  6. Masih dianggap relevan untuk anak-anak dunia saat ini.
  7. Memiliki kesesuaian untuk tingkat usia audience dan disajikan secara efektif dalam format digital.
  8. Disajikan secara keseluruhan bukan ringkasan dari bentuk asli yang diterbitkan.
  9. Memiliki cakupan dan ragam budaya serta signifikansi historis yang terwakili dalam koleksi.
  10. Mewakili kualitas artistik, sejarah, dan sastra, seperti pemenang penghargaan, atau berkontribusi untuk penelitian.
Semua bahan koleksi yang sekiranya memiliki kontribusi akan dievaluasi menggunakan berbagai kriteria di atas. Sementara semua bahan yang dimasukkan ke dalam koleksi harus memenuhi banyak kriteria yang tercantum di atas. Antisipasi dilakukan bahwa tidak setiap item dalam koleksi akan memenuhi semua kriteria, karena ICDL merupakan sebuah sarana preservasi pengetahuan koleksinya tetap mencerminkan beragam budaya, perspektif, dan periode sejarah.
Penasaran?  Sila kunjungi :
Semoga bermanfaat :)
Muhammad Rosyihan Hendrawan
>Peneliti Independen Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi
>Anggota Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia 
>Ka.Div Pers ALUS 2009-2010

Pendidikan Profesi Pustakawan

     Selama ini, jika mendengar tentang perpustakaan pastilah yang ada dalam pikiran kita adalah sebuah ruangan persegi panjang yang sedikit luas, penuh dengan rak-rak dan buku berdebu, pengap dan kurang cahaya. Bahkan di beberapa judul film bergenre horor negeri ini yang menjadikan perpustakaan adalah tempat mengubur mayat di dinding atau lantainya, semakin menambah kesan minus perpustakaan. Dan ada fungsi baru dari perpustakaan yang saya ketahui barusan: untuk diskusi—atau pacaran? entah. 
      Perpustakaan tidak bisa dipisahkan keberadaannya dalam dunia pendidikan. Apa jadinya jika perpustakaan itu tidak ada di sekolah? Pasti para orang tua harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli buku yang dibutuhkan anaknya, tapi karena ada perpustakaan maka murid sekolah cukup meminjam dan mengambil ilmu seperlunya untuk kemudian dikembalikan lagi.
      Pandangan masyarakat selama ini mengenai perpustakaan seperti di atas bisa muncul karena faktor tingkat pendidikan. Perpustakaan di sekolah-sekolah dari jenjang SD, SMP, sampai SMA pasti berbeda. Apalagi untuk perpustakaan di tingkat universitas. Perpustakaan di SD, SMP, dan SMA kebanyakan masih konvensional yaitu perpustakaan yang bahan pustakanya berupa buku dan dilayani oleh pustakawan—yang biasanya dikenal galak—secara langsung. Coba saja bandingkan antara perpustakaan SMA dengan universitas, pasti akan sangat berbeda karena perpustakaan SMA pemustakanya hanya siswa sekolah itu, sedangkan perpustakaan universitas pemustakanya berasal dari berbagai universitas bahkan untuk kalangan umum. 
     Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari seorang pustakawan atau yang lebih dikenal sebagai penjaga perpustakaan. Paradigma masyarakat tentang tugas pustakawan selama ini hanya menjaga buku, melayani sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku oleh pemustaka, dan menatanya kembali dalam rak. Benar memang tugas seorang pustakawan adalah seperti yang tersebut di atas, tapi tidak sesederhana itu. 
       Sebagian masyarakat beranggapan perpustakaan itu tidak begitu penting sehingga keberadaan pustakawan juga tidak dianggap penting. Tugas mereka hanya menjaga arus sirkulasi perpustakaan dan menatanya kembali di rak sesuai semula, siapa yang tidak bisa? Bahkan anak SMP pun bisa melakukannya. Profesi pustakwan itu belum diakui karena tidak adanya pendidikan profesi pustakawan, berbeda jauh dengan dokter. Sarjana-sarjana kedokteran itu harus menempuh pendidikan profesi dokter dulu sebelum secara langsung bekerja sebagai dokter. Lalu, mengapa pustakawan tidak ada pendidikan profesi?
     Ironisnya, perpustakaan yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan di Negara kita tidak dikelola oleh orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Di sekolah, perpustakaan dikelola bukan oleh seorang alumni ilmu perpustakaan, tapi hanya dikelola oleh guru atau pegawai TU sekolah. Kenapa bisa seperti itu? Karena di sekolahpun yang notabenenya lembaga pendidikan beranggapan bahwa perpustakaan tidak penting sehingga tidak perlulah menarik seorang pustakawan hanya untuk menjaga perpustakaan. Kabar terbaru terkait perpustakaan yang saya dengar adalah dimutasikannya walikota Jakarta Utara oleh Gubernur DKI sebagai kepala sebuah perpustakaan karena kinerjanya buruk. Apakah hanya sebagai tempat pembuangankah institusi ini? 
      Padahal perpustakaan adalah gudangnya ilmu karena disana banyak terdapat buku yang ‘katanya’ merupakan jendela dunia. Yang memperlakukan perpustakaan dan menganggap perpustakaan seperti itu justru orang-orang yang bisa dikatakan ‘pernah menempuh pendidikan tinggi’ dimana pasti ia pernah menggunakan jasa perpustakaan untuk mengerjakan skripsi, tesis, atau disertasinya. 

