Jumat, 23 Desember 2011

PROBLEMATIKA HAK CIPTA DALAM KONTEKS PERBUKUAN DI INDONESIA

ABSTRAK
Problematika Hak Cipta merupakan salah satu persoalan bagi pegiat industry perbukuan di Indonesia yang hingga kini masih menghadapi kendala terhadap tingginya biaya produksi akibat mahalnya harga kertas dan beban dari berbagai macam pajak untuk bahan buku lainnya. Pengaturan tentang hak cipta ini dalam system hukum Indonesia merupakan bidang hukum perdata, yang termasuk dalam bagian hukum benda. Khusus mengenai hukum benda terdapat pengaturan tentang hak-hak kebendaan.
Tak bisa dipungkiri bahwa berlimpahnya bacaan merupakan katalisator perkembangan intelektualitas dan kreativitas masyarakat, serta memicu pemikiran kritis masyarakat. Hal ini berarti peningkatan kwalitas sumberdaya manusia Indonesia yang hingga kini masih menduduki peringkat bawah diantara bangsa-bangsa sedunia.


1. Latar Belakang
Hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 2 angka 1 UUHC No. 12/1997). Hak cipta merupakan merupakan istilah hukum untuk menyebut atau menamakan hasil kreasi atau karya cipta manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni.
Pengaturan tentang hak cipta ini dalam system hukum Indonesia merupakan bidang hukum perdata, yang termasuk dalam bagian hukum benda. Khusus mengenai hukum benda terdapat pengaturan tentang hak-hak kebendaan. Hak kebendaan itu sendiri terdiri atas hak kebendaan materiil dan hak kebendaan immaterial. Termasuk dalam hak immaterial adalah hak kekayaan intelektual (intellectual property right), yang terdiri atas hak cipta (copyright) dan hak milik industri (industrial property right).
Hak cipta sendiri mencakup dua bagian, yaitu : hak cipta dan hak yang bertetangga dengan hak cipta (neigbouring right), sedangkan hak milik industri mencakup : hak paten, model, dan rancang bangunan (utility models), desain industri (industrial design), merek dagang (trade merk), nama niaga dan nama dagang, sumber tanda atau sebutan asal (indication of source or appellation of origin).
Masalah hak cipta ini muncul berkaitan dengan masalah liberalisasi ekonomi di satu pihak dan masalah kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia di pihak lain. Kondisi social budaya masyarakat Indonesia masih dalam masa transisi industrial yang belum semuanya mengerti dan memahami masalah hak cipta yang sebelumnya tidak dikenal. Masyarakat transisi industrial digambarkan sebagai masyarakat yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris yang bercorak komunal-tradisional ke masyarakat industrial yang bercorak individual-modern. Perubahan itu berkaitan dengan struktur hubungan masyarakat yang belum tuntas ke corak yang lebih rasional dan komersial sebagai akibat dari proses pembangunan yang dilakukan.

2. PEMBAHASAN
Masalah hak cipta adalah masalah yang sangat luas, karena ia tidak saja menyangkut hak individu yang berada dalam lingkungan nasional, tetapi ia menembus dinding-dinding dan batas-batas suatu Negara yang untuk selanjutnya bergumul dalam lingkungan internasional. Selama ini berbagai usaha untuk menyosialisasikan penghargaan atas Hak atas Kekayaaan Intelektual (HAKI) telah dilakukan secara bersama-sama oleh aparat pemerintah terkait beserta lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat. Akan tetapi sejauh ini upaya sosialisasi tersebut tampaknya belum cukup berhasil. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, konsep dan perlunya HAKI belum dipahami secara benar di kalangan masyarakat. Kedua, kurang optimalnya upaya penegakan, baik oleh pemilik HAKI itu sendiri maupun aparat penegak hukum. Ketiga, tidak adanya kesamaan pandangan dan pengertian mengenai pentingnya perlindungan dan penegakan HAKI di kalangan pemilik
HAKI dan aparat penegak hukum, baik itu aparat Kepolisian, Kejaksaan maupun hakim. Merujuk kembali pada papa ran diatas, mengenai mekanisme control terhadap percetakan
yang terjadi di Inggris, terlihat bahwa persoalan hak cipta dapat pula ditinjau dari perspektif ekonomi-politik. Dimensi tersebut, hak cipta Nampak semakin jelas jika dilihat dalambingkai kepentingan antar Negara.
Hak cipta yang diatur secara internasional antar Negara menunjukkan bahwa persoalan ini menunjukkan arena kepentingan nasional antar Negara. Dimana setiap Negara yang berkepentingan dengan pemberlakuan hak cipta atas produk dari negaranya pasti akan mendesak agar peraturan ini berlaku secara luas. Sementara Negara- Negara yang tingkat produksi barang-barang yang berhak ciptanya masih rendah, sehingga berstatus menjadi konsumen, dan tingkat kemampuan ekonomi masyarakatnya rendah pula, maka Negara dalam kategori ini umumnya adalah Negara dunia ketiga yang berkembang dan berusaha agar hak cipta tak berlaku secara sepenuhnya sebagaimana keinginan Negara produsen yang umumnnya dalah Negara industry/maju.
Ignatus Haryanto, mencatat bahwa di Indonesia tak ada undang-undang yang diamandemen berkali-kali dalam tempo yang amat singkat selain Undang-undang Hak Cipta. Dalam 20 tahun, undang-undang ini telah diamandemen tiga kali. Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan itu dilakukan atas desakan internasional dan bukan merupakan kebutuhan konkret di dalam negeri.
Indonesia pun kini bersikap kritis terhadap pemberlakuan Hak Cipta secara luas. Pada tahun 1958, pemerintah Indonesia (Kabinet Juanda) manyatakan Indonesia keluar dari konvensi Bern dengan alas an Indonesia masih perlu memperbanyak karya-karya asing demi peningkatan standar pendidikan. Ironisnya, dibandingkan dengan India, Indonesia jauh tertinggal. Sampai sekarang Indonesia masih dirundung persoalan yang tak kunjung selesai terkait soal perbukuan dan perpajakan. Sementara India kini sudah mampu tampil berwibawa dalam kancah perbukuan internasional tahun 2006 kemarin, India menjadi tamu kehormatan untuk kedua kalinya dalam ajang bursa buku internasional , Frankfurt Book Fair di Jerman. Seiring dengan masa Orde Baru yang diikuti dengan menjamurnya penerbit-penerbit kecil di berbagai kota seperti Jakarta dan Yogyakarta. Penerbit-penerbit kecil inilah yang kemudian yang kemudian menahbiskan identitas diri mereka sebagai penerbit alternative. Dengan demikian, predikat alternative bukanlah label yang dilekatkan oleh pihak luar, namun merupakan pilihan identitas para pegiat penerbit kecil tersebut. Bahkan pada tanggal 06
Oktober 2001, berbarengan dengan momentumnya dengan acara pameran buku IKAPI di gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta, sekelompok pegiat penerbit buku mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Penerbit Alternatif (APA).
Berbagai tulisan tentang penerbit alternative di beberapa media massa juga memuat karakteristik-karakteristik yang mirip dengan apa yang di tulis oleh Wangsitalaja. Salah satunya adalah sebuah artikel dalam rubric Pustakaloka (SKH Kompas), memuat tiga cirri yang melekat dengan sebutan alternative, yaitu :
1. Usaha penerbitan ini semata-mata bukan hanya urusan komoditas. Artinya, penerbitan tidak selalu diorentasikan pada pencapaian keuntungan dari transaksi ual neli buku, namun tetap memperhatikan penyebaran nilai-nilai idealism yang terkandung dalam buku-buku tersebut.
2. Sebagai penerbit alternative, persoalan manajemen adalah persoalan yang mengikuti pekerjaan penerbitan. Oleh karena itu, bentuk dan status kelembagaan maupun segenap aspek manajemen bukan sesuatu yang harus dibentuk dulu dengan rapi, namun bias dibentuk belakangan kalau memang sudah diperlukan. Hal ini yang membedakannya dengan penerbit bukan alternative semenjak awal, status kelembagaan, struktur organisasi, permodalan, keuangan, hingga deskripsi pekerjaan masing-masing bagian yang sudah ditetapkan.
3. Buku-buku yang dipilih untuk diterbitkan tidak memperdulikan selera pasar, semata-mata pemilihan berdasarkan pertimbangan subyektif penerbit.
Kebanyakan buku-buku produk penerbit alternative di Yogyakarta adalah terjemahan, maraknya penerbitan buku terjemahan di Yogyakarta membuka peluang bagi masyarakat dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang selama ini terbatas aksesnya karena kendala penguasaan bahasa asing dan kewajiban bagi penerbit untuk membayar rit kerap memperoleh kroyalty apabila hendak menerbitkan buku-buku yang hak ciptanya dimiliki oleh penulis ataupun penerbit luar negeri, efek pada tingginya biaya produksi dan mahalnya buku. Inilah salah satu kritik terhadap Haki, khususnya Hak Cipta, yakni royalty akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi dan akan mencegah aliran ilmu pengetahuan.
Terkait dengan Hak Cipta, beberapa penerbit alternative di Yogyakarta menerbitkan buku terjemahan tanpa membayar royalty kepada pemegang H Cipta di luar negeri. Pada poin permasalahan inilah penerbit alternative kerap memperoleh kritik. Kendati demikian, pihak penerbit alternative mempunyai argument untuk menjawab kritiksn tersebut.
Merujuk kepada kepentingan masyarakat, tindakan dari beberapa penerbit bisa dinilai positif dan berjasa. Amin Wangsitalaja berpendapat bahwa penerbit-penerbit alternative yang jamak memperoduksi buku-buku terjemahan tanpa mengindahkan ketentuan Hak Cipta telah berjasa memarakkan penyebaran dan transfer pengetahuan, serta meningkatkan minat baca masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa berlimpahnya bacaan merupakan katalisator perkembangan intelektualitas dan kreativitas masyarakat, serta memicu pemikiran kritis masyarakat. Hal ini berarti peningkatan kwalitas sumberdaya manusia Indonesia yang hingga kini masih menduduki peringkat bawah diantara bangsa-bangsa sedunia.
Problematika Hak Cipta merupakan salah satu persoalan bagi pegiat industry perbukuan di Indonesia yang hingga kini masih menghadapi kendala terhadap tingginya biaya produksi akibat mahalnya harga kertas dan beban dari berbagai macam pajak untuk bahan buku lainnya. Beragam beban pajak yang dikenakan kepada para penerbit inilah yang terpaksa dimasukkan kedalam komponen harga buku yang 60 % dari total ongkos produksinya adalah biaya pembelian kertas.
Sebagai rekomendasi, agar peraturan Hak Cipta jangan justru menghambat bahkan mematikan kiprah penerbit yang mempunyai konstribusi yang signifikan terhadap penumbuhan minat baca dan diseminasi ilmu pengetahuan, maka seharusnya pemerintah menempuh jalan bijak dengan cara membantu mereka agar terhindar dari tindakan-tindakan yang dianggap melanggar Hak Cipta. Apabila kendala penerbit adalah soal sumberdaya manusia, pemerintah dapat mengatasinya dengan cara membina para penerbit dengan cara memberikan pelatihan mengenai pengelolaan penerbitan secara profesonal.

