Senin, 15 Mei 2017

Diskusi Kepustakawanan (Hoax Vs Kebebasan Berpendapat)


Di era teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju dan berkembang, menyebabkan kemudahan dalam mengakses informasi baik di televisi maupun di sosial media yang terkadang menimbulkan permasalahan berupa sulitnya membedakan antara informasi yang benar-benar terjadi atau ril degan informasi yang hoax. Tidak hanya itu, masyarakat juga masih dipermasalahkan antara adanya berita hoax dengan kebebasan berpendapat.

Adanya ledakan informasi baik antara berita hoax dan kebebasan berpendapat yang beredar secara tidak teratur di sosial media tentu tidak dapat dihindari, hal tersebut membawa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat. Hoax merupakan kabar, informasi, atau berita palsu, yang menjadikan perhatian serius bagi pemerintah, masyarakat, serta tidak terkecuali bagi pihak pelayanan informasi atau pustakawan. Hal tersebut menjafikan tanggung jawab bagi pustakawan dan perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sumbernya informasi atau gudangnya informasi, serta pustakawan sebagai tenaga yang bekerja di lembaga informasi sehingga mempunyai tugas dalam mencari informasi, menyebarkan, dan menangkal adanya berita-berita yang tidak benar.

Berdasarkan pemaparan di atas, sesuai dengan program kerja tahunan ALUS (Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan) dalam rangka menangkal berita-berita hoax dan membedakan antara berita hoax dengan kebebasan berpendapat, maka ALUS (Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan) perlu mengadakan suatu diskusi kepustakawanan 2  dengan tema “Hoax VS kebebasan berpendapat” yang merupakan salah satu program kerja divisi Pengembangan Profesi.

Diskusi kepustakawanan 2 “Hoax VS kebebasan berpendapat” dilaksanankan di Gazebo Grhatama Pustaka pada Sabtu, 06 Mei 2017. Mas Ardhian Kusuma SIP. sebagai narasumber memaparkan bahwa hoax sangatlah merugikan. Kebebasan berpendapat bisa menyebabkan hoax apabila kebebasan berpendapat namun tidak bertanggung jawab, dan apabila kebebasan berpendapat untuk memfitnah dan menghina orang lain.

Narasumber juga memaparkan menghindari hoax itu harus dengan kesabaran, kenali situs penyebar hoax, ikuti media sosial/situs anti hoax, belajar bertanggung jawab serta perbanyak membaca. Dalam hal membaca narasumber juga memberikan trik tertentu seperti “Membaca tidak harus dari awal hingga akhir, cukup yang penting saja, tentunya tema.” Papar narasumber.

Dengan adanya kegiatan diskusi kepustakawanan 2 “Hoax VS kebebasan berpendapat” ini diharapkan peserta dapat memahami cara menggunakan media dengan bijak, tidak mudah percaya dengan berita yang belum diketahui kebenarannya, serta dapat mengevaluasi berita yang disinyalir hoax.

INDUSTRY TOUR 2017


Industry tour merupakan kegiatan belajar yang serupa dengan study tour, yakni melakukan kunjungan ke tempat industri untuk menambah ilmu dan pengetahuan bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Divisi Pengembangan Profesi yang baru pertama kali dilakukan pada tahun ini. Kali ini industry tour menyasar dunia penerbitan untuk dikunjungi, yaitu Penerbit Andy Offset, Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan, khususnya anggota ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dalam kegiatan proses penerbitan, editing, distributor dan informasi di dunia penerbitan. 

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 Maret 2017. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemaparan materi oleh pihak penerbit tentang bagaimana dunia percetakan, sejarah penerbitan Andy Offset, ketentuan menjadi penulis, masalah-masalah yang dihadapi publisher/penerbit. Baru setelahnya, peserta diajak  masuk ke gedung produksi untuk melihat langsung bagaimana proses produksi dari sebuah buku. Setelah itu, peserta diajak ke toko buku Andy Offset untuk melihat buku yang sudah selsesai produksi dan siap untuk dijual.

Kegiatan ini dilaksanakan guna memberikan wawasan dan gambaran kepada seluruh anggota ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang mengikuti kegiatan, yang mana nantinya apabila sudah lulus tidak hanya bisa berkiprah di dunia kepustakawanan saja, namun juga dunia penerbitan.

Jogja Membaca 6 (Kreatifkan Dirimu dengan Membaca)


Pesatnya perkembangan teknologi yang diikuti dengan kemudahan akses informasi saat ini tidak menutup fakta bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh UNESCO terhadap minat baca di 61 negara. Hasil dari survei tersebut menempatkan Indonesia di posisi terendah kedua, dari 61 negara, dengan presentase 0,001%. Tidak meratanya kemudahan akses informasi menjadi salah satu alasan rendahnya minat baca yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah-daerah yang memiliki kondisi geografis pegunungan. Salah satunya adalah Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta. Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten yang terletak di ujung selatan provinsi D. I. Yogyakarta. Hal tersebut mendorong ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Yogyakarta untuk menjembatani masyarakat dengan media informasi melalui kegiatan Jogja Membaca. Jogja membaca merupakan agenda rutin tahunan ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Yogyakarta yang pada tahun ini memasuki tahun ke-6 dengan tema “Kreatifkan Dirimu dengan Membaca”. 