Isnaeni Setyaningsih 
Mahasiswi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga

Senin, 11 November 2013

Makrab ALUS: Keceriaan Ketika Bersama

Sabtu 09 November 2013, para anggota ALUS dan demisioner berkumpul bersama di Bumi perkemahan Wonogondang, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta untuk acara makrab. Pada kegiatan ini diadakan beberapa penyampaian materi oleh demisioner ALUS, selain itu juga banyak agenda lainnya yang dilakukan selama dua hari.
Diantara semua kegiatan, mungkin kegiatan outbondadalah kegiatan yang paling menarik perhatian. Disini tidak lagi terlihat siapa yang senior atau anggota baru, tidak ada kata peserta ataupun panitia. Mereka berkumpul bersama tanpa ada sekat. Berbagai outbonddilakukan bersama. Mulai dari permainan Bambu Gila, Lompat Tarzan, Melewati Kubangan dengan satu kayu, Mengisi Pipa Berlubang, dan lainnya.
Seluruh peserta makrab terbagi menjadi 8 tim, dan setiap tim terdiri atas 6-8 anggota. Setiap game selalu saja ada kejailan para peserta, salah satunya adalah ketika Tim 1 dan Tim 2 bertanding. Keduanya diisi oleh para demisioner, alhasil setiap game yang mereka pertandingkan selalu saja gagal total.
Dari kegiatan outbond ini terlihat para peserta sangat antusias. Disini terlihat keceriaan yang jelas dari setiap wajah mereka. Acara outbond  ini merupakan salah satu cara agar semua peserta dapat cepat akrab dan saling kenal satu dengan yang lainnya. Selain itu mereka juga akan menjadi lebih percaya diri ketika harus berkumpul dengan orang-orang yang baru dikenal.
Makrab ini adalah simbol dimana para anggota baru ALUS tidak merasa sungkan berkumpul dengan para demisioner yang sudah lebih dulu terjun ke organisasi ini. Ini adalah titik awal para anggota ALUS untuk tetap kompak dalam berorganisasi dan menimba ilmu dari setiap kegiatan yang telah direncanakan kedepannya.

Jumat, 01 November 2013

Pengumuman Lomba Perpustakaan Tingkat Nasional 2013

Salam Pustakwan

Kami di sini akan memberi informasi, mengenai lomba perpustakaan terbaik tingkat kabupaten/kota di Indonesia. Sukses mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Gunungkidul maju Lomba Perpustakaan Umum Tingkat Nasional tahun 2013 telah dinilai dan mengumumkan pada tanggal 29 Oktober 2013.
Pengumumuman
Juara Pertama diraih Perpustakaan Umum Surabaya

Juara Kedua diraih KPAD Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta
Juara Ketiga diraih oleh kabupaten Bengkalis di Sumatra tepatnya di Provinsi Riau
Tidak lupa kami ucapankan Kepada Pemenang ^^
Semoga perpuskan lebih berperan dan lebih mempunyai makna bagi masyarakat.

Kamis, 03 Oktober 2013

Open Recruitmen Association of Library University Student 2013


Akhir pekan kemarin merupakan hari bahagia buat keluarga besar Association of Library University Student (ALUS), pendaftaran penerimaan anggota baru selesai setelah stand pendaftaran yang dibuka semenjak tanggal 23-27 September 2013 telah resmi ditutup. Tanggal 28 September kemarin semua calon anggota menjalani proses registrasi ulang dan tes wawancara, pada tahap ini calon anggota yang dianggap memenuhi syarat kriteria sebagai anggota ALUS akan direkrut. Antusias keseluruhan calon anggota baru sangat luar biasa dalam mengikuti sesi wawancara, walaupun keseluruhan calon anggota kami anggap berkompeten akan tetapi kami tetap memiliki standar kriteria bagi semua calon anggota yang akan resmi bergabung untuk memenuhi kuota anggota sesuai kebutuhan organisasi ALUS. Bertambahnya keluarga besar ALUS ditanggapi positif oleh anggota Demisioner dan Dosen Ilmu Perpustakaan UIN SuKa Yogyakarta dengan penuh harapan besar dipundak mereka calon anggota baru.

            Bagi para anggota baru yang telah resmi tergabung dalam ALUS akan dikumpulkan kembali dalam pembagian divisi sesuai kemampuan kompeten individu masing-masing. Peletakan anggota ke dalam perdivisi telah sesuai dengan kemampuan apa yang dimiliki oleh para anggota baru. Saat pembagian divisi telah selesai, maka rentetan susunan acara terakhir dalam kegiatan perekrutan ini akan diadakannya Malam Keakraban (MAKRAB) bagi seluruh anggota baru ALUS.

pengumuman : daftar nama anggota baru

Sabtu, 21 September 2013

Acara Wisuda 24 Agustus 2013

Semangat pagi, buat kawan-kawan baik yang di jogja dan di luar Jogja. Ni sekedar mau ngasih berita  acara wisuda yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Agustus 2013. Kampus UIN SU-KA (UIN SUNAN KALIJAGA) telah mewisudakan beberapa mahasiswa-mahasiswinya. Dalam acara wisuda kali ini ada yang spesial yaitu di atara kawan-kawan kita ada yang lulus dengan nilai cumlaude  / nilai terbaik.
Mereka ada mahasiswa dan mahasiswi Ilmu Perpustakan Dan Informasi Islam (D3) UIN angkatan 2010 telah menyelesaikan program belajar tiga tahun. Pengen bercerita sedikit tentang mereka, di saat mereka belajar di UIN,  mereka juga aktif mengikutiUKM ( Unit Kegiatan Mahasiwa ) dan Organisasi.
Ini info lagi bwt kawan-kawan terutama buat maba (mahasiwa baru) ukm adalah adalah wadah aktivitas kemahasiswaan untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu bagi para anggota-anggotanya. lembaga ini merupakan partner organisasi kemahasiswaan intra kampus lainnya seperti senat mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa, baik yang berada di tingkat program studi, jurusan, maupun universitas. Lembaga ini bersifat otonom, dan bukan merupakan sob-ordinat dari badan eksekutif maupun senat mahasiswa dan organisasi adalah Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan jadi ngak ada salahnya buat masuk ke organisasi dan UKM yang  kalian minati.
Berbagai organisasi tentang ilmu perpustakaan ada banyak di kampus UIN. Salah satunya adalah ALUS Alus adalah organisasi di UIN SU-KA. ALUS
Kami mengucapkan selamat.