3. KESIMPULAN
Selama ini berbagai usaha untuk menyosialisasikan penghargaan atas Hak atas Kekayaaan Intelektual (HAKI) telah dilakukan secara bersama-sama oleh aparat pemerintah terkait beserta lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat. Akan tetapi sejauh ini upaya sosialisasi tersebut tampaknya belum cukup berhasil. Dengan berlimpahnya bacaan merupakan katalisator perkembangan intelektualitas dan kreativitas masyarakat, serta memicu pemikiran kritis masyarakat. Hal ini berarti peningkatan kwalitas sumberdaya manusia Indonesia yang hingga kini masih menduduki peringkat bawah diantara bangsa- bangsa sedunia.
Maraknya penerbitan buku terjemahan membuka peluang bagi masyarakat dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang selama ini terbatas aksesnya karena kendala penguasaan bahasa asing dan kewajiban bagi penerbit untuk membayar irit kerap memperoleh royalty apabila hendak menerbitkan buku-buku yang hak ciptanya dimiliki oleh penulis ataupun penerbit luar negeri, efek pada tingginya biaya produksi dan mahalnya buku. Inilah salah satu kritik terhadap Haki, khususnya Hak Cipta, yakni royalty akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi dan akan mencegah aliran ilmu pengetahuan.
Merujuk kepada kepentingan masyarakat, tindakan dari beberapa penerbit bisa dinilai positif dan berjasa. penerbit-penerbit alternative yang jamak memperoduksi buku-buku terjemahan tanpa mengindahkan ketentuan Hak Cipta telah berjasa memarakkan penyebaran dan transfer pengetahuan, serta meningkatkan minat baca masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Subhan, Ahamad. 2006. Hak Cipta dan Penerbit Alternatif. Dalam Fihris, Volume I, Nomor I, Edisi Januari-Juni. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga.

Dakidae, Daniel. 1997. “ Ekonomi Politik Industri Buku di Indonesia”. Dalam Buku
Meningkatkan Kualitas Bangsa. Frans Magnis Suseno, dkk. Yogyakarta : Kanisius.

Gldstein, Paul. 1997. “ Hak Cipta : Dulu, Kini dan Esok. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.

Undang-undang no 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.


Oleh: Mukhlis
*Mukhlis adalah Kepala Devisi Pengabdian Masyarakat periode 2011-2012

Berita Acara Pelatihan Otomasi berbasis SLiMS

The Library Automation Training of ALUS
(Berita Acara Pelatihan Otomasi Perpustakaan berbasis SLiMS)