Acara ini diadakan sekaligus untuk memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April. Selain itu kegiatan ini dimaksudkan guna memberikan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya membaca yang merupakan proses Long Life Education yang tidak hanya improvement dan development melainkan juga emprovement dalam membentuk pribadi masyarakat sukses.

Acara Jogja Membaca 6 dibuka secara simbolik oleh kepala BPAD Kabupaten Gunungkidul. Acara ini dilaksanakan tepatnya di Desa Sambirejo Kec. Ngawen Kab. Gunungkidul. Sebagai tuan rumah, masyarakat Desa Sambirejo menyambut dengan meriah acara Jogja Membaca 6 serta mengikuti kegiatan demi kegiatan dengan sangat antusias. 

Acara ini bekerjasama dengan Perpustakaan Indika Desa Sambirejo. “Perpustakaan bertujuan memfasilitasi anak-anak untuk mudah mendapatkan informasi, karena di era globalisasi ini kegiatan anak-anak lebih mengarah ke hal-hal yang negatif” ujar kepala Desa Sambirejo dalam sambutannya.

Acara Jogja Membaca 6 berjalan dengan meriah. Terdapat berbagai kegiatan yang telah disiapkan oleh tim panitia, antara lain lomba menggambar dan story telling untuk anak-anak, demo memasak dan talkshow tentang pertanian, serta hiburan yaitu penampilan tarian Reog oleh anak-anak. Talkshow yang dilaksanakan bertemakan pertanian karena mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Sambirejo adalah bertani serta pertanian memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat. 

Pelatihan Jurnalistik “The Relationship Between Director And Script Writer”

Tepat pada hari sabtu, 1 April 2017 sekaligus dalam rangka peringatan Hari Film Nasional ke-67,  ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan telah mengadakan mini seminar jurnalistik yang berbeda dari pelatihan jurnaistik sebelumnya, yaitu dengan mengangkat tema “ the relationship between director and script writer”. Menurut ketua panitia acara, Anis Maghfiroh kegiatan ini didasarkan pada kemajuan media disgtribusi informasi yang menggunakan media film. Serta media film inilah yang dirasa memiliki lebih daya tarik dan dampak terhadap masyarakat. Maka dari itu kegiatan ini dapat dimanfaatkan oeh masyarakat dalam penambahan wawasan mengenai cara pembuatan film yang baik dan dengan dana dan peralatan yang bahkan sangat minimum.

Pelatihan jurnalistik ini dilaksanakan di ruang Teatrikal perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang  diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. 

Dalam waktu yang dapat dikatakan cukup singkat untuk membahas tehnikal film, kedua pembicara dalam acara ini yaitu, Mas Buyung Ispramadi (Jamaah Cinema mahasiswa) dan Bapak Budi Irawanto, SIP., MA. Menjelaskan bagaimana kita dapat membuat naskah yang baik untuk sebuah film dan bagaimana kriteria film yang baik.

“dimulai dari hak yang simpel itu dapat menjadi hal yang menarik” begitulah yang dituturkan oleh mas Buyung Ispramadi ketika menjelaskan bagaimana kita dapat memulai menulis naskah dan mengangkat suar=tu permasalahan dalam sebuah film. Menurut beliau dalam menulis anskah apapun yang kita fikirkan cukup kita tuliskan. Seperti apapun nanti hasilnya dan apapun yang akan kita terima dari orang lain dan terus lakukan yang terbaik karena menurut beliau kita harus berpedoman “setiap orang yang melihat film ini adalah orang yang pintar” jadi kita tidak bisa meremehkan dan menganggap orang lain tidak tahu.

Sementara dalam permasalahan yang kedua dalam mini seminar ini yaitu tentang relationship director dan penulis naskah sempat dlontarkan pertanyaan oleh Bapak Budi Irawanto, SIP., MA  “manakah yang menjadi dewa ? Sutradara atau Penulis naskah?”. Karena dari kedua hal inilah film dapat diproduksi. Namun pada dasarnya naskah itu sendiri yang menjadi dewanya. 
Selama mini seminar ini para peserta dengan antusias memberikan berbagai pertanyaan kepada para pemateri baik  seputar proses pembuatan maupun penilaian film yang baik berdasr pada pengalaman para pembicara.

Dengan adanya kegiatan pelatihan jurnalistik “ the relatioship between director and script writer” ini diharpakan para peserta kedepannya mampu membuat film yang berkualitas dan dapat memilah film yang berkualitas serta dapat meningkatkan minat dan kreatifitas masyarakat dalam menghidupkan dunia perfilman indonesia.