Minggu, 07 April 2013

Cerpen "Ketika Cinta Berkata lain"

Hello Kawan ALUS, gimana kabarnya? hehehe
pada kesempatan kali ini mimin akan share kiriman cerpen dari Sdr. Mukhlis udah mimin bikinin covernya juga lho siapa tau bakalan jadi best story, best seller :D
Dari Judulnya agak galau sih, baca aja deh nyampe selesai biar gak penasaran >_<'!
 

KCB 
(Ketika Cinta Berkata lain)

      Di pojok ruang baca skripsi, nampak beberapa mahasiswa sedang berdiskusi dengan serius, hal tersebut dilihat dari gerakan dan raut muka mereka. Nampaknya mereka membahas seuatu yang sangat serius, ketika asyik berdiskusi tiba-tiba mereka didatangi oleh pustakawan bagian referensi. “Maaf ya mas-mas, kegiatan berdiskusi di perpustakaan tidak dilarang, cuma suara kalian sedikit mengusik pemustaka lain yang sedang mengerjakan skripsi, jadi mohon sekiranya dimaklumi”, tegur petugas perpustakaan. 
      Jaka yang terkenal dengan julukan si kuping cabe seketika naik darah, doi langsung berdiri sambil garuk-garuk kepala.”Njeh pak ”, sahut Jaka dengan suaranya yang ngapak belepotan itu sambil tersenyum lebar. Gigi depannya yang berwarna kuning itu nongol menghiasi senyumnya yang penuh dengan kepalsuan.
      “Ah sialan, masak cuma ngobrol kayak begini doang langsung ditegur sih..., pliss dech”, gerutu Jaka sambil merapikan kembali rambutnya yang gak karuan itu. 
      “Yah..., namanya juga di perpustakaan kita harus punya etika dan kudu manut ama tata tertib bro, jawab Benny. “Tata tertib apaan”, gerutu Jaka gak terima nasihat dari Benny. “Maksudnya, perpustakaan itu tempat orang-orang menggali informasi dengan khusyuk, artinya khusyuk dalam menggali informasi itu butuh ketenangan biar bisa konsentrasi. Jadi perpustakaan itu bukan tempat transaksi jual beli kayak pasar hewan yang suara gaduhnya minta ampun”, sahut Donny meluruskan argument dari Benny. “Oke, kalau begitu, nanti sore pembicaraan ini kita lanjutkan di Kost Donny sambil menggarap tugas mata kuliah klasifikasi” sahut Jaka bersemangat. “Ok, roger that command” teriak mereka serentak. 
      Sore hari pas ngumpul bikin PR di kost Donny, mereka lalu menuntaskan pembicaraan yang tertunda di perpustakaan tadi siang, kemudian mereka melanjutkan pembuatan makalah mata kuliah klasifikasi. Ketika pembagian tugas selesai dibagi maka semuanya mulai bekerja mencari referensi yang dibutuhkan, baik dari buku, jurnal, kamus hingga sumber dari internet. Saat asyik mengerjakan tugas, seketika menyeruaklah tekad yang spektakuler dari mulut Jaka, “ Besok gue mao nembak Si Elish” 
      “Geplak,...” timpal Benny menyebut makanan favoritnya Donny yang lagi sibuk mencari nomor klasifikasi judul buku, tiba-tiba nyeletuk, “Aku salut ama ente Jek..!”, katanya terharu. Merasa di-support sama teman-temannya Jaka pun membeberkan rencana yang maha penting itu,”Besok Senin, ane mao nyatain cinta ane ke Elish. Pada misi khusus ini, ane minta bantuan arek-arek semuanya, ente-ente bersedia kan?”, jawab Jaka meyakinkan teman-temannya.“Demi Mas Jaka yang tersayang, sang penguasa kampus kami siap membantu, tapi misi ini ada reward-nya gak nih,hehehe”, sahut Benny “Nah setuju aku, kalo ada reward-nya, tapi klo gak ada gak mau aku”,sahut Jiko menambahkan. “Aku ngikut suara mayoritas,hehehe”, sahut Donny.
      Setelah diprovokasi bakal di traktir ama si Jaka, makan sekenyangnya di angkringan dekat rel kereta api, mereka pun sepakat. Demi sikap solidaritas, suara mayoritas dan rasa kasian, lalu mereka mendukung tekad si Jaka. Mereka akan memainkan peran untuk mendukung si Jaka saat bertemu dengan Elish di perpustakaan kampus. Setelah PR selesai, mereka melanjutkan pembuatan skenario peran saat bertemu dengan Elish di perpustakaan besok, setelah semuanya terkonsep dengan rapi, strategis, sistematis, persiapan yang matang dan mapan, lalu mereka bubar untuk menunggu saat-saat mendebarkan tiba. 
      Hari Senin yang mendebarkan pun kini telah tiba...! 
Setelah melakukan oservasi dan olah TKP, lalu diadakanlah latihan pra-acting selama 3 jam lamanya, akhirnya saat yang dinanti telah tiba. Dari depan pintu masuk perpustakaan, Benny stanby sambil BBM-an dengan Jaka. “On target, keep calm-down boy”, jawab Benny sambil mengelus Hp BlackBerry kesayangannya. Hal itu menandakan target sedang perjalanan menuju lokasi, Di ruang baca lantai 3, Donny, dan Jiko sudah siap-siap memainkan peran mereka, lalu si Jaka sudah duduk manis sambil pura-pura membaca sebuah buku ensiklopedi. Selang beberapa menit kemudian Elish pun datang sambil melirik-lirik mencari si Jaka, karena sebelumnya si Jaka telah mengirim pesan singkat (SMS) pada Elish. Lalu mereka pun bertemu dan memulai pembicaraan. 
     “Eh mas Jaka, gimana kabarnya.., tumben nih...?” sapa Elish ramah 
     “Ngg...mao..mo..ngobrol-ngobrol aja kok...”, ucap Jaka yang dengkulnya mulai gemeteran, jantungnya terasa empot-empotan. “Oh ya, ada hal apa nih”, jawab Elish penasaran. “Ehmm...jadi begini Ell, sebenarnya aku tuh...”, (tiba-tiba terdengar sebuah tanda peringatan dari bagian informasi perpustakaan). 
      “Selamat pagi, kepada pemustaka yang merasa pemilik motor dengan nomor plat AB7067A, harap segera memindahkan kendaraan anda ke tempat parkiran, karena menghalangi jalan, terima kasih “, ucap bagian informasi perpustakaan. Selang kemudian Donny menelpon si Jaka, “ Halo.., halo.., hey.. jangkrik.., motormu itu loh menghalangi jalan, masak parkir motor di depan pintu masuk perpustakaan, mobil kepala perpust gak bisa lewat tau, cepet turun, “teriak Donny dr telpon genggam Jaka. “Oh hiya to, sek yo..”, sahut Jaka sambil lari tunggang-langgang. Lalu Elish pun heran melihat tingkah si Jaka itu. 