   Jika melihat begitu banyaknya tersedia perangkat lunak gratis untuk membangun otomasi perpustakaan, maka tidak ada lagi alasan lagi bagi kita untuk menunda untuk mempelajari dan menguasai otomasi perpustakaan atau pembangunan perpustakaan yang mengoleksi data digital. pengelola perpustakaan tidak dapat lagi mengkambing hitamkan ketidak tersediaan perangkat lunak sebagai penyebab kegagalan otomasi perpustakaan atau pembangunan perpustakaan yang berbasis otomasi. Saat ini yang diperlukan adalah motivasi pengelola perpustakaan atau pustakawan, terlebih lagi bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan untuk belajar menggunakan berbagai perangkat lunak otomasi perpustakaan secara gratis.
    Eksistensi perangkat lunak ini dapat dijadikan sebagai awal kebangkitan perpustakaan di Indonesia. Bangkit di tengah keterpurukan karena tidak tersedianya dana bagi pengembangan perpustakaan. Jika seluruh perpustakaan di Indonesia mampu memanfaaktan eksistensi perangkat lunak gratis maka seluruh perpustakaan akan mampu menjadi perpustakaan impian pengguna. Apabila ini terwujud maka perpustakaan tidak akan dipandingkan sebelah mata lagi.
Perangkat lunak otomasi perpustakaan memiliki fungsi untuk mempermudah kegiatan administrasi perpustakaan. Sebagai perangkat lunak otomasi perpustakaan maka SLiMS harus mampu mempermudah kegiatan administrasi perpustakaan. Jika melihat menu-menu yang disediakan SLiMS, perangkat lunak ini mampu menjalankan fungsi administrasi yang ada di perpustakaan. Kegiatan pengolahan, peminjaman, pengembalian, pemesanan koleksi, penyiangan, manajemen anggota, fasilitas pencetakan barcode (barcode koleksi dan anggota) serta berbagai jenis laporan. Dari fitur serta berbagai menu-menu yang ada di SLiMS, maka kita dapat melakukan modifikasi template sesuai dengan tingkat kebutuhan dan ketersesuaian ciri khas dari lembaga yang menggunakannya, oleh sebab itu, kegiatan tersebut dapat menjadi terobosan baru demi meningkatkan kreatifitas para calon pustakawan masa depan.
Berangkat dari wacana tersebut, ALUS (Assiciation of Library University Students), merasa terpanggil untuk melakukan pelatihan pemanfaatan software SLiMS sebagai bentuk pembekalan dan pendalaman pemahaman kepada seluruh anggota dalam mengaplikasikan software tersebut sebelum memasuki dunia kerja mereka di perpustakaan. Kegiatan pelatihan otomasi tersebut sebelumnya telah dipercayakan oleh DPPM (Divisi Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat), sebagai promoter untuk meningkatkan daya kreatifitas anggota.
   Agar lebih tertib dan konsisten, maka pelatihan otomasi tersebut dilakukan dalam tiga sesi. Untuk sesi I diselenggarakan pada tanggal 1 Juni 2011 di aula Masjid Al- Irsyad Sidobali Umbulharjo Yogyakarta, materi yang diajarkan pada pelatihan tersebut mencakup cara instalasi SLiMS menggunakan XAMPP, pelatihan tersebut dihandle langsung oleh Ketua Umum ALUS (Misbahul Munir). Pada pelatihan tersebut dihadiri oleh anggota ALUS sebanyak 30 orang. Pada sesi yang ke-II diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 2011, di tempat yang sama. Pelatihan tersebut dihadiri oleh anggota ALUS sebanyak 40 orang anggota, materi yang diajarkan pada pelatihan tersebut mencakup penguasaan menu-menu utama pada SLiMS. Pelatihan tersebut masih dihandle langsung oleh Ketua Umum ALUS, kemudian pelatihan sesi ke-III dilaksanakan di tempat yang sama pada tanggal 17 Desember 2011. Konsep acara sengaja dibuat sedikit berbeda dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya. Pada pelatihan ini materi yang diangkat terdapat tiga sesi, dan masing-masing sesi dihandle oleh masing-masing perwakilan dari Divisi-Divisi ALUS. Sesi yang pertama diajarkan langkah-langkah input data digital (pdf, video, gambar dan teks yang berformat MS.Word) pada SLiMS. Materi tersebut dibawakan oleh Mukhlis (dari Divisi Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat), kemudian sesi kedua diajarkan cara melakukan modifikasi template (ganti logo, header pada template publik dan admin), Materi tersebut dibawakan oleh Gus Munir (dari Divisi Keanggotaan), kemudian sesi terakhir diajarkan cara merubah ukuran pada label, barcode dan kartu anggota, materi tersebut dibawakan oleh Nastain (dari Divisi Pengembangan Profesi). Pada pelatihan yang terakhir ini, para peserta terlihat begitu antusias mengikuti pelatihan, karena materi-materi yang diajarkan begitu menarik bagi mereka dan sebelumnya mereka belum pernah mencoba melakukan praktik secara langsung seperti yang dilakukan pada saat itu.
    Pada prinsipnya, kegiatan tersebut dilaksanakan Sebagai upaya untuk meningkatkan sikap profesionalisme dikalangan anggota ALUS yang melek terhadap Teknologi informasi, mengadakan latihan bersama terkait penguasaan aplikasi otomasi perpustakaan yang berbasis open source, Sebagai sarana peningkatan mutu dan kualitas keilmuan antar anggota terkait dengan penguasaan software otomasi perpustakaan, sebagai wujud kepedulian terhadap pentingnya menguasai aplikasi otomasi perpustakaan, sebagai calon pustakawan masa depan. Akhir kata, semoga hal yang sederhana tersebut dapat memberikan kontribusi yang besar untuk pengembangan skill pada anggota pada umumnya.

Oleh: Kepala Devisi Pengabdian Masyarakat (Mukhlis)

Senin, 19 Desember 2011

Bincang-Bincang Seni

BBY (Bentara Budaya Yogyakarta)

Merayap Waktu
lagu puisi Untung Basuki

Merayap waktu menelan bumi
Merobek mulut dikejar janji
Merentang tangan yang tak pasti
Menjadi lambat menuju mati
Waktu begitu segeralah Beranjak pergi, segeralah
Beranjak pergi
Bendera alam kehidupan
Berkibar siang malam
=1978=

Yogya (16/12/2011) acara malam bincang-bincang di Bentara Budaya “KOMPAS” Yogyakarta ini yang mengambil tema salah satu karya lagu puisi berjudul “Merayap Waktu” milik Untung Basuki.

Untung Basuki merupakan seniman senior yang bias dikatakan legendaris jug bagi kalangan seniman, baik jogja maupun sekitar jawa. Lelaki paruh baya yang lahir pada tahun 1949 ini sungguh memang melekatkan dirinya pada duni seni, dulu dia merupakan kawakan bidang seni rupa, lalu beralih ke seni teater,, dan akhirnya kandas pada seni music berupa lagu puisi. Lagu puisi ini merupakan suatu puisi yang dibuat lagu olehnya, diaransemen sebaik mungkin dengan penuh penghayatan. Performanya yang mampu membawa diri para penontonnya serta diiringi indahnya suara hujan yang membuat suasana semakin syahdu…

Lagu puisi adalah lagu yang dicipta berdasar puisi. Puisi yang digubah menjadi lagu. Dengan aturan tidak mengubah, baik mengurangi, menambah, ataupun mengganti kata. Dan tidak mengenal genre musik –apakah  musik rock, pop, dangdut, jazz, balada, country, ataupun blues. Karena lagu puisi tercipta atas dasar kemauan puisi bukan kemauan musik.”
Untung Basuki - Yogyakarta, Jumat 16 Desember 2011

Pada bincang-bincang malam itu, lagu-lagu yang dilantunkan antara lain Merayap Waktu sekaligus sebagai tema dan pembuka acara ini, lepas-lepas, ingin ku gambar, jiwa yang resah, bunga-bunga,

Pak Dhe Untung (panggilan akrabnya) selain sebagai seniman juga telah mengikuti sanggar bambu sejak dia muda hingga saat ini, Menjadi Anggota Sanggar Bambu (sejak era tahun 1970-an), Menjadi anggota Bengkel Teater (sejak tahun 1970-sekarang) dan ikut di sebagian besar pentas-pentasnya, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri. .Selain itu dia Melatih teater dan mengkursus seni lukis dan musik di Samarinda (tahun 1980-an), Kuala Lumpur atas undangan Gapena (Gabungan Penulis Nasional) Malaysia, mengubah dan menyanyikan puisi Merapi dan Kuda Kasongan  Karya Prof. Dr. Siti Zaenon Ismail (2004).  Sekarang, aktif melatih teater, di SMA St. Michael, Warak-Sleman, SMA Santa Maria, Yogyakarta, dan Universitas Duta Wacana, Yogyakarta. Juga aktif mencipta lagu-lagu puisi.

Dari sekian tahun Pak Dhe Untung sapaan akrapnya, telah menghasilkan banyak karya-karya spektakuler. Karya-karya lagu puisi yang berhasil diciptakannya adalah Lepas-Lepas (1972), Gadis Manis (1972), bayi Mati (1973), Bunga-Bunga (1973), Kususuri Sungai (1973), Kuterjun dan Melayang (1973), Ingin ku Gambar (1973), Hutan Pinus (1974), harimau II (1975), Langkahku Menuju Ke mana (1976), Merayap Waktu (1975), Sinila (1983), Mahakam I (1980), Bulan Tua (1980), Saudara-Saudaraku (1980), Maju Perang (1980), Lagu untuk Helga (1981), Elegi (1982), Malingkar (1986), Iqro’ (1986), Sajak Sebatang Lisong (1970), On The Hill (1990), Nyanyian Subur (1990), Lagu untuk Prajurit (1990), Jiwa yang Resah (1990), Samudera Puisi (1990). Wanagama (1993), Terapi Kasih (1993), Tanah (1994), Telatah Jogja (1995), Tepian Berantas (2000), Kemerdekaan Aqua dan Coca Cola (2000), Merapi (2004), Kuda Kasongan (2004), Tinta Terakhir (2006), Bila di langit Kelam Terdengar Suara Berdentang (2006), Apa (2006), Sorobayan (2006), Kerinduan (2006), Pagi Hari (2006), Rembulan dan Matahari (2006), Berkalung Angan (2008), Yin yang (2010), Ramalane Pasar Kembang (2011), serta masih banyak lagu puisi yang belum atau tidak didokumentasikan oleh Untung Basuki.