Ultah ALUS ke-10 "Get Lost"


Tak terasa tepat pada tanggal 7 Maret 2017, ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan memasuki usia yang ke-10. Maka dalam rangka memperingati hari lahir tersebut, ALUS mengadakan bakti sosial dan serangkaian acara untuk seluruh anggota ALUS. Acara diadakan pada tanggal 5 Maret 2017 di Pengklik Pantai Samas, Bantul. Acara berjalan lancar dan seru, acara dimulai dengan pembukaan sambutan dari ketua panitia,dan ketua umum ALUS  dan dilanjutkan dengan game-game antar anggota ALUS. Games yang dilaksanakan diantaranya Menjinakan bom, rantai misteri, pralong bolong, dan tarik tambang. Setelah games perwakilan panitia melakukan bakti sosial dengan menyerahkan beberapa tong sampah kepada penduduk sekitar pantai. Kemudian pada acara inti diisi oleh Demisioner yakni pendiri ALUS yang disampaikan oleh bang Supriyadi Jondhi yang membicarakan tentang awal berdirinya ALUS sekaligus sarasehan  dan kegiatan ini diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh ketua panitia dan ketua umum ALUS yang diberikan kepada Demisioner. 

Di usia ALUS yang ke-10 ini, semoga semakin kompak dan diberkahi serta apa yang ALUS bagi bisa bermanfaat bukan hanya untuk ALUS tetapi juga untuk semua kalangan masyarakat. 

ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, terus berpikir kretif & berjiwa besar.

ALUS Goes to School Jogja Istimewa


“Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah” merupakan stereotip sepanjang masa yang terus melekat dalam masyarakat kita. Seperti kita ketahui, bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai angka minat baca yang tinggi, sedangkan melihat indeks minat baca masyarakat di Indonesia saat ini masih dalam keadaan yang memprihatinkan. Disinilah peran perpustakaan di Indonesia patut untuk dipertanyakan. 

Salah satu peran perpustakaan yang patut untuk dipertanyakan adalah perpustakaan sekolah. Peran perpustakaan sekolah sangatlah vital untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan dapat dikatakan sebagai “jantung sekolah” yakni sebagai sarana utama untuk mendukung proses pendidikan, penelitian, informasi, pembudayaan, pelestarian, dan rekreasi, selain itu perpustakaan sekolah juga sebagai tolak ukur baik atau tidaknya sistem pendidikan yang ada di sekolah tersebut. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini masih banyak perpustakaan sekolah yang belum memenuhi standar nasional, baik dari segi manajemen, teknologi, maupun fisik. 

Maka kami ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan menawarkan suatu solusi bagi perpustakaan sekolah khususnya sekolah-sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melakukan perbaikan dan pengembangan yang berorientasi pada Standar Nasional Perpustakaan, melalui kegiatan ALUS Goes To School “Jogja Istimewa” yang akan dilaksanakan pada 12 November 2016. Kegiatan ini bertepatan dengan hari pahlawan, pada tanggal 10 November sebagai momen yang tepat untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan perpustakaan sekolah dapat meningkat dan dapat memenuhi kegiatan belajar mengajar bagi siswa.

Pelaksanaan ALUS Goes to School “Jogja Istimewa” ini dilaksanakan di 8 sekolah yaitu SD N Surokarsan 2, SD Kepuh, SMK N 1 Pajangan, SD N Bakulan, SD N Percobaan 3 Pakem, MA Darul Ulum Muhammadiyah, SD N 4 Wates dan SD Muhammadiyah Wonosari. Adapun serangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam acara ALUS Goes to School “Jogja Istimewa” ini, sebagai berikut:

1. User Education
2. Pustakawan kecil
3. Game Perpustakaan
4. Story Telling

Sudahkah perpustakaan sebagai sarana penunjang belajar mengajar bagi siswa dan guru? Sudahkah perpustakaan yang sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan? Sudahkah perpustakaan sebagait empat yang menarik dan paling diminati oleh warga sekolah? Itu semua merupakan permasalahan yang harus kita selesaikan dengan Library, Action Right Now!





Pustakawan Plus "Interactive Graphic Of Structure Design"


Pada hari Sabtu, 24 Desember 2016 ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan kembali mengadakan Pustakawan Plus. Pustakawan Plus ini diadakan di Teatrikal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini dengan sambutan dari ketua panitia Pustakawan Plus, yaitu Isminingsih dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Siti Maysaroh.

Acara inti Pustakawan Plus dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama yang dimulai pada pukul 10.00 WIB diisi oleh Fauzan Dwi Kurniawan yang membawakan materi branding perpustakaan dan dilanjutkan dengan materi mengenai desain grafis yang dibawakan oleh Mohammad Furqon.

Acara tahunan ini dilaksakan untuk memberikan pembekalan kepada pesertanya, agar mampu memahami bagaimana layanan multimedia dalam penerapan, dan pengoperasian multimedia khususnya di perpustakaan.