      Melihat si Jaka lari tunggang-langgang, Donny dan Jiko ikutan lari menyusul. Melihat situasi seperti itu, secara tidak sengaja Elish melihat Donny dan Jiko berlari, lalu Elish pun teriak memanggil Donny. “Mas Donny, tunggu”, ucap Elish ikut meninggalkan ruang referensi. Setelah persoalan tersebut selesai, lalu si Jaka kembali menemui teman-temannya untuk meneruskan misi yang maha penting tesebut. Karena semuanya sudah terlanjur turun, maka mereka sepakat untuk ngobrol-ngobrol di taman yang sejuk dan asri yang berada di depan perpustakaan. Di awal pembicaraan, Elish memulai dengan pertanyaan seputar alasan Jaka memanggilnya ke perpustakaan, melihat situasi seperti itu wajah si Jaka pucat pasi kehabisan akal karena keadaan ini diluar skenario yang mereka rencanakan. 
      Dengan tanpa dosa, Benny langsung berargument “Sebenarnya ada seseorang yang ingin mengutarakan isi hatinya ke kamu lho Ell”, jawab Benny keceplosan...yang lain melototi Benny dengan sorotan tajam. “Oh yah..,”tutur Elish sambil tersenyum tersipu malu. Semuanya diam seratus kata, serasa leher kecekik nggak ada yang bisa ngomong lagi. “Ya.., sebenarnya aku juga lagi menaruh simpati sama salah seorang diantara kalian berempat”, sahut Elish dengan senyumnya yang manis itu. Kemudian Elish pamit pergi meninggalkan mereka berempat. Setelah mendengarkan tutur kata dari Elish tadi, mereka saling bertatapan dengan mulut menganga lebar. 
      “Ah, aku nggak ikut-ikutan, ntar pacarku marah lagi nanti”, timpal Jiko membela diri “Aku juga nggak ikut deh, aku gak mau nyari masalah ama cewek”, sahut Donny cuek bebek. “Oke Benn..,berarti sekarang kita saingan untuk nge-gebet si Elish”,sahut si Jaka bersemangat. “terserah elloohhhh”, sahut Benny agak kesel. Kemudian mereka bubar meninggalkan perpustakaan. Kemudian mereka menuju angkringan. Karena misi ini “gatal” (gagal total), maka traktiran pun terpaksa ikutan gagal, tapi mereka masih kompak ngangkring bareng dengan alasan mereka sepakat untuk bayar sendiri-sendiri, hehehe. 
      Setelah berminggu-minggu belum ada aksi, lalu si Jaka mengambil langkah awal dengan menamai gerakan tersebut dengan sebutan Gerakan Anak STMJ. Tapi kalau ditanya kepanjangan dari Anak STMJ itu?, si Jaka menjawab itu simbol persahabatan mereka yang cinta terhadap produk angkringan, padahal arti yang sebenarnya adalah Anak Semester Tujuh Masih Jomblo,hehe. ^_^. Kemudian agresi pertama pun dimulai, si Jaka dan Benny saingan berat, mulai dari pakian yang modis, model rambut yang macho sampai urusan tali sepatu pun mereka bersaing secara ketat. Donny dan Jiko ikut cekikikan melihat tingkah mereka. “Ah..dasar anak tuyul, gitu aja kok saingan”, gerutu Jiko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 
      Pada suatu saat, mereka kebagian tugas observasi dari dosen dengan model kelompok, Jaka, Jiko, dan Elish satu kelompok, sedang Donny satu kelompok dengan Benny dan seorang mahasiswi tingkat bawah yang kebetulan mengambil mata kuliah yang sama. Merasa tidak ada saingan, maka kesempatan berlian itu tidak disia-siakan oleh Jaka untuk mendapatkan simpati dari Elish, sedang Benny bertingkah gak karuan seolah tidak terima gak sekelompok dengan Elish. Melihat tingkah Benny yang gak tenang itu, lalu Donny menenangkan Benny. “ Eh Ben, gak segitunya kali..santai aja, klo emang cinta memahakmu dia tak akan kemana”, sahut Donny. Kemudian Benny menjawab lemes, “Ok, tapi kalo sampai Jaka berhasil jadian sama Elish..Lu orang yang pertama kali ane tuntut” hardik Benny. “ Iya-iya terserah, sudah kita fokos pada tugas kita dulu” jawab Donny yang sudah capek ngeliat tingkah Benny. 
      Setelah tugas tersebut selesai, Benny lekas menemui Jaka untuk memastikan apakah doi berhasil menggebet Elish. Selang kemudian Jaka ngomel, kalo selama ini usahanya sia-sia belaka untuk mendapatkan simpati Elish. Merasa usahanya tak membuahkan hasil, lalu si Jaka memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya dan akan merelakan isi dompetnya jika cintanya diterima oleh Elish si kembang kampus itu. Si Jaka hafal betul kebiasaan Elish yang selalu datang ke perpustakaan setiap hari Senin dan Kamis, begitu datang dan selalu duduk di kursi pojok ruang baca, di samping jendela yang menghadap ke lingkungan fakultas, karna gedung ini berada di lokasi paling timur dan di ujung. Maka kalau melihat ke luar jendela yang ada di pojok barat lantai dua itu, semua lingkungan fakultas sampai ke tempat parkiran kelihatan dengan jelas. Manusia berusaha, lalu tuhan yang menentukan, cinta yang tulus dari si Jaka mendapat penolakan secara terhormat dan elit dari Elish, hal ini bukan berarti dunia bakal kiamat. 
      Kini Genk Anak STMJ itu jarang kumpul-kumpul dan nongkrong bersama lagi, bagaimana tidak. Si Jaka lagi patah hati karena cintanya ditolak oleh Elish, sedang Benny lagi galau tingkat Dewa memikirkan jurus jitu sambil mengevaluasi letak kegagalan si Jaka yang tidak mampu meluluhkan hati Elish. Jiko sibuk ber-urusan dengan pacarnya sendiri..terus bagaimana dengan Donny??? 
      Donny juga lagi gundah-gulana memikirkan nasibnya, bukan karena dia jomblo dan bukan karena memikirkan nasib sahabatnya yang rada apes itu, tetapi memikirkan keputusan dan langkah yang akan dia ambil. Sebelum ditembak oleh Jaka, sebenarnya Elish telah menyatakan cintanya pada Donny lewat puisi cinta by-inbox pada facebook, dan hingga kini Donny pun belum memberikan keputusan. Di Sisi lain ketika libur semester besok, pihak keluarga Donny berencana akan melakukan pertunangan antara Donny dengan gadis sepermainan Donny saat masih kecil dulu yang kini juga tengah kuliah bidang keperawatan., namun Donny belum memberikan keputusan setuju atau tidak kepada kedua opsi hidupnya itu. Semuanya tergantung Donny dan tentunya takdir dari yang maha kuasa, yang jelas biar cintalah yang akan berbicara... 