Kegiatan Negative Itu Akan  Menuju Irama Kematian
Dan
Kegiatan Positif Itu Akan Menuju Irama Kehipan”

* Misbahul Munir adalah Ketua Umum ALUS periode 2011-2012 
          Afif Nur Aziz 
*Afif adalah anggota Divisi Pers

SARASEHAN PUSTAKAWAN Tema : “Menjadikan Perpustakaan Sebagai Tempat Edukatif yang Efektif”



PROPOSAL
A. LATAR BELAKANG
Perpustakaan memiliki peranan yang sangat besar dalam ranah pendidikan sebagai pusat informasi, hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai macam pembenahan dan pembinaan perpustakaanyang sudah mulai direalisasikan oleh para penentu kebijakan, jika kita mengamati lebih dalam, wacana tersebut dapat kita pertanyakan kembali bahwa sejauh mana perpustakaan dapat menyuplai pendidikan dan apakah telah sesuai, selaras dan seimbang dengan fungsinya kini sebagai tempat edukasi yang efektif.Dari satu sisi, informasi sering dianggap sebagai angin lalu saja tanpa ada nilai di dalamnya. Informasi juga sering disikapi sebagai wacana saja yang hanya menggema tanpa ada hakikat yang dimilikinya. Karena dampak dari era globalisasi terus meningkat, hal tersebut mengakibatkan berkurangnya minat atau kesadaran akan informasi yang terdapat di perpustakaan, sehingga perpustakaan dituntut untuk menyikapi masalah yang terdapat pada mayarakat agar mampu meningkatkan minat serta motivasi mereka untuk kembali memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat informasi.
Menyimak dari berbagai fenomena diatas, salah satu faktor utama yang menjadi kendala adalah tidak semua lembaga pendidikan memiliki perpustakaan dan tidak dikelola sebagaimana mestinya, sehingga masyarakat pengguna menjadi malas/enggan berkunjung ke perpustakaan untuk mengakses informasi. Padahal perpustakaan sebagai salah satu lembaga penyedia informasi menjadi tulang punggung berkembanganya pengetahuan masyarakat, karena informasi didalamnya merupakan asset penting bagi peradaban masyarakat. Oleh karena itu, perpustakaan perlu membangun interaksi-interkoneksi dengan masyarakat pengguna, akademisi maupun masyarakat pada umumnya, dengan adanya interaksi-interkoneksi yang baik maka diharapkan akan tercipta relasi yang harmonis serta rasa peduli untuk maju dan berkembang bersama untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat edukasi yang efektif sepanjang masa.




B. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini bernama Refleksi Akhir Tahun Dunia Kepustakawanan

C. TEMA KEGIATAN
Kegiatan ini bertemaMenjadikan Perpustakaan Sebagai Tempat Edukasi Yang Efektif

D. TUJUAN KEGIATAN
1. Menyelenggarakan kegiatan refleksi kinerja pustakawan selama setahun.
2. Menyelaraskan pemahaman tentang perpustakaan dari sudut pandang pustakawan.
3. Berbagi pengalaman pustakawan terhadap fungsionalitas pustakawan di perpustakaan dalam bidang pendidikan.
4. Terciptanya semangat baru bagi seluruh pustakawan yang ada dilembaga-lembaga pendidikan, baik untuk Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di DIY.
5. Membangun jaringan dan promosi perpustakaan di lembaga pendidikan formal.

E. SASARAN
1. Pustakawan sekolah di DIY
2. Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan informasi
3. Instansi atau lembaga yang terkait di DIY

F. PENYELENGGARA
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Association Of Library University Students(ALUS) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan LKPI (Lembaga Konsultan Perpustakaan Indonesia).
Contact Person: 087839135581 (Sugeng Kurniawan), 08574397992 (Ikhsan)

G. WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:
Hari,tanggal : Jumat, 30 Desember 2011
Waktu :19.30 WIB- Selesai
Tempat :Halaman Perpustakaan Kota Yogyakarta, Jln. Suroto No.09 Kotabaru,
Yogyakarta

H. SUSUNAN PANITIA
Terlampir

I. SUSUNAN ACARA
Terlampir

J. ANGGARAN DANA
Terlampir

K. SUMBER DANA
1. Dana dari ALUS
2. Sponsorship/ kerjasama
3. Sumbangan tidak mengikat




L. PENUTUP
Demikian proposal ini kami ajukan, besar harapan kami untuk dapat diterima. Atas perhatian dan kerjasama Bapak/ Ibu kami mengucapkan terima kasih.
Yogyakarta, Desember 2011

Sekretaris Panitia                                                               Ketua Panitia

ISTIKOMAH                                                                IKHSANUDIN

Mengetahui,
Ketua Umum ALUS                                                       Direktur LKPI


MISBAHUL MUNIR                                               SUPRIYADI ASDAR, SIP






PANITIA KEGIATAN
REFLEKSI AKHIR TAHUN DUNIA KEPUSTAKAWANAN
ASSOCIATION LIBRARY OF UNIVERSITY STUDENTS (ALUS)
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Sterring commite :
1. Misbahul Munir (koord)
2. Sugeng Kurniawan
3. Sarofah
4. Irmawati

Organizing commite :
Ketua Panitia : Ikhsanudin
Sekretaris : Istikomah

Bendahara :
1. Nita Siti Mudawamah
2. Intan Rosyita Al Fauziah
Seksi- seksi :

Sie.Humas :
1. Ahmad Anwar(Koord)
2. Muhammad Iqbal
3. Anggiana Rohandi Yusuf
4. Nurul Setyawati Handayani
5. Amalia Nurul Fauziyah
6. Nurul Fatihah Ekawaty
7. Wahyu Setya Ningsih



Sie.Pubdekdok:
1. Afif Nur Azis (koord)
2. Herlambang Rama Dhany
3. Ridwan Nur Arifin
4. Bastomi
5. Fajar Nugraha
6. Anita Desi F
7. Retno Yuniarti

Sie. Acara :
1. Mukhlis (Koord)
2. Muari Yusni Anhari
3. Zuni Rohmawati
4. Nur Febriani Lucky
5. Linda Dwi Astuti

Sie.Konsumsi :
1. Cintantyo Yosi Putri (Koord)
2. Lutfi Mashuroh
3. Ari Diah A.
4. Maisonah
5. Deni Mey S.
6. Sudiarti Wulandari
7. Anik Rosidah
8. Setyo Budi

Sie.Pembantu Umum:
1. Fauzan Dwi Kurniawan
2. M. Kasyful Qomari

ANGGARAN DANA
REFLEKSI AKHIR TAHUN DUNIA KEPUSTAKAWANAN
ASSOCIATION LIBRARY OF UNIVERSITY STUDENTS (ALUS)
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Kesekretariatan
1. Penggandaan proposal : Rp. 50.000
2. Co Card Panitia           : Rp. 350.000
                                         Rp. 350.000
Divisi Pubdekdok
1. Tenda 2, panggung 1                 :Rp. 1.500.000
2. Kursi 150 buah x Rp. 5000       :Rp.    750.000
3. Backdrop+cover proposal         :Rp.    300.000
4. Pubdekdok                               :Rp.      50.000
                                                      Rp. 2.600.000
Divisi Konsumsi
1. Coffe Break   :Rp. 2.000.000

Divisi Humas
1. Akomodasi panitia                  :Rp. 300.000

Divisi Acara
1. Pamflet 2 Rem @ Rp. 80.000 :Rp. 160.000

Tak Terduga      :Rp. 500.000
Rekapitulasi dana
Kesekretariatan                  : RP.    350.000
Divisi Pubdekdok               : RP. 2.600.000
Divisi Konsumsi                 : RP.  2.000.000
Divisi Humas                      : RP.    300.000
Divisi Acara                       : Rp.    160.000
Tak Terduga                       : Rp.    500.000
TOTAL                                Rp. 6.000.000

SUSUNAN ACARA
19.30-20.00 Coffebreak :
• Presensi
• Hiburan
• Makan
20.00-20.30 Sambutan :
• Ketua Panitia Pelaksana
• Ketua LKPI
• Ketua Umum ALUS
• Sponsorship
20.30-21.30 Acara Utama : Diskusi Panel
21.30-21.45 Simpulan dari hasil diskusi
21.45-22.00 Penutup

Lampiran Permohonan Dana


No. : 222/ALUS/Sekpan/XII/2011 17 Desember 2011
Lamp. : 1 lampiran
Hal. : Permohonan Dana

Yth………………………………..
di tempat

Assalamu'alaikum Wr,Wb.
Segala puji syukur semoga tetap terlantunkan kepada Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmatNya kepada kita semua.
Sehubungan dengan diadakannya kegiatan Sarasehan Kepustakawanan Himpunan Mahasiswa Perpustakaan (Association Of Library University Students/ ALUS) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta maka kami mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu membantu pendanaan kegiatan tersebut yang akan dilaksanakan pada
Hari/ Tanggal : Jumat, 30 Desember 2011:
Waktu : 19.30 WIB- Selesai
Tempat : Perpustakaan Kota Yogyakarta
Demikian surat ini kami sampaikan atas perhatian Bapak/Ibu kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr,Wb.