*By Mukhlis 
(Ketua Divisi Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Priode 2011-2012)

Kamis, 04 April 2013

Pedoman Perpustakaan

Undang-Undang RI No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
Download UU Perpustakaan

Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Desa
Penerbit : Perpustakaan Nasional RI
Tahun Terbit : 2001 

Download Buku
 

Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Umum
Penerbit : Perpustakaan Nasional RI
Tahun Terbit : 1999 
Download Buku

Standar Nasional Indonesia (SNI) Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota
Penerbit : Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Tahun Terbit : 2009
Download Buku



Standar Nasional Indonesia (SNI) Perpustakaan Sekolah 
Penerbit : Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Tahun Terbit : 2009
Download Buku


Panduan Perpustakaan Sekolah
Penerbit: Perpustakaan Nasional RI
Tahun terbir: 2006
Download Buku

Standar Nasional Indonesia (SNI) Perpustakaan Perguruan Tinggi
Penerbit : Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Tahun Terbit : 2009
Download Buku
 

Standar Nasional Indonesia (SNI) Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah
Penerbit : Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Tahun Terbit : 2009
Download Buku
 

Standar Perpustakaan Khusus
Penerbit: Perpustakaan Nasional RI
Download Buku 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 24 Tahun 2007 
Tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)
Download Permendiknas


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 19 Tahun 2007
Tentang Standar Pengelolaan Pendidikam oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Download Permendiknas

Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO: 9001-2008
Tentang Sistem Manajemen Mutu-Persyaratan
Download SNI ISO:9001

Prinsip Dasar ISO: 9001-2008
Download

Buku Pedoman Perencanaan Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan
Penerbit: Perpusnas RI
Tahun: 1977
Download Pedoman Perencanaan Perabot

BPAD SUMUR Jadikan Perpustakaan Wisata Baca Bagi Pelajar dan Mahasiswa

Medan - Keberadaan perpustakaan di Sumut harus ditingkatkan fungsinya untuk menjadi sarana wisata baca bagi pelajar, mahasiswa dan seluruh komponen masyarakat dalam mengembangkan sumberdaya manusia melalui membaca, menulis, meneliti dan berdiskusi. Hal itu dikatakan Kepala Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Sumut Hasangapan Tambunan SPd, MSi pada rapat koordinasi (rakor) perpustakaan se Sumatera Utara Tahun 2013 bertema “Optimalisasi Layanan Perpustakaan Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat,” di Hotel Madani Medan, Selasa (26/3).

Lebih lanjut dikatakannya, semakin meningkatnya sumber daya manusia Sumatera Utara baik para pelajar, mahasiswa dan berbagai komponen masyarakat lainnya, maka secara bersama-sama pemerintah ikut merencanakan dan melaksanakan pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat di Sumut. Oleh sebab itu, pengembangan segala jenis perpustakaan harus terus ditingkatkan. Rakor perpustakaan se Sumut tahun 2013 ini diharapkan dapat mengevaluasi keberadaan segala jenis perpustakaan yang ada di kabupaten/kota, sekaligus melahirkan program dan kegiatan prioritas yang akan dimajukan dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) yang akan datang.

Sinegritas Program Sementara Sekretaris BPAD Sumut Drs Chandra Silalahi MSi mengatakan, rakor ini bertujuan melakukan sinergitas program prioritas pengembangan perpustakaan, di antaranya pengembangan minat baca secara merata, revitalisasi perpustakaan segala jenis perpustakaan, kampanye minat baca melalui berbagai lomba-lomba minat baca dengan melibatkan stakeholder. Dorong kabupaten/kota Kemudian mendorong kabupaten/kota untuk membentuk lembaga perpustakaan bagi yang belum membentuknya, karena perpustakaan dan arsip merupakan urusan wajib pemerintah sesuai dengan PP No 38 Tahun 2007.