PANITIA PELAKSANA
HIMPUNAN MAHASISWA PERPUSTAKAAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Ketua Panitia                                                                               Sekretaris


Ekhsanudin                                                                                    Istikomah

                                                    Mengetahui,
                                                   Ketua Umum


                                                 Misbahul Munir

Rabu, 07 Desember 2011

Komik dan Majalah Bergambar Memberikan Pengetahuan Positif pada Anak-anak

Kegiatan membaca adalah salah satu faktor penentu kecerdasan seseorang. Dengan rajin membaca, seseorang akan memperoleh ilmu, wawasan ataupun pengetahuan, sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi ke arah yang positif. Seperti kata pepatah ilmu adalah jendela dunia. Maka tanamkanlah sejak dini membaca buku setiap hari, setiap waktu dan setiap tempat dimanapun kita berada, karena sangat penting bagi semua orang khususnya anak-anak dalam masa pertumbuhan untuk membaca.

Tapi kebanyakan anak-anak sekarang lebih cenderung suka untuk membaca buku komik atau majalah bergambar lainnya, dari pada membaca buku pelajaran. Sehingga banyak orang tua ataupun guru yang mengeluh karena kebiasaan dan perilaku mereka. Tidak sedikit dari mereka yang nilai ujiannya menurun ataupun jelek. Karena malasnya membaca bukku pelajaran yang tebalnya 2cm bahkan ada pula yang tebal buku sampai 4-5 cm. Anak-anak pasti malas ataupun tidak suka membaca buku yang tebal-tebal dan isinya pun juga pelajaran semua.

Anak-anak juga perlu waktu untuk membaca buku setebal itu, menurut saya anak-anak juga harus ada waktu untuk bermain, karena masa anak-anak lazimnya di isi dengan bermain, yang harus dilakukan kurang lebih 40% perhari. Karena di dalam baermain akan membentuk kepekaan, jiwa sosial, perkawanan dll dengan sendirinya.

Kalau menurut saya pribadi membaca komik ataupun sejenisnya tidak salah atau tidak buruk, karena didalam komik ataupun majalah terdapat pengetahuan dan ilmu, bahkan anak-anak bisa berimajinasi dengan keinginannya atau kemauannya sendiri. Imajinasi sangat penting bagi anak-anak, apalagi dalam massa pertumbuhan. Tapi kita sebagai orang dewasa ataupun orangtua juga harus bisa mendampingi ataupun memilih bahan bacaan yang bagus, jangan sampai kita salah memberikan bahan bacaan untuk anak-anak. Hendaknya anak-anak di berikan buku bacaan yang ringan (bergambar) tapi isinya tentang pengetahuan yang bermanfaat. Seperti komik ataupun majalah mickey mouse, naruto, dragon ball, cerita nabi-nabi, galaxy luar angkasa, penemu-penemu benda bersejarah, cerita pahlawan, flora dan fauna dll.

Dengan seringnya atau banyaknya membaca komik maupun majalalah akan membentuk atau membuat anak-anak menjadi berani bercerita tentang sejarah penemuan, sejarah nabi-nabi, bentuk atau kondisi fisik dari benda maupun yang lainnya dengan sangat percaya diri, dan mengambil banyak hikmah dari membaca komik dan majalah bergambar.

Komik dan majalah bergambar benar-benar mampu meningkatkan minat baca anak-anak. Tingginya minat membaca dan kebiasaan membaca akan mendorong tumbuhnya budaya membaca. Orangtua, guru maupun orang sekitar kita memiliki peran yang sangat penting dalam upaya menumbuhkan minat baca dan membangun budaya baca dikalangan anak-anak.

Harapan saya pribadi, kedepannya semua orang bisa sadar akan pentingnya membaca, membaca tidak harus yang berat dalam artian seperti sosiologi, ekonomi, argonomi dll, tetapi buku komik atau majalah pun termasuk salah satu sumber pengetahuan yang sangat besar bagi semua kalangan terutama anak-anak. Maka mulai dari sekarang dibiasakanlah membaca buku atau bacaan lain setiap hari minimal 2 jam/hari

Oleh: Herlambang Rahma Dhany
*Herlambang adalah Sekretaris Divisi pengembangan Profesi

Selasa, 06 Desember 2011

Nasib Buku (Koleksi) Lama di Perpustakaan

Jika kita berbicara tentang koleksi, tentu berbicara tentang pengembangannya dan penambahan koleksi itu sendiri, memang ridak bisa dilepaskan dari hal tersebut jika kita berbicara tentang koleksi. Orang yang awam apa lagi, jika berbicara tentang koleksi (disini diartikan buku) diperpustakan, pasti mintanya koleksi yang baru, up to date dll. Jangankan orang awam, orang yang sudah memahami perpustakaan pun selalu berbicara tentang penambahan koleksi di perpustakaan supaya perpustakaan tersebut up to date alias “gaul”. Namun seringkah kita berpikir jika koleksi baru it uterus menerus ditambah dan koleksi yang lama masih tetap ada akan menjadikan perpustakaan menjadi gudang buku bukan lagi perpustakaan? Jangankan penggunjung, pustakawan pun akan malas di perpustakaan jika perpustakaan menjadi gudang buku. Yang perlu digaris bawahi gudang buku disini adalah koleksi yang menumpuk dan tidak mendapat tempat sehingga mengganggu knyamanan mata dalam memamndang. Ibaratnya jika gelas diisi air terus akan tumpah airnya. Apalagi perpustakan, dimana buku baru setiap tahun ada dan buku lama masih ada, hal ini benar-benar terjadi disebuah perpustakaan yang dimana selalu menambah buku baru namun tidak memikirkan buku yang lama.

Lantas bagaimana mengatasi hal tersebut? Apakah semua buku yang lama dikeluarkan dari perpustakaan? Atau menhibahkan buku? Atau yang paling ekstrim membuangnya? (yang terakhir jangan diseriusin ya?). Tentu mengeluarkan buku adalah cara yang terbaik dan tepat mengatasi masalah diatas. Namun pertanyaanya apakah semua buku lama tidak berguna? Tentu pustakawan akan pusing lagi jika dihadapkan dengan pertanyan demikian, apa lagi yang tidak memiliki basic perpustakaan yang kuat seperti yang terjadi di hamper semua perpustakan sekolah. Tentu ada solusi mengenai hal tersebut, yaitu memilah dan menggudangkan. Penulis memiliki opini tentang ruang penandonan dan gudang yang khusus untuk perpustakaan terlebih perpustakaan sekolah. Jadi intinya buku koleksi lama tersebut setelah dipilah dan dipilih dimasukkan ke gudang perpustakaan dan ruag yang ditinggalkan buku lama tadi bisa di isi buku baru. Ini akan menjadi solusi tepat untuk masalah kelebihan buku diperpustakaan. Dan jika memang buku tersebut dirasa benar-benar tidak dipergunakan lagi bisa dihibahkan. Dan kebijakanpenggudangan ini haruslah dilakukan dengan perhitungan tepat dan berkala untuk menghindari terbuangnya buku yang masih dipakai.

Mungkin itu saja yang penulis opinikan tentang nasib buku lama diperpustakan. Dan tentu saja banyak kekurangannya, terlebih lagi bagi pustakawan yang memiliki basic perpustakaan yang kuat, namun sekali lagi kita harus mengingat bahwa tidak semua pustakawan memiliki basic perpustakaan yang kuat jadi semoga opini ini dapat membantu kawan-kawan pustkawan semua dan menjadi pencerahan bagi semua.