”Melalui rakor, diharapkan perpustakaan menjadi idola masyarakat Sumut,” ucapnya. Rakor ini diikuti 33 peserta berasal dari kepala perpustakaan kabupaten/kota se Sumut, perpustakaan USU, Unimed, IAIN-SU, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Tim Penggerak PKK Provsu dan instansi terkait di BPADSU berjumlah 74 orang. Narasumber pada rakor tersebut antara lain, Kepala BPAD Sumut Hasangapan Tambunan SPd, MSi dengan topik, kebijakan pengembangan perpustakaan di Sumut, Dedi Junaidi MSi dari Perpustakaan Nasional RI, topik kebijakan pengembangan perpustakaan di Indonesia, Ir S.K Ambarita dari Bappeda Sumut, topik dukungan Bappeda terhadap pengembangan perpustakaan, staf ahli Komisi E DPRD Sumut Dr Dra Liesna Andriany MPd, topik dukungan legislatif terhadap pengembangan perpustakaan dan Sekretaris BPADSU Drs Chandra Silalahi MSi, topik kebijakan pengembangan perpustakaan desa dan kelurahan.

Sumber: Analisa daily
NS

Perpustakaan Sekolah di Jepara Sepi Pengunjung

Minat Siswa Kunjungi Perpustakaan Sekolah Rendah 

JEPARA – Perpustakaan sekolah di Jepara minim fasilitas. Pada umumnya, perpustakaan sekolah di Jepara hanya menyimpan koleksi buku-buku paket dan buku bacaan popular yang sudah mulai usang. Hal tersebut disampaikan pustakawan SMAN 1 Tahunan Jepara, Danang Ario. “Dari sejumlah perpustakaan sekolah di Jepara yang sudah saya kunjungi kondisinya tidak beda jauh dengan di sini (perpustakaan SMAN 1 Tahunan), kalau ruang kepala sekolah atau ruang guru saja dibuat senyaman mungkin dengan beragam fasilitas,” papar Danang, Rabu (3/4).“Jangankan fasilitas yang membuat nyaman, komputer yang menunjang kepentingan mengindeks buku saja tidak ada,” imbunya. Lebih lanjut Danang menambahkan, rendahnya minat siswa mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku rendah lantaran fasilitas dan perpustakaan yang ada saat ini tidak membuat siswa betah dan nyaman di perpustakaan. "Lihat saja kalau pas ada jam kosong, siswa lebih asyik bermain di dalam kelas ketimbang membaca buku atau majalah di perpustakaan," papar alumni Universitas Negeri Sebelas Maret itu.

Sementara itu, pustakawan SMAN 1 Jepara, Zanuar, saat dihubungi Jaringnews.com menyampaikan dari lebih kurang 1000 siswa SMAN 1 Jepara dalam sehari yang mengunjungi perpustakaan sekolah rata-rata 100 siswa. "Untuk membuat siswa tertarik mengunjungi perpustakaan sekolah memberikan layanan free hot spot dan pemutran film-film edukasi," papar Zanuar. Baik di SMAN 1 Tahunan dan SMAN 1 Jepara, Danang dan Zanuar sama-sama menyampaikan, buku yang banyak dicari para siswa adalah buku-buku bacaan populer seperti novel remaja jika dibanding dengan buku penunjang pelajaran. Sumber: Jaringnews NS

[Event] Seminar “Revitalisasi Perpustakaan"

Seminar “Revitalisasi Perpustakaan : Membangun kreativitas Bangsa"


Hari/tanggal : Selasa, 23 April 2013
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Ruang Parlinah Moedjono Perpustakaan Universitas Airlangga Kampus B Lantai 3
Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya.
Pembicara :
Suherman, M.Si (LIPI-Pustakawan Teladan Tingkat Asia Tenggara)
Arini Pakistyaningsih SH. MM. (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya)
Sumanto ("Pustakawan Sepeda Ontel" Eagle Documentary Series_Metro TV)

GRATIS LHOOOO..!!!

Contact Person:
Agung Budi Kristiawan (081938515354)-Telp, sms, WA.
Prasasti Irianto (085243188308)-Telp, Sms

Soft Opening Perpustakaan Emha Ainun Nadjib

Menandai Hari Buku Dunia yang jatuh di bulan April dan Soft Opening Perpustakaan Emha Ainun Nadjib di Rumah Budaya EAN, Jl. Barokah 287 Kadipiro Yogyakarta 7-9 April 2013 diadakan serangkaian acara :

1. Diskusi “Perpustakaan dan Seniman”
Minggu, 7 April 2013 Pukul 10.00 WIB-Selesai
Pembicara:
Dra. Labibah Zain, M.LIS (Dosen Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta),
Iman Budhi Santosa (Penyair dan Penulis Buku “Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup”),
Moderator: Muhsin Halida, M.A. (Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat DIY)

 2. Diskusi Buku “Sudahkah Kita Mengenal Al-Quran?” Karya H. Ahmad Fuad Effendy, M.A.
Minggu, 7 April 2013 Pukul 19.30 WIB-Selesai
Pembicara: H. Ahmad Fuad Effendy (Dosen Sastra Arab Universitas Negeri Malang dan Pengasuh Kajian Tafsir pada Pengajian Padhangmbulan Jombang),
Islah Gusmian (Pembantu Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Surakarta dan Penulis buku “Khazanah Tafsir Indonesia”)
Moderator: Helmi Mustofa (Progress Jogja)