Oleh: Fauzan Dwi Kurniawan
*Fauzan adalah mantan Ketua Umum ALUS

[berita acara] We’re what we reads… (An experience about reading promotion of ALUS)

 We’re what we reads…


Sebagai kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa program studi Ilmu perpustakaan, tentu memahami betul akan faedah dari Pembinaan minat baca. Karena pembinaan minat baca merupakan salah satu jenis pelayanan perpustakaan dalam membantu dan memberi guidance kepada para pemustaka atau masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. Pembinaan minat baca ini bertujuan untuk mengembangkan minat dan selera dalam membaca, terampil dalam menyeleksi, dan menggunakan buku, mampu mengevaluasi materi bacaan dan memiliki kebiasaan efektif dalam membaca informasi, serta memiliki kesenangan membaca.

Untuk memudahkan perpustakaan dan pustakawan dalam pengelolaan kebutuhan pelayanan dari berbagai sektor informasi, khususnya pemustaka, maka organisasi mahasiswa yang bergerak dalam bidang Pusdokinfo (perpustakaan,dokumentasi dan informasi), yang akrabnya dipanggil ALUS (Association of Library University Students), merasa terpanggil untuk melakukan sebuah gerakan mulia, yakni pembinaan minat baca, kegiatan tersebut mereka awali dari tingkat pendidikan dasar, dengan pertimbangan bahwa, peserta didik yang dibina untuk gemar membaca sejak dini, akan memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningkatkan kecerdasannya, sehingga mereka lebih mampu menjawab setiap tantangan hidup pada masa-masa mendatang. Disamping itu, kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas dalam kehidupan manusia. Karena minat baca yang mulai dikembangkan sejak dini dan berlangsung secara teratur akan tumbuh menjadi kebiasaan membaca. Sementara itu kebiasaan membaca selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi perkembangan budaya baca.
Kegiatan pembinaan minat baca tersebut di percayakan kepada DPPM (divisi pengembangan dan pengabdian masyarakat), kegiatan tersebut juga melibatkan seluruh komponen divisi serta anggota ALUS yang lain untuk ikut andil, agar pengalaman dan pemahaman pada kegiatan tersebut, dapat tersalurkan secara merata, tertib dan konsisten.

Dalam periode kepengurusan tahun 2011. ALUS telah melakukan pembinaan minat baca di berbagai tempat, diantaranya adalah SD Salamrejo dan SD Asem Cilik, pada Sabtu, 13 Agustus 2011 Pukul 09:00-15:00. Kemudian diselenggarakan juga di SDN Kalikutuk pada Sabtu, 20 Agustus 2011.Pukul 09:00-11.00, semua tempat tersebut dilaksanakan di Kab. Kulon Progo Yogyakarta. Total peserta secara keseluruhan yang ikut pada Kegiatan tersebut sebanyak 85 orang siswa, dan dihadiri oleh 16 anggota ALUS , yang bertindak sebagai pemateri, moderator dan pemandu games.

Kegiatan ini metode yang digunakan adalah sebagai mana lazimnya kegiatan proses belajar mereka di kelas, tatap muka, diskusi serta games. Kegiatan ini dilaksanakan pada dua tempat yakni ruang kelas dan ruang aula , kedua tempat tersebut dinilai sangat tepat dan kondusif serta sebelumnya memang telah dipertimbangkan serta telah diatur secara matang oleh anggota ALUS dengan pihak sekolah. Desain pembelajaran dengan model lesehan untuk menghindari kejenuhan peserta selama kegiatan berlangsung. Selain berbagai macam bentuk pemaparan yang di sajikan oleh pemateri, kegiatan ini juga kami kemas dengan mengkolaborasikan antara materi dan games yang berbentuk motivasi agar tidak terjadi ketegangan, kejenuhan serta ketidak konsentrasian dikalangan peserta.


Pada bagian akhir kegiatan ini, tim ALUS manfaatkan dengan permainan Tebak Kata, kepada para peserta, yang nantinya diharapkan untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terkait materi yang disajikan oleh Tim Pemateri, setelah itu pembentukan kelompok untuk menampilkan performent masing-masing kelompok terkait penyusunan potongan Surah-surah pendek yang terdapat pada lembaran-lemmbaran yang telah diacak dan diadakan penilaian bagi kelompok yang berprestasi, kemudian penyerahan door-prise kepada peserta yang berprestasi. Acara terakhir peserta menyampaikan pesan dan kesan oleh peserta selama mengikuti kegiatan tersebut. Kemudian para Tim Sosialisasi Minat Baca ALUS melakukan closing dengan para peserta dan pihak sekolah yang disertai dengan photo bareng-bareng. “Terus berkarya dan tunjukkan daya cipta dan kreatifitas kita bersama sebagai anggota ALUS yang sesungguhnya”.

*by Mukhlis (Kadiv. PPM 2011).

Selintas Pustakawan Perpustakaan Pemustaka

 

Kadang ketika mendengar pertanyaan seperti ; apa sih sebenarnya perpustakaan (library) itu? Jawaban yang paling sederhana sering diutarakan beberapa orang yang saya temui adalah gudang buku, tempat membaca, taman bacaan lah. Namun ada pihak yang lebih maju mengatakan perpustakaan itu adalah institusi yang memfasilitasi terjadinya interaksi ilmu pengetahuan dan dikelola dengan sistem yang baku. Nah kalau pustakawan (librarian) itu siapa sih? Pustakawan sebenarnya merujuk pada profesi perorangan atau kelompok dengan karya di bidang dokumentasi, perpustakaan, dan informasi. Bertanggungjawab untuk pemeliharaan bahan pustaka dan content di dalamnya, termasuk pemilihan, pengolahan, dan organisasi serta penyediaan informasi, instruksi, dan jasa peminjaman untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Kalau pemustaka (user/patron) siapa lagi tuh? Pemustaka tersebut melingkupi siapa saja yang menggunakan sumber daya dan jasa koleksi perpustakaan, tidak harus seseorang yang meminjam dan atau telah tercatat keaanggotaannya pada perpustakaan.

Selalu menarik tentang hal-hal yang sering dipertanyakan di atas, walaupun kadang pada keseharian kita begitu sering berhadapan dengan hal-hal tersebut. Berikut contoh ilustrasi yang terjadi di lapangan. Ketika seorang pemustaka berinteraksi dengan pustakawan pada perpustakaan umum di salah satu kota di Indonesia.

Pemustaka : “Bang Pustakawan buku yang saya cari kok ngga’ ketemu-ketemu di rak yah padahal katalog online (OPAC/Online Public Access Catalog) nunjukinnya di sana.

Bang Pustakawan pun tersenyum, lalu balik bertanya.

Pustakawan : “Maaf boleh tahu nomor klasifikasinya berapa?”

Pemustaka : “Wah nomor apaan tuh, Ane ngga’ perhatiin. Tapi judul bukunya Fungsi Pengadilan pada Zaman Mesir Kuno, nama pengarangnya Dr. Datuk Belalang, M.Si. Bang!”

Pustakawan : “Kalau tidak salah itu nomor klasifikasi 347.010 932 dengan call number BEL 347.010 932 f  adanya di rak kategori ilmu-ilmu sosial, mari Saya antar ke sana.

Bang Pustakawan mengantar pemustaka tersebut menuju tempat rak yang dimaksud, tidak beberapa lama buku yang dimaksud ditemukan. Ternyata pemustaka tersebut hanya melihat judul dan penulisnya tidak memerhatikan nomor klasifikasi koleksi yang dicari.

Pemustaka : “Semua koleksi perpustakaan itu kok pake nomor-nomor segala kayak nomor kendaraan aje.

Pustakawan : “Salah satu tujuan utama sebuah perpustakaan yaitu mengusahakan agar semua pemustaka dapat secara mudah dan langsung memeroleh koleksi yang dicari, nah nomor klasifikasi salah satu di antara alat-alat yang diciptakan untuk hal tersebut, selain katalog online tadi.”

Pemustaka : “Buat kayak gitu ada aturannya ngga’ Bang, kayak rumus gitu?”

Pustakawan : “Ada, yang sering digunakan di Indonesia adalah sistem DDC (Dewey Decimal Classification), UDC (Universal Decimal Classification), Klasifikasi Khusus Islam, dan sebagaingya tentu disesuaikan dengan kemudahan bagi perpustkaan.”

Pemustaka : “Ane kebetulan lagi ikut lomba nulis karya ilmiah tentang sistem pengadilan kuno nih Bang, bisa ngasi tahu nomor klasifikasi Kamus Sistem Tulisan dan Fonologi bahasa Yunani Klasik ngga’ Bang?”

Pustakawan : “Itu termasuk nomor klasifikasi 481.”

Pemustaka : “Wah, abang tahu juga ye, entar Ane cari sendiri deh tapi kalo kesulitan dibantu ye Bang he..he..

Pustakawan : “Dengan senang hati, oya kami juga menyediakan majalah dan jurna-jurnal sejarah, bisa pilih yang ada di online database atau yang jenis tercetak. Untuk koleksi visual di ruang audio visual terdapat film-film dokumenter sejarah seperti Persia Law 300 BC, the Alexandria Judge, Al-Ma’mun’s Law in Baghdad mungkin bisa membantu?”

Pemustaka : “Gratis kan Bang?”

Putakawan : “Iya, tentu gratis karena diperuntukkan bagi setiap pemustaka.”

Pemustaka : “Oya Bang kalo kerja di perpustakaan itu mesti sekolah tinggi atau siapa aje boleh?”

Pustakawan : “Tentunya dengan sertifikasi khusus seperti profesi lain pada umumnya, kalau kuliah ada jurusan khusus Ilmu Perpustakaan dan Informasi atau bisa juga seseorang telah mengikuti pendidikan kepustakawanan sesuai dengan standar waktu yang telah ditentukan.”

Pemustaka : “Oh gitu ye Bang, wah Ane kira siapa aje boleh dan mudah aje kerjanya. Ternyata hmmm....?”

Bang pustakawan pun tersenyum, lalu mempersilahkan pemustaka tersebut melanjutkan pencarian koleksi-koleksi yang dibutuhkan.

Dari ilustrasi di atas, hendaknya pemustaka sebelum menggunakan perpustakaan telah mendapatkan atau mengikuti program pendidikan pemakai (user education) yang di bimbing langsung oleh pustakawan. Setiap perpustakaan memiliki kebijakan tersendiri mengenai waktu dan sistem tersebut, namun pada dasarnya semua perpustakaan sepakat program tersebut bertujuan dalam mengenalkan perpustakaan lebih dalam pada setiap pemustaka. Sehingga dalam mengakses setiap informasi pada koleksi-koleksi perpustakaan tidak terhambat serius dan lebih efektif. “Mari agendakan perpustakaan menjadi salah satu tempat yang anda kunjungi hari ini. Salam pustaka salam cerdas.”


*Mantan Ketua Divisi Pers periode 2009-2010

Pelatihan SLiMS #3

Pelatihan Software Otomasi SLIMS
Sesi ke-3

WAJIB BAGI ANGGOTA ALUS!

Minggu, 04 Desember 2011

Tips Menulis Resensi



Sering denger dan membaca resensi buku atau film??? tentunya pernah dunk, hari gini gak suka baca ???? bakalan jaduL dech jadi orang..heee.... baca kan gak kudu buku- buku yang berat banget bikin kepala cenat- cenut, bisa baca artikel di majalah, surat kabar, media online, bahkan baca pikiran orang..(huehue melatih six sense....). so niy aku punya goresan dikit mengenai resensi. Sebenarnya niy tulisan copy paste, tapi ada kesimpulan dari berbagai sumber yang aku baca, jadi bukan plagiat atau mencuri pengetahuan orang lain, lagian pengetahuan itu kan gak ada yang murni menurutku..hehm...ngomong apa sich...jadi ngelantur niy...dah...mulai yaak:......
>> Apakah itu resensi????
      Resensi termasuk salah satu tulisan opini di media massa. Jika dilihat dari segi isinya, resensi berbeda dengan tulisan lain di media massa, misalnya artikel. Resensi mengulas satu objek, yaitu hasil karya jadi dari seseorang atau sekelompok orang, (Sudaryanto,2008:8-9). Kata resensi berasal dari bahasa latin revidere berarti kembali, dan dalam bahasa inggris disebut review (Soewandi:1997:ix). Oleh karena itu resensi dapat dikatakan sebuah tulisan yang berisi tentang pendapat pembaca mengenai kelebihan dan kekurangan sebuah karya orang lain, berupa buku, film, dan lain sebagainya.


>> Apa tujuan resensi??
      Ada bebrapa tujuan seseorang meresensi buku, diantaranya:
  1. Untuk menarik minat baca. Kenapa bisa begitu? ya iyalah bisa soalnya dengan  adanya resensi yang dibaca seseorang mengenai buku tertentu, misalnya novel 3 menara (hehm..sebut merk), orang lain akan tertarik untuk membaca novel tersebut yang telah dikupas abis dalam resensi, mengenai isi novel, kelebihan, kekurangan, informasi bibliografisnya, bahkan harga.
  2. Resensi bisa dijadikan panduan untuk membeli buku. Dalam hal ini pembaca yang akan membeli buku mendapatkan informasi lengkap tentang sebuah buku, so dengan adanya resensi buku dapat menghemat waktu karena tidak harus membaca lebih dalam tentang buku yang akan dibelinya, cukup dengan membaca resensinya.
  3. Resensi dapat dijadikan pedoman untuk menilai suatu buku apakah layak dibaca atau tidak.
  4. Resensi sebagai promosi buku. Dengan adanya resensi maka penerbit buku bisa melakukan promosi kepada publik.


>> Unsur- Unsur Resensi Buku
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku, antara lain:
  1. Identitas buku. Dalam dunia perpustakaan hal itu disebut data bibliografi, yang meliputi:Judul buku, pengarang, penerbit, kota terbit, tahun terbit, cetakan terbitan, tebal buku, ukuran buku, dan bisa ditambahkan cover buku.
  2. judul resensi, yaitu inti dari tulisan peresensi.
  3. gambaran umum isi buku.
  4. hasil analisis penulis, meliputi kekurangan, kelebihan, dan saran untuk pembaca.
  5. ciri bahasa yang digunakan penulis tergantung buku yang diresensi, apabila akademik ya gunakanlah bahasa akademis, atau ilmiah, atau reflektif.
  6. Manfaat yang akan diperoleh pembaca apabila membaca buku yang diresensinya. (Sudaryanto,2008:11-12)
>>So, Apa manfaatnya meresensi buku?
  1. Dapat mempublikasikan karya tulis kita di media massa.
  2. Mendapat buku dari penerbit, (seneng bukan?
  3. mendapat honor dari resensi yang berhasil dimuat di media mass
  4. melatih kita untuk menuangkan ide dan meningkatkan minat baca serta hobi

    Oleh: Sarofah
    *Sarofah Adalah Sekretaris Umum ALUS

Jumat, 02 Desember 2011

PRESERVASI KOLEKSI TERCETAK DAN DIGITAL

A.      Pendahuluan
Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan bertindak selaku penyimpanan khasanah hasil pikiran manusia. Hasil pikiran ini dapat dituangkan dalam bentuk cetak maupun non cetak (digital). dengan dituangkannya pikiran-pikiran tersebut dalam berbagai bentuk tersebut, maka akan ada kegiatan yang harus bisa merawat, menyimpan, dan menyebarkan semua itu secara terus menerus agar informasi yang ada dalam pikiran manusia tersebut bisa selalu diketahui oleh setiap orang.
  Dalam berbagai literatur dapat ditemukan istilah preservation, conservation, dan restoration. Preservation  atau pelestarian mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip, termasuk didalamnya kebijakan pengolahan, keuangan, sumberdaya manusia, metode dan teknik penyimpanannya. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian arsip tersebut. Restoration atau pemugaran mengacu pada pertimbangan serta cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak (Sulistyo-Basuki, 1991:271).