3. Bincang-Bincang “Dunia Buku Saat Ini”
Senin, 8 April 2013 Pukul 19.30 WIB-Selesai
Pembicara: Andityas Prabantoro (Chief Editor Penerbit Mizan, Bandung)
Moderator: Sholahuddin Nur’azmy (Kepala Sekolah Akademi Bercerita Yogyakarta)

4. Santri Menggubah: Ngaji Ilmu Jurnalistik dan Ilmu Sosial
Selasa, 9 April Pukul 08.00 WIB-Selesai
Pembicara: Mustofa W Hasyim (Redaktur Pelaksana Majalah Suara Muhammadiyah)
Pemandu: Idris Wahid (Eks. Wasekjen IPNU 2009-2012)
Bazar Buku Kadipiro. Minggu-Selasa, 7-9 April 2013,
Bersama Penerbit Mizan, Penerbit Buku Kompas, Tiara Wacana, Graha Ilmu, Misykat Indonesia, Progress, dan lain-lain.

 *Acara ini terbuka untuk umum. Peserta tidak dipungut biaya, tetapi sangat dipujikan bila peserta diskusi berkenan membawa buku, majalah, jurnal, atau bahan bacaan apapun untuk diperluas manfaatnya dengan diwakafkan di Perpustakaan EAN.

Jumat, 29 Maret 2013

Kisah Pengarsip Gambar Hidup, Misbach Yusa Biran

Film adalah rekaman keadaan yang paling akurat untuk mengabadikan suatu peristiwa/sejarah, yang sewaktu-waktu bisa ditengok/dilihat kembali untuk kita mengambil pelajaran dari periode kehidupan yang sudah berlalu. Gambaran nyata kehidupan pada suatu masa terekam dalam film, seperti cara berpakaian, bicara, hingga berpikir, dan lain-lain sehingga arsip film mengabadikannya.

Kesadaran tentang makna gambar hidup itulah yang membuat sutradara, penulis, kolumnis dan sastrawan Misbach Yusa Biran menetapkan hati untuk menjadi pengarsip film, setelah memutuskan untuk keluar dari dunia perfilman tahun 1971, saat produksi film porno marak. "Saya melihat bahwa kita berulang-ulang melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau karena tidak adanya dokumentasi.... Itu yang saya lihat," katanya dalam sebuah wawancara dengan pembuat film dokumenter "Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan". Film feature dokumenter yang berdurasi 160 menit yang dibuat oleh Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, dan Mahardika Yudha bersama Misbach itu berusaha memberikan gambaran tentang gagasan pengarsipan film dalam pikiran Misbach dan faktor-faktor dari masa lalu yang mempengaruhinya. Tentang bagaimana orang tua Misbach yang aktif dalam pergerakan dan pernah menjalani masa pembuangan di Boven Digoel, Ayun Sabiran dan Yumenah, membuat Misbach muda punya pengetahuan politik lebih banyak dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Juga bagaimana Misbach menimba ilmu dan belajar banyak tentang perbedaan dari pendidikan Taman Madya Perguruan Taman Siswa di Kemayoran, Jakarta, tempat dia dikenal sebagai biang kerok oleh para guru.

Selain itu tentu saja tentang film-film yang ikut mempengaruhi pemikirannya. Pemuda yang lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, pada 11 September 1933 ini menyebut film-film Jepang seperti "Shina No Yoru", "Kemenangan Sayap", dan "Harimau Melayu" sebagai tontonan pertamanya. Seperti yang terjadi pada Usmar Ismail, film-film Jepang juga membawa kesadaran tentang pentingnya film dalam penyampaian pesan perjuangan dan kebangsaan pada diri Misbach. "Media ini sangat efektif untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain secara persuasif, dengan membujuk, dan dampaknya sangat kuat." "Media yang punya pengaruh begitu besar pada penerimaan orang. Penyampaian ideologi yang mungkin diuraikan dalam buku-buku tebal, hanya butuh satu film untuk menyentuh orang," katanya. Kecintaan pada film dan pengetahuan tentang fungsi citra bergerak membawa Misbach ke dunia pengarsipan film setelah dia berhenti menjadi sutradara, keputusan yang waktu itu membuat khawatir istrinya, Nani Wijaya. "Saya katakan kepada Asrul (Sani) saya mau bikin dokumentasi arsip film. Kata Asrul itu bagus sekali...tapi itu akan susah katanya. Tapi saya berkeras mau bikin," katanya.

Misbach lantas membuat proposal pembentukan lembaga arsip film dan menyampaikannya ke Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Ali Sadikin. Ia cukup yakin usulnya bakal diterima karena menurut dia Ali Sadikin adalah orang berpikiran revolusioner dan sudah membangun Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Usulnya benar disetujui, Sinematek Indonesia pun terbentuk dan diresmikan pada 20 Oktober 1975. Semua hal tentang film pun dikumpulkan dan disimpan di ruang penyimpanan Sinematek, ruang dingin dengan rak-rak dan kardus-kardus, perpustakaan, serta kamar kecil berisi macam-macam dokumentasi dan materi publikasi film. Ribuan koleksi film cerita dan dokumenter, skenario, aneka materi publikasi, buku, dan arsip-arsip tokoh penting film tersimpan di sana. "Dulu kan ada izin produksi. Setiap bikin film harus minta izin, dan memberikan dua skenario, nah satunya saya ambil, jadi lengkap.

Sekarang karena nggak ada izin ya susah dapat skenarionya, kadang dikasih kadang nggak," kata dia. "Salah sekali sebenarnya penulis skenario nggak menyerahkan karena di sini kan diabadikan karyanya. Tapi ya itu, kesadaran untuk mengabadikan itu kurang," tambah dia. Namun sayang usaha Misbach tak dilanjutkan. Setelah dia berhenti mengurus Sinematek pada 2001, koleksi lembaga pengarsipan film pertama dan terbesar di Asia Tenggara itu tak banyak bertambah. Usaha penambahan koleksi hampir tak ada. Artefak Berharga Dalam wawancara dengan pembuat film "Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan", penulis katalog film Indonesia, JB Kristanto, mengatakan bahwa semua yang ada di gudang Sinematek adalah harta karun budaya dan Misbach adalah perawatnya. "Kekayaan film itu menurut saya sebagai artefak jauh lebih kaya dari artefak yang lain, karena dia bukan gambar mati. Misbach-lah yang tahu semua itu," katanya. "Itu harta karun, harta karun budaya. Kalau nggak dirawat kita nggak punya masa lalu, nggak punya sejarah," kata bekas wartawan yang kemudian aktif menjadi penulis resensi film itu. Dan nasib beberapa bangsa yang tidak punya sejarah dan masa lalu tidaklah terlalu bagus, karena akar sejarah dan budaya merupakan salah satu kekuatan yang menyatukan dan menguatkan sebuah bangsa. Setidaknya itu menurut kesimpulan Eric Weiner, penulis Amerika yang berkelana mengunjungi 10 negara untuk mencari kebahagiaan, setelah beberapa hari tinggal di Qatar dan Moldova.

Jadi usaha Misbach dalam merintis pengarsipan dokumentasi film dan pengabdiannya selama 30 tahun untuk membangun lembaga pengarsipan film sudah seharusnya dilanjutkan supaya bangsa ini tak sampai kehilangan sejarah, akar yang menyatukan. Sutradara Riri Riza, yang mengaku mewakili generasi yang tidak terlalu membaca sejarah, menyadari pentingnya pengarsipan dokumentasi film setelah berdiskusi panjang dengan Misbach, yang dianggap sebagai orang yang susah didekati, kaku dan berdisiplin tinggi. Pertemuan-pertemuannya dengan Misbach di Sinematek membuat dia sadar bahwa film Indonesia sekarang terhubung dengan masa lalu. Dan benang merah hubungan itu bisa tak terlihat kalau tidak ada penyambungnya, arsip dokumentasi film. Kesadaran akan pentingnya pengarsipan film dan peran Misbach pula yang membuat Hafiz dan kawan-kawannya di Forum Lenteng menghabiskan waktu 1,5 tahun untuk membuat film dokumenter yang membaca kembali makna dan fungsi arsip film terhadap konstruksi sejarah dan gagasan film di Indonesia. Tertinggal merana Kini, bahkan belum ada setahun sejak Misbach meninggal dunia pada 11 April 2012, sebagian arsip dokumentasi film sudah tertinggal merana di ruang penyimpanan Sinematek Indonesia.

Nasib koleksi film sedikit lebih baik, masih bisa menempati ruang penyimpanan yang meski belum sesuai standar namun kondisinya dijaga tetap stabil pada suhu sembilan derajat Celcius sampai 12 derajat Celcius dan kelembapan antara 45 persen dan 65 persen. Koleksi film yang sampai sekarang belum semua dibuat katalognya itu juga berpeluang mendapat giliran untuk dibersihkan dan diperiksa secara berkala, kalau bernasib baik diputar untuk ditonton kembali. Menurut Kepala Seksi Perawatan Film Sinematek Indonesia, Hartono, Sinematek tidak mempunyai cukup tenaga dan dana untuk secara berkala memutar kembali semua koleksi film. Sebagian film bahkan sama sekali tidak pernah diputar lagi karena Sinematek tidak punya alat pemutarnya, jadi hanya bisa diputar-balik gulungan pitanya supaya bisa bertahan lebih lama. Nasib jenis koleksi yang lain lebih tidak beruntung Koleksi skenario, buku-buku film, dan arsip tokoh penting film hanya bisa pasrah tinggal di perpustakaan berhawa gerah di lantai lima gedung Sinematek Indonesia. Beberapa buku skenario film lama sudah mulai kabur hurufnya, kertasnya mencokelat, juga ada yang sudah terkikis pada beberapa bagian.

Aneka poster dan materi publikasi film dari masa ke masa tergolek tak berdaya, bertumpuk pada rak-rak tanpa mendapat perlindungan terhadap rayap, fluktuasi suhu dan kelembapan. Beberapa ada yang sobek, dimakan rayap, atau menempel satu sama lain. Foto-foto adegan dan pemain film pada masa lalu juga tidak disimpan seperti layaknya arsip sejarah, yang biasanya diperlakukan sebagai barang berharga dan bahkan tak boleh disentuh tangan manusia supaya tidak kotor dan cepat rusak. Koleksi bekuan peristiwa-peristiwa pembuatan film jaman lalu disimpan tanpa perlakuan perlindungan yang layak, hanya ditata dalam laci lemari besi dengan kertas agak tebal di antaranya. Sebagian foto malah masih tersimpan dalam kardus-kardus bekas air minum kemasan, termasuk di antaranya foto bertanggal 19 April 1955 yang dikirim Chitra Dewi--pemeran perempuan terkenal era 1950-an sampai 1990-an-- untuk melamar menjadi pemain film, serta foto-foto acara Pesta Film Indonesia dan Festival Film Indonesia. Misbach menyaksikan kondisi terakhir hasil usaha pengarsipan yang dia rintis dengan sekuat tenaga selama separuh hidup itu saat datang ke Sinematek bersama pembuat film dokumenter pengarsipan film tahun lalu, dengan kondisi kesehatan sudah memburuk, yang membuat dia bahkan terlihat harus berusaha keras untuk bernafas dan berjalan. "Tuh coba, masa begini...(menghela nafas panjang). Sayang ya..., 30 tahun saya habiskan di sini. Ujungnya dibeginiin aja...(menghela nafas panjang). Aahhh...nasiiib lah," kata Misbach lalu kembali menghela nafas panjang dan meninggalkan ruang penyimpanan arsip film Sinematek. Beberapa bulan sesudah itu dia meninggal dunia.

Sumber: kompas 
NS