B.       Pembahasan
1.        Pengertian Pelestarian
Pelestarian (preservation) adalah sistem pengolahan dan perlindungan pada bahan pustaka, dan atau tugas maupun pekerjaan untuk memperbaiki, memugar, melindungi, dan merawat bahan pustaka, dokumentasi, arsip maupun bahan informasi serta bangunan perpustakaan (Lasa, 2009:233-234).
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:853), pelestarian adalah pengawetan (sumberdaya alam, budaya, dsb) agar terjamin kehidupannya sepanjang masa. Hal ini diperkuat oleh pendapat Wendy Smith dalam Purwono (2009:2.17) yang mengatakan pelestarian atau preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang umur bahan pustaka dan informasi yang ada didalamnya.
Menurut International Federation of Library Association (IFLA) memberi batasan definisi pelestarian (Sudarsono, 2006:314).
1.Pelestarian (Preservation). Mencakup semua aspek usaha melestarikan   bahan pustaka dan arsip. Termasuk didalamnya: kebijakan pengelolaan,  keuangan, ketenagaan, metode dan teknik, serta penyimpanan.
2.Pengawetan (Conservation). Membatasi pada kebijakan dan khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.
3.Perbaikan (Restoration). Menunjuk pada pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak.
  Dari penjabaran beberapa pengertian tentang preservasi, konservasi, dan restorasi dapat dikatakan bahwa konservasi dan restorasi adalah bagian dari kegiatan preservasi itu sendiri, akan tetapi kegiatan preservasi tidak dimasukkan ke dalam istilah konservasi dan restorasi karena adanya batasan dari masing-masing istilah tersebut.
Sedangkan pelestarian didefinisikan sebagai seluruh kegiatan yang dilakukan oleh setiap lembaga atau institusi dalam mempertahankan semua koleksi itu dapat bertahan lama dan menyelamatkan informasi yang terkandung didalam koleksi tersebut agar tetap bisa diakses oleh pemustaka.

2.        Unsur, Tujuan, dan Fungsi Pelestarian
Menurut Martoatmodjo (1993:7), berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:
a)Manajemen: Siapa yang bertanggung jawab dalam kegiatan ini dan bagaimana prosedur pelestarian yang akan diikuti.
b)Tenaga yang merawat bahan pustaka dengan keahlian yang mereka miliki.
c)Laboratorium, ruang pelestarian beserta peralatannya seperti alat penjilidan, lem, alat laminasi, alat untuk fumigasi, pembersih debu dan sebagainya.
d)Dana untuk kegiatan yang selalu dimonitor dengan baik, agar kegiatan pelestariantidak mengalami gangguan.
Sedangkan tujuan pelestarian bahan pustaka menurut Martoatmodjo (1993:5), dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.Menyelamatkan nilai informasi dokmen.
2.Menyelamatkan fisik dokumen.
3.Mengatasi kendala kekurangan ruang.
4.Mempercepat perolehan informasi: dokumen yang tersimpan dalam CD (Compact Disc) sangat mudah untuk diakses, baik pada jarak dekat maupun jarak jauh.
Sementara itu, menurut Sulistyo-basuki, (1993:271), tujuan pelestarian bahan pustaka dan arsip adalah untuk melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dan arsip dengan alih bentuk menggunakan media lain atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan secara optimal.
Sedangkan fungsi pelestarian ialah menjaga agar koleksi perpustakaan tidak rusak karena gangguan manusia,  dan serangan serangga atau jamur yang merajalela pada ruangan yang lembab. Menurut Martoatmodjo (1993:6), jika disimpulkan maka pelestarian memiliki beberapa fungsi antara lain adalah:
a.Fungsi melindungi, yaitu melindungi bahan pustaka dari serangan serangga, manusia, jamur, panas matahari, air, dan sebagainya.
b.Fungsi pengawetan, yaitu merawat bahan pustaka agar tetap awet dan tahan lama untuk digunakan oleh pengguna.
c.Fungsi kesehatan, yaitu dengan pelestarian yang baik bahan pustaka menjadi bersih, bebas dari debu, jamur dan berbagai sumber penyakit, sehingga pemakai ataupun pustakawan terjaga kesehatannya.
d.Fungsi pendidikan, yaitu pemakai perpustakaan dan pustakawan itu sendiri harus belajar bagaimana cara merawat dokumen.
e.Fungsi kesabaran, merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua, jadi harus sabar.
f.Fungsi sosial, bahwa pelestarian tidak bias dikerjakan oleh seorang diri. Pustakawan harus mengajak pengguna untuk tetap merawat bahan pustaka.
g.Fungsi ekonomi, yaitu dengan pelestariaan yang baik, bahan pustaka akan lebih awet, keuangan dapat dihemat.
h.Fungsi keindahan, yaitu penataan bahan pustaka yang rapi, perpustakaan dapat menjadi lebih indah sehingga dapat menambah daya tarik pembacanya.

3.        Langkah-langkah Dalam Pelestarian Koleksi
Dalam pelestarian koleksi ada beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan agar koleksi tersebut tetap terjaga dengan baik. Untuk koleksi tercetak, langkah langkah seperti yang dikutip dari Lasa (2009:163) sebagai berikut:
1.        Reproduksi
Reproduksi dalam pengertian ini adalah usaha reproduksi bahan pustaka dengan cara fotokopi, pembuatan bentuk mikro, dan pembuatan duplikasinya. Biasanya, bahan pustaka yang perlu direproduksi meliputi koleksi langka, penting, bernilai historis, serta mudah rusak.
2.        Penjilidan
Penjilidan ini dilakukan lantana sampulnya mudah rusak, terlalu tipis, atau terlepas jilidannya.
3.        Laminasi
Penyampulan ini dilakukan dengan cara memberikan pelindung plastik atau bahan lainnya agar bahan pustaka itu tidak sobek dan hancur.
4.        Penyiangan
Penyiangan adalah proses pengeluaran buku dari jajaran koleksi suatu perpustakaan. Pengeluaran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa koleksi itu tidak diminati lagi, sudah ada edisi baru, atau bertentangan dengan kebijakan pemerintah dan etika masyarakat.
5.        Fumigasi
Fumigami atau pengasapan bertujuan untuk membunuh jamur maupun serangga yang tumbuh pada bahan kertas. Fumigami dapat dikalsanakan dalam kotak, lemari fumigami, ruang fumigami, ruang penyimpanan arsip, ruang perpustakaan, maupun ruang deposit.
Berbeda dengan pelestarian koleksi tercetak, untuk menunjang pelestarian koleksi digital maka dilakukan startegi-strategi dalam pelaksanaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, menurut Pendit (2009:102) ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu :
a.     Refreshing, yaitu men-copy file-file digital dari satu media ke media penyimpanan lain akan tetapi masih dapah satu sejenis.
b.     Migration, yaitu mentranster data digital dari satu konfigurasi hardware/software kebentuk yang lainnya atau dari atu komputer ke generasi komputer yang lebih baru.
c.    Emulation, yaitu penyegaran sistem secara berkala agar dapat terus membaca data digital yang direkam dalam berbagai format dari berbagai versi.
d.   Reformatting, yaitu kegiatan mengubah konfigurasi data digital tanpa mengubah kandungan isi intelektualnya.

C.      Penutup
Dari pembahasan di atas maka ada dua pelestarian yang kita bisa lakukan. Pertama yaitu pelestarian bentuk fisik dokumen yang diselenggarakan dengan pengurangan tingkat keasaman, pembuatan laminasi  dan enkapsulasi, restorasi dokumen dan lainnya. Yang kedua ialah pelestarian nilai informasi dokumen dengan alih bentuk. Informasinya tidak hilang meskipun bentuk kemasannya diubah dari kertas ke bentuk yang dianggap lebih efisien misalnya bentuk mikro dan video disk ataupun dengan cari melakukan alih media. Tujuan keduanya tetaplah sama, yakni selalu berusaha agar koleksi tersebut bisa diakses selama mungkin, serta informasi yang ada di dalamnya tidak hilang.
  

Daftar Pustaka
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Lasa, H.S. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
_________. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
Martoatmodjo, Karmidi. 1993. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Pendit, Putu Laxman. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Jakarta: CV. Sagung Seto.
________. 2008. Perpustakaan Digital dari A Sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
_________. 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Purwono. 2009. Materi Pokok Dasar-dasar Dokumentasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
________. Strategi Teknologi Pelestaria Bahan Pustaka. (artikel). Diberikan pada Program Ilmu Perpustakaan dan Informasi Program S1 Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga pada semester IV tahun 2009.
________. Pelestarian Jangka Panjang dan Aksesibilitas Kandungan Informasi Dengan Teknologi. (artikel). Diberikan pada Program Ilmu Perpustakaan dan Informasi Program S1 Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga pada semester IV tahun 2009.
Sudarsono, B. 2006. Analogi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
__________. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Remaja Rosdakarya.



*Nasirullah adalah mantan sekretaris Divisi Pengembangan Profesi periode 2010-2012